Ladies Traveler

Perempuan Juga Bisa Keliling Dunia


November 17, 2009

NEVER GIVE UP!!

Berawal dari serial Oshin

Sewaktu saya masih kecil, di televisi sedang diputar serial Jepang yang pemeran utamanya bernama Oshin. Dan saya salah satu penggemar serial itu. Walaupun saat itu saya kurang mengerti dengan jalan ceritanya (maklum, masih kecil), namun saya begitu menyukai serial Oshin karena settingnya di Jepang.

Jepang, Jepang dan Jepang. Hanya ada satu kata itu yang terngiang dalam benak saya.

Waktu itu ibu saya pernah bertanya pada saya, ”kalau udah gede, mau sekolah dimana?”

”Jepang”, jawab saya spontan, tanpa tahu Jepang ada di belahan bumi mana, tapi yang jelas, Jepang ada di luar negeri dah pokoknya, dan saya ingin ke luar negeri… tanpa tahu juga bagaimana cara untuk mewujudkannya. (dasar pikiran anak kecil! J).

Seiring waktu yang terus bergulir, tentunya usia saya juga bertambah dong… Bayangan tentang Jepang sedikit-demi sedikit hilang dari pikiran saya. Terlebih lagi, dengan kesibukan saya sebagai seorang siswa (ceileh, sok sibuk banget sih… tapi bener kok, emang sibuk…) yang berusaha menjalani kehidupan sesuai realita yang ada (duh, bahasanya… hehehe…).

Semenjak Sekolah Dasar saya termasuk siswa yang aktif baik dalam kegiatan akademis maupun ekstrakurikuler. Selain les-les beberapa mata pelajaran yang harus saya jalani saya juga menjabat posisi penting di beberapa organisasi di sekolah, contohnya: ketua koperasi dan ketua pramuka kelompok mawar (SD), sekretaris OSIS, ketua MPK (SMP), pengurus KIR (SMP&SMA), Kadiv. Kepribadian dan Budi Pekerti Luhur OSIS (SMA), pengurus Paskibra (SMA). Konsentrasi saya habis untuk mikirin pelajaran disela-sela kegiatan ekstrakurikuler yang saya jalani (eh, kebalik ya? Tapi kenyatannya kayak gitu, gimana dong?? Hehehe…).

Saat SMA sempet denger sih beberapa kakak kelas atau temen yang ikutan AFS dan tinggal satu tahun di luar negeri, tapi program ini kurang menarik minat saya karena bahasa inggris dan nilai akademik saya yang pas-pasan. So, Jepang udah bener-bener hilang dari pikiran saya karena konsentrasi saya sudah habis untuk kegiatan yang lebih riil.

Dunia Baru di Bangku Kuliah

IPB, salah satu top five university di Indonesia. Mottonya mencari dan memberi yang terbaik. Dan saya termasuk yang terbaik (nggak bermaksud sombong lho ya…) yang bisa masuk IPB dengan jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) atau bahasa yang lebih populer dengan jalur PMDK. Kota baru, sekolah baru, kehidupan baru, aktivitas baru dan tentunya teman-teman baru.

”Vinaaa, akhirnya aku minggu depan berangkat juga ke Jerman and Swiss. Ada World Congress disana…”

“Eh, tahu gak sih bo, si anu kan ikutan Agria Swara, dia sekarang lagi di Hungary buat jadi salah satu participant di International Choir Contest di sana”

“Udah tau kabar terbaru belom? Si ini lolos seleksi student exchange ke Jepang lho!”

“Alhamdulillah, paperku diterima untuk jadi salah satu speaker di International Student Conference di OHIO University, sebulan lagi aku kesana”

OMG!! Pada makan apa sih mereka kok kayaknya gampang banget dapet kesempatan ke luar negeri?? Saya nggak mau kalah, saya juga harus bisa ke luar negeri saat kuliah!! (dengan semangat 45 nih ceritanya…)

Nggak lama setelah saya mendeklarasikan keinginan pribadi itu, dosen saya menyarankan saya untuk ikut seleksi pertukaran mahasiswa ke Jepang.

Seperti kata pepatah, pucuk dicinta ulam tiba. Saya segera mencari informasi tentang program student exchange ke Jepang. Setelah membaca beberapa buku panduan yang ada di Direktorat Kerjasama Internasional di IPB, Hmmm… saya kurang begitu tertarik…

Tapi, saya tetap cerita pada ibu saya tentang dosen yang menyarankan saya untuk ikut seleksi student exchange ke Jepang, lalu ibu saya mengingatkan saya tentang keinginan saya untuk bersekolah di Jepang sewaktu saya masih kecil.

Dan tanpa sadar ingatan saya kembali pada Oshin. Dan ya, saya semakin membulatkan tekad untuk bisa ke luar negeri juga seperti teman-teman saya yang lain. Tapi, nggak harus ke Jepang karena sekarang ini saya kurang begitu tertarik dengan Jepang. Saya lebih tertarik untuk menjelajah negera-negara ras kaukasoid.

Beasiswa Unggulan Aktivis

Beasiswa ini merupakan salah satu program beasiswa yang ditawarkan oleh Diknas. Hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang menjabat sebagai ketua, sekretaris dan bendahara di suatu organisasi kampus. Walaupun saya tetap jadi salah satu aktivis kampus, tapi saat itu, jabatan saya hanya Kadiv. Infokom himpunan profesi jurusan. Tentunya, saya sudah tidak lolos persyaratan pertama donk…?

Tapi saya nggak nyerah, saya nekad mengirimkan semua berkas yang dibutuhkan untuk ikut seleksi beasiswa unggulan aktivis di detik-detik terakhir penerimaan aplikasi beasiswa.

Salah satu teman saya sempat mengingatkan saya untuk ”tahu diri” dengan jabatan saya, tapi saya tidak menghiraukannya. Saya hanya bilang sama dia ”apa salahnya usaha, kalo udah rejeki, nggak bakalan kemana kok…”.

Saya masih ingat, satu malam di bulan Ramadhan, saya dapat sms dari pihak kemahasiswaan IPB yang mengabarkan kalo saya lolos seleksi IPB untuk program beasiswa unggulan aktivis dan saya berhak ikut seleksi selanjutnya di Diknas. Saya juga diminta untuk secepatnya melengkapi berkas aplikasi beasiswa saya yang kurang lengkap. Awalnya saya nggak percaya, takut ada orang iseng yang ingin ngerjain saya dengan ”melambungkan saya sampai ke langit ke tujuh, setelah itu menghempaskan saya lagi sampai ke dasar sumur”… (hahaha, lebay yah??)

Untuk memastikan, sms itu benar, saya menelepon nomor yang meng-sms saya itu, mendengar yang berbicara di seberang sana adalah pak Parta (salah satu staf kemahasiswaan IPB yang cukup saya kenal) saya jadi yakin kalau sms tadi bukan dari orang iseng.

Saya memperbaharui aplikasi dan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk selanjutnya dikirim ke Diknas dan diseleksi oleh Diknas lalu ditentukan apakah saya layak mendapatkan beasiswa itu atau tidak.

And, the result is… eng, ing, eng…

Malam ketiga menjelang Idul Fitri tahun 2007, saat saya sudah mudik lebaran ke kampung halaman di salah satu desa di Jawa Timur, dosen saya mengirim sms pada saya. Isinya singkat, padat dan jelas. ”Selamat Vina, kamu lolos seleksi Diknas untuk Beasiswa Unggulan Aktivis”

Saya lolos seleksi Diknas! Saya lolos Seleksi Diknas! Sekali lagi, saya LOLOS seleksi Diknas!!!

Selesai membaca sms itu, saya langsung lompat-lompat, sambil teriak-teriak kegirangan. Saya langsung menemui ibu saya lalu memeluknya dan memberitahunya dengan agak belepetan karena terlalu banyak kata yang ingin keluar dari mulut saya secara bersamaan. Ibu saya bangga pada saya.

Saya memperoleh beasiswa unggulan aktivis yang salah satu programnya adalah student exchange ke negara Asean.

Akhirnya… mengikuti jejak beberapa teman yang lain, saya ke luar negeri juga (ini untuk pertama kalinya saya ke luar negeri)… dan yang lebih penting adalah membuktikan bahwa keputusan saya kali ini untuk “nggak tahu diri” adalah benar!

Saya girang bukan kepalang. Beasiswa ini memberikan kesempatan saya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di negeri orang.

Belum Puas

Emang udah sifat dasar manusia yang selalu merasa belum puas dengan apa yang sudah dicapainya. Itu juga yang saya rasakan. Keinginan untuk ke luar negeri memang sudah jadi kenyataan, tapi…saya belum puas hanya dengan ke Malaysia… Saya ingin ke negara yang kalau kesana, saya harus rela duduk di pesawat selama belasan jam. Terlebih lagi, pengalaman pernah mendapat beasiswa yang salah satu programnya adalah student exchange, memompa kepercayaan diri saya. Saya ingin ke luar negeri lagi.

Saya memutar otak dan mencari informasi kemungkinan-kemungkinan yang bisa mewujudkan impian saya. Akhirnya saya jadi rajin browsing menggunakan keyword “international conference”, “student exchange”, dan “student internship” pada situs search engine.

Kegagalan demi Kegagalan itu…

ISFiT -International Student Festival in Trondheim, Norway-

Norwegia, salah satu negara Skandinavia. Tak banyak yang saya tahu tentang negara itu. Tapi satu hal yang saya yakini kalau Norwegia pasti dingin parah (kan deket sama kutub utara). Ah, nggak penting Norwegia seperti apa, yang penting, saya bisa ke Norwegia dan menjejakkan kaki di Eropa. Tanpa berpikir terlalu lama, saya langsung apply untuk bisa jadi salah satu participant di kegiatan bergengsi yang diadakan setiap dua tahun sekali ini. Saya melengkapi semua persyaratan yang dibutuhkan, termasuk membuat beberapa essay. Saya sangat berharap saya bisa dipilih oleh panitia untuk jadi salah satu peserta ISFiT.

Sekitar satu bulan lebih saya menunggu, akhirnya email yang saya tunggu-tunggu datang juga. Dag-dig-dug, dag-dig-dug, rasanya dada ini mau meledak saat memperoleh email dari panitia ISFiT. Saya langsung buka email itu, dan membacanya dengan cepat.

Hasilnya? Saya merupakan salah satu dari ribuan applicant lain yang aplikasinya DITOLAK.

Saya gagal jadi bagian di ISFiT. Impian untuk ke Norwegia langsung hancur berkeping-keping (lebay…).

Kecewa? Jangan ditanya… Mati-matian saya bikin beberapa essay, tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Yah, belum saatnya kali ya. Saya yakin Allah selalu memberikan yang terbaik untuk saya, dan Allah belum mengizinkan saya ke Norwegia karena mungkin ada rencana lain yang jauh lebih indah untuk saya…

IELSP -International English Language Study Program, USA-

Program beasiswa 8 minggu belajar bahasa Inggris di universitas – universitas ternama di Amerika, sekaligus mempelajari kebudayaan dan kebiasaan orang Amrik. Siapa coba yang mau ikutan program seperti itu?? Saya langsung menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan untuk mendaftar beasiswa ini. Dan lagi-lagi, saya harus membuat beberapa essay plus “berburu” letter of reference dari beberapa dosen.

Seperti biasa, di injury time saya baru selesai menyiapkan aplikasi saya. Saya mengantar sendiri semua berkas aplikasi itu ke lembaga yang memberi program beasiswa ini di Jakarta. Dari informasi yang saya tanya pada petugas yang menerima berkas saya, applicant yang lolos seleksi administrasi akan ditelepon dan di-email untuk lanjut ke seleksi berikutnya, yaitu seleksi wawancara. ”Jadi mbak tinggal tunggu dapet telepon aja ya…” kata petugas itu dengan sangat ramah.

Minggu demi minggu, saya nunggu telepon. Sampai pada hitungan bulan, nggak ada juga telepon dari lembaga bersangkutan untuk saya.

Dan, suatu hari, entah pada minggu keberapa saya lupa, di ruang TV tempat kost saya…

”Eh, tau si anu nggak? Dia mau ke US lho”, kata teman saya, A membuka pembicaraan.

”Oh ya? Iya, aku kenal si anu. Yang anak Fakultas X itu kan? Dalam rangka apa?”, saya menanggapi info yang diberikan teman saya dengan antusias.

”Itu, IELSP, kalo nggak salah program yang delapan minggu belajar bahasa Inggris itu lho… Tahun ini anak IPB yang dapet program itu ada 3 orang”, jawabnya.

Deg. Saya langsung melongo. Yah… kok udah ketauan siapa yang dapet sih?? Berarti saya nggak dapet beasiswa ini donk… Artinya, saya GAGAL… Bahkan seleksi administrasi pun saya nggak lolos?? Ya Ampun…

Kecewa? Pasti, tapi kekecewaan gagal kali ini nggak seperti yang pertama. Saya bisa lebih cepat menghadapi kekecewaan ini dengan hanya berkata dalam hati ”oh, ya udah, belom rejeki…”

EWB -Education without Border, Dubai-

Konferensi mahasiswa tingkat internasional yang tema utamanya tentang pendidikan. Vina bang…gets J. Ya, saya salah satu mahasiswa IPB yang aware dengan masalah pendidikan.

Tanpa pikir panjang, saya langsung apply. Seperti biasa, saya harus membuat beberapa essay.

Oke, oke, saya ngaku dulu deh… Dengan bangga saya katakan kalau saya GAGAL (lagi).

Tapi tau nggak apa yang bikin ”perburuan ke luar negeri” kali ini lebih istimewa dari sebelumnya? Pasti nggak tau kan? Ya iyalah, saya kan belum cerita.

Setelah apply secara online untuk bisa ikut konferensi ini, ternyata ada bagian yang terlewati belum saya isi, dan saya tidak menyadarinya. Sebenarnya saya sudah tidak terlalu memikirkan tentang aplikasi EWB saya itu. Saya berpikir, kalau misalnya saya diundang untuk menghadiri konferensi itu, ya Alhamdulillah, tapi kalo nggak diundang, ya nggak masalah… Yang penting saya sudah usaha.

Setelah berminggu-minggu semenjak aplikasi saya kirim ke panitia EWB, ternyata saya dapat email dari mereka. Isi emailnya mereka meminta saya untuk segera melengkapi bagian yang terlewati diisi pada aplikasi tersebut kalau saya ingin diundang datang ke konferensi itu. Wah, interpretasi saya saat itu adalah, aplikasi saya sudah diterima dan saya tinggal melengkapi bagian yang belum diisi. Dengan segera, saya melengkapi bagian itu.

Waw, waw, waw, Dubai, Dubai… Kota itu sudah menari-nari di pikiran saya. Saya sudah menyusun strategi nyari dana untuk biaya tiket pesawat (biaya hidup, seperti tempat tinggal, makan dan transport lokal selama konferensi berlangsung, ditanggung oleh pihak panitia. Tetapi biaya pesawat Jakarta-Dubai-Jakarta, ditanggung sendiri oleh peserta).

Beberapa hari setelah saya melengkapi form aplikasi saya dengan sangat lengkap kap kap, saya dapat email lagi dari panitia EWB, saya pikir itu official invitation dari mereka. Tapi, betapa kagetnya saya saat mengetahui kalau email itu isinya permohonan maaf mereka bahwa saya belum bisa jadi participant EWB!! OMiGod!!! Gagal maning, gagal maning…

Never Give Up!!

Bukan Vina namanya kalau sekali saja gagal langsung nyerah, nggak mau nyoba lagi. Karena bagi saya, lebih baik gagal dari pada nggak pernah nyoba sama sekali. Kalo kita nyoba, peluang kita satu, walaupun satu banding bertriliun-triliun, kita masih punya peluang (kesempatan), untuk pencilan satu itu yang bakalan keluar jadi pemenang. Tapi kalo nggak nyoba, peluang kita nol, nol, sekali lagi NOL (lebay lagi ya?? Sengaja, untuk mendramatisir… hehehe… :P).

Nol berarti kosong, kita nggak punya peluang sama sekali. Nggak ada kesempatan sama sekali. Dan yang lebih ekstrim lagi adalah, kita udah kalah sebelum bertarung! Hanya pecundang dan pengecut yang boleh kalah sebelum bertarung, yang boleh nyerah sebelum mencoba!! Dan Alhamdulillah saya tidak memiliki mental seperti itu.

Kesempatan Terbaik dari Tuhan

ISWI -International Student Week in Ilmenau, Germany-

Saya tahu kalau ada program ini dari salah satu mailing list yang saya ikuti.

Wow, Jerman. Saya langsung tergoda setelah tahu di negara mana konferensi mahasiswa tingkat internasional yang diadakan setiap dua tahunan ini akan berlangsung. Tanpa pikir panjang, saya langsung membuat beberapa essay yang diminta oleh panitia dan apply secara online. Setelah melakukan aplikasi, yang ada di benak saya adalah “untung-untung berhadiah”. Artinya, nyoba-nyoba aja, kalo untung, berhadiah ke Jerman. Hahaha… 😛

Karena waktu itu saya sibuk dengan tugas-tugas, UAS, dan persiapan pernikahan kakak saya yang kedua, saya lupa dengan aplikasi ISWI ini. Saya baru kembali ke dunia kampus setelah proses pasca pernikahan kakak saya beres.

Kembali ke dunia kampus, berarti kembali pada berbagai rutinitas khas mahasiswa, salah satunya yaitu rutinitas online J. Yang pertama kali saya lakukan saat saya online adalah cek email. Karena sudah beberapa minggu nggak online (maklum, di rumah nggak ada koneksi internet dan malas ke warnet), ada beberapa email yang masuk. Setelah menghapusi beberapa email yang kurang penting, ada satu email yang mencuri perhatian saya. Dengan ekor mata bagian bawah, saya mengkap kalimat “you’re invited”. Lalu, dengan segera saya memutar scrool mouse. Takjub saya membaca berulang-ulang subjek email itu “YOU’RE INVITED!”, lalu saya membaca kolom sebelah kirinya untuk mengetahui email itu dari siapa. Dan benar, dari ISWI committee!! Finally…

Ya, akhirnya keyakinan saya dijawab oleh Allah. Dibalik semua kegagalan yang pernah saya lewati. Allah menyimpan rencana besar yang jauh lebih indah. Terima kasih ya Allah… Engkau selalu member yang terbaik untuk saya… J

Bogor, 29 Oktober 2009, 04:48
~Okvina Nur Alvita

Disela-sela proses ngedit draft kedua proposal skripsi.

4 thoughts on “NEVER GIVE UP!!

  1. tian limbong says:

    saya akan menyusul juga, kak.. next year will be my year.. yeah!

  2. andi says:

    mbak punya tipsnya ga biar keterima di ISWI? essainya harus dibuat gimana ya mbak biar menarik perhatian panitian dan diterima,,heheehe

  3. olivia says:

    Hi saya juga diterima di ISWI.
    Ada saran untuk mendapatkan travel support dari mana?
    ditunggu balasannya vina.

    =)

  4. Rumpaka says:

    Terima kasih kak vina atas tulisan kakak yang membuat saya semangat untuk belajar. Saya adalah salah satu mahsasiswa STIS. Saya pengen banget belajar di luar negeri, tapi orang tua ingin saya kuliah di StIs yang sama sekali tidak sesuai dengan minat dan bakat saya. Tetapi, tulisan kakak membuat saya semngat belajar biar bisa cepet2 lanjut uliah s2 di luar negeri. terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *