Ladies Traveler

Perempuan Juga Bisa Keliling Dunia
Asia | Cerita Traveling

Dikelabui Tukang Becak (Cyclo) di Ho Chi Minh City, Vietnam

March 20, 2010
Hari kedua di Vietnam, pastinya saya tidak mau buang-buang waktu dong… Saya rencanakan untuk explore HCMC dengan bus atau jalan kaki. Dari info di internet yang saya dapat, saya harus ke Ben Than Market dulu, disana ada banyak petugas tourism pake seragam warna hijau yang helpful banget dan akan ngasih peta HCMC gratis ke para turis, so saya bisa explore sendiri HCMC dan biar berasa “backpacker”-nya… 🙂
Jam 07.30 saya turun ke receptionist hotel, saya nanya tentang internet service dan mereka bilang kalau internet gratis buat tamu hotel ini. Karena nggak mau rugi, saya langsung nyerbu internet untuk sekedar cek email dan cek cek account couch surfing dan hospitality club. But you know, ternyata komputernya cuman satu! Ya udah akhirnya saya gantian sama si Nisun. Waktu Nisun lagi ngenet, saya melihat paket tour yang disediakan oleh travel agent yang ada di hotel. So, saya langsung nanya-nanya
Cu Chi Tunnel (half day)                                 $5
Cu Chi Tunnel-Cao Dai Temple (1 day)             $7
Mekong Delta (1 day)                                      $10
HCMC tour (1 day)                                          $10
Karena saya tahu dari internet kalau cu chi tunnel itu agak jauh dari HCMC, jadi sepertinya saya akan ikut paket tur saja. Terus saya juga melihat ada paket bus AC HCMC-Phnom Penh $12. Karena setelah HCMC rencana saya langsung lanjut ke Phnom Penh, saya juga nanya schedule bus ini. Ternyata bus ke Phnom Penh itu cuman ada jam 07.00, 08.00, 11.30, 15.00 dengan jarak tempuh sekitar 6 jam.
Saya inginnya sih hari ini ambil paket Cu Chi Tunnel-Cao Dai Temple, terus besok paginya city tour sendiri dan ngambil paket bus jam 3 ke Phnom Penh. But the unfortunately is the tour package for today is fully booked! Ya sudah, akhirnya saya memutuskan untuk menambah jatah menginap selama satu hari di HCMC, dan tanggal 6 pagi baru ke Phnom Penh.
And you know what? Ternyata di sekitar Bui Vien itu ada banyak travel agent, gak cuman di hotel yang saya tinggali. So, sebenarnya saya bisa aja cari paket cu chi tunnel-cao dai temple untuk hari ini di travel agent lain, malah ada beberapa travel agent yang lebih mura! Paket cu chi tunnel-cao dai temple ada yang cuman $6… huhuhu, kan lumayan pengiritan satu dolar… Tapi karena sudah terlanjur booking dan bayar di travel agent yang ada di hotel, jadi nggak mungkin kan untuk ngebatalin… oke, have fun aja deh susur kota on foot… 😛
Saya tidak menyiapkan peta HCMC dari Indonesia karena dari internet saya tahu kalau akan ada petugas yang ngasih peta HCMC secara gratis di Ben Tanh Market. Dari peta direction hotel yang saya punya dari kartu nama hotel, Ben Tanh Market itu nggak jauh dari hoteldan karena saya pede dengan mental map saya, saya yakin kalau saya bisa kesana tanpa harus tanya-tanya sama siapapun.
Saya jalan kaki dan akhirnya sampai di garden dekat Ben Than Market, tinggal nyebrang aja. Lalu lintas di HCMC ternyata sangat padat, terutama dengan sepeda motornya, bikin saya takut buat nyebrang. Saat saya akan nyebrang, tiba-tiba ada tukang becak (cyclo) nyamperin saya, dia menawarkan jasanya. Tapi langsung saya tolak.
Dia tanya, “kamu mau kemana?”
Saya bilang, “saya mau ke Ben Than Market”
Lalu dia menunjukkan kalau Ben Than Market ada di depan sana.
Saya dan Nisun sudah mau meninggalkan dia dan menyebrang jalan, tapi tiba-tiba ada satu tukang cyclo yang nyamperin kami lagi. Dia bilang kalo dia bakalan mengantar kami ke tiga tempat, Saigon River, Notre Dame, War Museum, dan dia juga bisa mengantar kami ke Hongkong Market kalau mau belanja yang murah-murah. Si Nisun yang emang niat banget mau belanja, langsung membulat matanya waktu denger tempat belanja murah. Awalnya I was really not interesting at all. Tapi dia terus bilang “two-fifty thousand dong a half hour to three places”. Terus saya mikir, 50.000VND setengah jam ke tiga tempat untuk dua orang. Berarti kan cuma Rp.12.500,- (1VND= Rp.2,- berarti 50.000VND= Rp.25.000, berarti lagi Rp.25.000 untuk berdua= Rp.12.500 per orangnya) ke tiga tempat dalam setengah jam. Nggak mau rugi dong saya, tapi saya meyakinkan lagi soal harga dengan bilang “two (sambil nunjuk ke badan saya dan badan Nisun) fifty thousand dong?”
Dia bilang “yes… I’ll take you to this place, this place and this place (sambil nunjuk brosur becak dia) and we’re a good cyclo (sambil nunjuk tanda jempol yang ada di brosur)”.
Saya masih ragu, tapi sudah mulai terpengaruh.
“I’m not bullshit. I’ve guided a lot of tourist”, dia bilang seperti itu sambil nyodorin buku (seperti agenda) yang isinya testimonial dari banyak orang yang sudah naik cyclo-nya. Ada orang Jerman, Aussie, Italy, Singapore, dan lain-lain, termasuk ada satu orang Indonesia.

saya naik cyclo

Saya jadi percaya sama dia. Soalnya dia meyakinkan banget dan bahasa Inggrisnya lumayan bagus untuk ukuran tukang becak (saya mikirnya dia itu seperti tukang becak di Jogja) dan orangnya juga nyenengin, friendly banget. Akhirnya saya percaya, apalagi setelah ingat kata sahabat saya, dia senang kalau misalnya saat traveling ada penduduk local yang ramah dan mau ngeguidein (seperti yang sudah pernah saya dan sahabat saya alami saat kami sedang traveling ke Ciwidey-Bandung, dan sekarang saya nemuin orang yang seperti itu di negeri orang).

So, saya jalan-jalan keliling HCMC dengan cyclo. Tukang cyclo ini namanya Tam. Sepanjang perjalanan Tam selalu bilang “no bullshit”, “I’m a good driver”, “happy…”, “you’re very lucky”, “no bullshit, “no bullshit”, “no bullshit” lagi…
Tempat yang pertama saya kunjungi adalah Saigon River, terus langsung ke Notre Dame Cathedral dan War Museum. Sepanjang perjalanan saya benar-benar terkagum-kagum sama HCMC. Tata kotanya Eropa banget dan masih terjaga. Nggak rugi Vietnam dijajah Perancis selama ratusan tahun! Taman kotanya, pedestrian area-nya, café-cafenya, gedung-gedungnya, Eropa banget deh! Dari War Museum Tam nggak langsung nganter saya ke Hongkong Market, dia malah ngajak saya ke apa Pagoda gitu (saya lupa nama pagodanya). Saya dan Nisun sudah mulai curiga, kok sudah lebih dari setengah jam ya? Saya mikirnya paling nanti dia juga minta nambah sedikit… Setelah dari Pagoda, dia nganter saya ke Hongkong Market. Saya mikirnya dari Hongkong Market saya tinggal bayar dan dia akan ninggalin saya disitu. Tapi ternyata nggak, dia nunggu saya. Di Hongkong Market barangnya memang murah-murah, jadi Hongkong Market itu sama seperti tanah abang kalau di Jakarta. Tapi kami nggak beli apa-apa di Hongkong Market. Dari Hongkong Market, yang seharusnya kami langsung balik ke tempat semula, tukang cyclo itu masih muter-muterin kami ke Saigon River lagi, tapi another side-nya, yang kumuh dan airnya sampai hitam karena limbah, persis sama sungai-sungai yang ada di Jakarta!
Setelah itu tiba-tiba dia berhenti di satu tempat/kedai minum gitu. Saya ngerasa aneh banget, lalu saya tanya ke si Tam “ngapain kita berhenti?”
“saya lapar seharian kerja dan ingin minum dulu”, jawab Tam.
Saya sudah maksa untuk nggak mau dan minta dianterin ke hotel saja, tapi dia bersikeras juga untuk mampir dulu sekedar minum sebentar. Akhirnya saya nurut. You know what?? Dia minum bir!! OMG, baru kali ini saya lihat tukang becak minum bir. Saya sudah parno aja disuruh ngebayarin minum dia, nggak bakalan saya bayarin! Dia nawarin saya untuk minum juga, tapi ya jelas saya tolak mentah-mentah lah, mau ibadah saya nggak diterima selama 30 hari apa? Terus selama dia minum dia nyuruh saya untuk nulis testimoni buat dia dalam bahasa Indonesia tentang service dia. Ya saya tulis aja yang baik-baik, yang friendly lah, good driver lah, ini lah, itu lah… terus dia maksa saya untuk nulis no bullshit, maksa banget! Ya sudah saya turutin aja. Terus waktu saya lihat lembar-lembar sebelumnya, ada beberapa orang yang nulis 1 hour= 500.000VND. Saya bingung dan saya sudah mulai pusing, bukannya 50.000VND ya?
Lalu akhirnya dia ngomong soal pembayaran. Dia bilang, dia sudah nganter saya selama 4 jam dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang, tarif perjamnya 500.000VND jadi saya harus bayar 2.000.000VND per person (dia ngomong two million dong dengan entengnya, nggak ada beban, kurang ajar banget deh!)!! 4.000.000VND untuk dua orang. What?? Saya mendadak langsung pusing parah, migraine saya kumat, dan saya juga masih bingung.
Saya bilang ke dia, “bukannya tadi pagi kamu bilang 50.000VND untuk dua orang ke tiga tempat dalam setengah jam?”
“No, two fifty a half hour”
Oh my God, saya baru sadar kalau two-fifty maksud dia itu dua ratus loma puluh. Saya yang terbiasa dengan bahasa Inggris baku kalau bilang dua ratus lima puluh itu two hundred and fifty jadi nggak “ngeh” kalau two fifty itu maksudnya juga dua ratus lima puluh… Dan tadi juga bukannya sudah saya pastkan ke dia kalo 50.000VND untuk dua orang? Dan dia bilang iya. Ternyata itu cuman akal-akalan dia aja! Damn! (maaf ya, saya sebenarnya nggak pernah nulis kata-kata kasar. Jadi kalau saya sudah bilang begini berarti hal ini sudah diluar toleransi saya)
Saya bingung harus gimana, pengennya sih saya mau kabur, tapi saya nggak tahu sekarang posisi saya ada dimana… Terlebih lagi saya takut bikin masalah dengan orang lokal. Nanti kalau saya diapa-apain gimana coba?
“I’m not lied, I said two-fifty a half hour, this is the rate of cylco”, dia bilang seperti itu sambil nunjuk harga di brosur yang tadi pagi ditunjukkan pada kami. Disana memang jelas sekali tertulis 500.000NVD/hour, 250.000/half hour.
Kurang ajar banget si Tam itu!! Dia benar-benar sengaja mengelabui saya dan Nisun. Tarif cyclo yang ada di brosur itu letaknya ada di bawah. Dan waktu tadi pagi dia nunjukkin brosurnya itu sambil ditekuk, jadi tarifnya nggak kelihatan. Nah, sekarang baru dia nggak nekuk brosurnya dan kelihatan lah dengan jelas berapa tariff sebenarnya! Damn! Dia benar-benar sengaja ngakal-ngakalin kami!

Ini dia si Tam "cyclo-shit" itu!! Sayang fotonya dari belakang, jadi nggak kelihatan mukanya...

Saya bilang, “saya bukan orang kaya dan saya nggak punya uang sebanyak itu, saya nggak bisa bayar kamu sebanyak itu”
Eh, dia malah bilang, “kamu bisa bayar pake dolar kok, saya yakin kamu bawa dolar kan?”
Shit! (sekali lagi, maaf, saya benar-benar kesal) Kurang ajar banget dia!
“Ya udah, kamu nggak perlu bayar 4.000.000VND, saya kasih potongan 1.000.000VND, jadi 3.000.000VND aja untuk dua orang”
“Tapi saya tetap nggak punya uang sebanyak itu, saya cuman punya 300.000VND”
“Ya sudah, bayar pakai dolar saja, $150!”, dia mulai marah-marah (lho?).
Kami masih tawar-tawaran harga, dia marah-marah. Saya jadi tambah takut. Akhirnya saya dan Nisun bayar dia $140 ($70/orangnya). Tapi tentunya kami bayar dengan teramat sangat tidak ikhlas! Nggak bakalan barokah deh duit itu!
And you know apa lagi yang si Tam itu lakuin ke kami? Dia nggak mau nganter kami ke hotel! Shit!! Benar-benar cyclo-shit!!
Akhirnya kami harus jalan kaki sampai ke hotel setelah tanya-tanya ke beberapa orang gimana caranya untuk sampai ke daerah Bui Vien di district 1.
Untuk Anda yang akan traveling ke Vietnam, hati-hati sama cyclo. Jangan sampai mengalami hal yang sama seperti yang saya alami. Apalagi sama tukang cyclo-shit yang namanya Tam itu! Kalau mau jalan-jalan keliling kota, mending jalan kaki atau naik bus aja yang harganya cuman 3000VND sekali naik, atau bisa juga ikut paket tur yang disediain travel agent, itu lebih safe…
Semoga apa yang saya alami ini bisa jadi pembelajaran untuk orang lain dan traveling saya selanjutnya. Dan semoga uang saya itu akan diganti sama Allah lebih banyak, nggak tahu gimana caranya… hehehe, ngarep… 😀
Ho Chi Minh City, 5 Februari 2010
~Okvina Nur Alvita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *