Ladies Traveler

Perempuan Juga Bisa Keliling Dunia
Review Hotel dan Villa | Uncategorized

The Bali V (Bali Vivere) Hotel and Villa: a cozy place to stay in Seminyak-Bali

By on January 9, 2014

Seminyak, salah satu area yang cukup terkenal di Bali, terutama bagi kalangan bule. Kalau orang lokal sih jarang banget yang notice sama daerah Seminyak ini. Karena kalau turis domestik (lokal), yang ada di top of mind-nya kalau nggak Kuta ya Legian. So, banyak yang nggak “ngeh” kalau di Bali juga ada satu area yang namanya Seminyak.

Anyway, bagi saya pribadi yang sudah hampir 4 tahun tinggal dan menetap di Bali, saya suka dengan area Seminyak. Deretan toko/butik dan juga resto-resto yang ada di Seminyak unik-unik dan enak aja diliatnya. Trus bule yang malang melintang di Seminyak juga nggak seperti bule-bule di Kuta. Mereka lebih terlihat bersih dan jauh dari kata bule backpacker. Wajar aja sih karena sebagian besar penginapan yang ada di Seminyak kelas bintang 3 keatas semua…

Ngomong-ngomong soal penginapan yang ada di Seminyak, sudah jadi rahasia umum kalau disana penginapannya bagus-bagus dan juga mahal pastinya. Karena kebanyakan hotel-hotel bintang 3 keatas atau villa. Bisa kebayang kan harganya berapa… eh tapi, ditengah-tengah penginapan di Seminyak yang harganya selangit, ada lho 1 penginapan yang bagus dengan harga yang tidak terlalu mahal, The Bali V (Bali Vivere) Hotel.

The Bali V Hotel terletak di jalan Braban, Seminyak-Bali. Konsep hotel ini awalnya adalah villa. Jadi jumlah kamar yang ada nggak banyak, hanya ada 9 kamar. Jumlah kamar yang sedikit ini kalau menurut saya malah enak lho karena bikin suasana berasa lebih private. Seperti hotel di Bali pada umumnya, The Bali V Hotel memiliki Fasilitas restoran (walaupun nggak terlalu gede) dan kolam renang.

Bulan Desember kemarin saya berkesempatan untuk menginap di hotel ini. Yang saya suka dari hotel ini adalah, di kamar mandinya ada bathtub-nya. Dengan harga yang tidak terlalu mahal dan lokasi yang bagus, agak surprise aja hotel ini menyediakan bathtub di kamar mandinya. Mengingat sekarang ini hotel di Bali berkonsep modern-minimalis. Sehingga memanfaatkan lahan yang ada untuk jumlah kamar yang semaksimal mungkin, jadi sesuatu yang makan lahan banyak (seperti bathtub) dihilangkan oleh pihak pengembang hotel. Tapi hal ini tidak dilakukan sama The Bali V hotel. Mantap kaann…

Kalau menurut saya, The Bali V Hotel cocok banget untuk para honeymooners yang memiliki budget untuk honeymoon nggak terlalu tinggi. Mengapa demikian? karena seperti sudah saya jelaskan di atas, hotel ini kamarnya sedikit, jadi bikin suasana lebih private. Trus harganya juga masih masuk dalam kategori terjangkau untuk ukuran kantong orang Indonesia. Dan yang pasti, kamarnya ada bathtub-nya! Soalnya biasanya kan orang-orang yang lagi bulan madu nyari hotel yang ada bathtub-nya tuh… Secara pasti capek banget kan abis acara nikahan, pengennya yang relax gitu sambil berendam di bathtub. Ya kan?

The Bali V (Bali Vivere) Hotel
The Bali V (Bali Vivere) Hotel
The Bali V (Bali Vivere) Hotel
The Bali V (Bali Vivere) Hotel
Kamar Hotel The Bali V (Bali Vivere)
Kamar Hotel The Bali V (Bali Vivere)
Kamar Hotel The Bali V (Bali Vivere)
Kamar Hotel The Bali V (Bali Vivere)
View dari bathtub kamar hotel The Bali V (Bali Vivere)
View dari bathtub kamar hotel The Bali V (Bali Vivere)

Saya rekomendasikan The Bali V (Bali Vivere) Hotel and Villa jika para travelers ada yang mau berlibur di Bali. Karena hotel ini menurut saya merupakan salah satu tempat yang nyaman untuk melepas kepenatan dari rutinitas sehari-hari saat berkunjung ke pulau Dewata-Bali.

Continue Reading

Cerita Traveling

Cantiknya Sumatera Barat (Edisi Bukittinggi)

By on December 16, 2013

Okay, fine… Perjalanan ini memang saya lakukan tahun 2010 yang lalu. Itu artinya sudah lebih dari tiga tahun yang lalu. Tapi nggak ada salahnya kan kalau saya masih ingin bercerita tentang kisah perjalanan saya saat itu? This is it…

Perjalanan ke Bukittinggi saat itu adalah rangkaian dari petualangan saya mengunjungi Medan (Sumatera Utara). Saat itu saya berpikiran “sayang banget kalau cuma ke Medan doang… kenapa nggak sekalian aja ke Padang dan Bukittinggi?”. Akhirnya jadilah saya menyertakan Padang dan Bukittinggi dalam rangkaian Tour de Sumatera saya kala itu.

Untuk mencapai Bukittinggi atau Padang, saya memilih menggunakan transportasi darat yaitu bus. Kenapa saya memilih bus? Ya apalagi alasannya kalau bukan karena murah. Bus adalah transportasi yang termurah saat itu karena kalau menggunakan pesawat, pilihannya harus transit di Jakarta dan harganya bisa dibayangkan kan berapa kali lipatnya bus.

Di peta Indonesia memang sih jarak antara Medan dan Bukittinggi nampaknya tidak terlalu jauh, tapi setelah dijalani ternyata butuh waktu sehari semalam! Lumayan juga ya bikin pantat mendadak tipis di jalan, hahaha…

Anyway, perjalanan saat itu tidak terlalu terasa berat karena saya ditemani oleh kedua teman saya Reza dan (alm.) Budi. Saya berangkat dari Medan sekitar pukul 2 siang dan tiba di Bukittinggi sekitar jam segitu juga keesokan harinya. Di Bukittinggi kami dijemput oleh ibu teman baik kami, Ola. Tidak hanya dijemput, kami juga diijinkan untuk numpang menginap di rumah beliau dan tentunya dijamu dengan masakan khas Padang (salah satunya rendang) yang terenak yang pernah saya makan (sampai saat ini). Nggak cuma itu juga, ibunya Ola juga berbaik hati mengajak kami jalan-jalan ke Danau Maninjau. Baik banget khaannn… Ibunya Ola TOP deh pokoknya!

Jam Gadang

Jam Gadang, icon dari Bukittinggi atau Padang atau Sumatera Barat yang paling terkenal. Jangan pernah bilang sudah ke Padang, apalagi ke Bukittinggi kalau belum ke Jam Gadang. Jadinya, malam hari saat baru sampai di Bukittinggi saya, Reza dan (alm.) Budi langsung diajak sepupunya Ola untuk jalan-jalan ke Jam Gadang. Amazing, satu kata yang selalu terbersit di benak saya ketika bisa menginjakkan kaki di icon suatu daerah. Itu pula yang saya rasakan saat sampai di Jam Gadang.

 

Di pasar yang dekat dengan Jam Gadang ini banyak penjual camilan dan minuman khas Bukittinggi. Saat itu saya mencoba satu camilan yaitu pisang kapit. Kalau minumannya, air tawa, enak deh.

Puncak Lawang

Esok paginya saya memulai petualangan kami ke Danau Maninjau, namun sebelumnya, kami diajak ke Puncak Lawang terlebih dahulu. Di Puncak Lawang ini kita bisa melihat keindahan Danau Maninjau dari atas. Danau Maninjau yang merupakan danau vulkanik sangat indah bila dilihat dari ketinggian. Beneran deh keren banget pemandangan yang bisa kita lihat dari Puncak Lawang ini. Kalau diibaratkan dengan yang ada di Bali, Danau Maninjau sama dengan Danau Batur, dan Puncak Lawang itu sama dengan Kintamani. Biar nggak penasaran seperti apa itu Puncak Lawang, langsung lihat aja foto di bawah ini ya…

 

Danau Maninjau

Setelah puas memandangi Danau Maninjau dari Puncak Lawang, saatnya untuk turun ke bawah. Yap, kami menuju Danau Maninjau. Dari Puncak Lawang ke Danau Maninjau kami harus melewati kelok ampek-ampek atau kelok 44. Kenapa dinamai kelok 44? Karena jalanannya berbelok-belok dan ada 44 belokan (tikungan). Spot tertentu di kelok 44 terdapat banyak monyet. Jadi kalau ada dari travelers yang mau hunting foto monyet atau mau kasih makan monyet atau sekedar menyamakan muka dengan monyet (ups, sorry… hehehe…), semua itu bisa dilakukan di kelok 44 ini.

Selesai melewati ke empat puluh empat belokan itu, maka kita akan sampai di area Danau Maninjau. Sejuk atau lebih tepatnya lumayan dingin akan kita rasakan di Danau Maninjau. Sama seperti danau pada umumnya, Danau Maninjau airnya tenang. Banyak orang yang memancing di danau ini. Over all, jujur menurut saya setelah sampai di Danau Maninjau, perasaan yang saya rasakan biasa aja. Tidak se-amazing saat masih di Puncak Lawang tadi. walaupun demikian, at least saya sudah pernah ke Danau Maninjau langsung.

 

Ngarai Sianok

Setelah puas menikmati keindahan Danau Maninjau, saatnya naik lagi ke atas. Kami diantar ke Hotel Gran Malindo. Hahahaha, saya sudah tau apa yang ada di otak travelers semua, pasti pada mau ngetawain kan karena mana mungkin backpacker kere macam saya ini bakalan menginap di hotel. Eits, jangan salah, berkat kebaikan hati bundaTatty Elmir dan bapak Elmir Amin, saya dan kedua teman saya menginap di hotel tersebut. Karena kebetulan pada saat yang bersamaan keluarga beliau juga sedang berlibur ke Padang. Alhamdulillah ya… Kalau pada penasaran saya bisa kenal mereka semua dari mana, semua itu keluarga besar FIM (Forum Indonesia Muda).

Okay, balik lagi ke cerita saya di Bukittinggi. Ternyata eh ternyata, Hotel Gran Malindo itu posisinya nggak jauh Goa Jepang dan itu artinya didepannya adalah Ngarai Sianok!

Ngarai Sianok, dulu saya cuma bisa membaca dan mendengar tentang Ngarai (lembah) satu ini. Saya cuma bisa membayangkan betapa besarnya Ngarai Sianok. Dan ternyata setelah melihat langsung dengan mata kepala saya sendiri, eh beneran lho gede banget. Benar-benar takjub saya dibuatnya! (Hehehe… mulai deh noraknya kumat). Biar bisa ngebayangin gimana gedenya Ngarai Sianok, langsung lihat aja foto dibawah ini ya.

Lobang Jepang

Nah, kalau Lobang Jepang ini ceritanya additional aja dari daftar tempat wisata yang sudah saya susun. Bahkan saya sebenarnya nggak memasukkan Lobang Jepang dalam daftar tersebut. Cuma karena saat itu lokasi hotel nggak jauh dari Lobang Jepang, jadilah Dira (putri dari bunda Tatty Elmir dan bapak Elmir) mengajak kami untuk kesana.

Sejujurnya, saya nggak terlalu suka sama tempat ini karena Lobang Jepang merupakan goa buatan. Di benak saya kalau sudah mendengar yang namanya goa, saya akan merasa sesak napas dan pastinya akan sedikit ketakutan. Entahlah, goa menurut saya termasuk sesuatu yang menyeramkan. Dan benar saja, saat masuk ke dalam Lobang Jepang, saya merasakan dingin. Dingin yang saya rasakan sih sebenarnya wajar karena yang namanya goa kan pasti dingin. Tapi tiba-tiba saya jadi agak parno aja waktu melihat ruangan-ruangan di dalam goa yang sebagian dipakai untuk penjara para tawanan tentara Jepang kala itu.

Kalau ke Bukittinggi lagi, saya nggak mau deh ke Lobang Jepang lagi. Cukup sekali saja waktu itu.

***************

Kadang ada rasa nggak percaya di benak saya. Saya bisa mengunjungi tempat-tempat yang dulunya cuma saya baca atau saya dengar. Semua itu bisa saya wujudkan karena nekad. Tapi kenekadan saya tentu masih ada perhitunggannya. Nggak asal nekad.

Dan satu lagi, selain nekad, saya juga berdoa. Karena saya yakin dan telah membuktikan, “When you work, you work. When you pray, God works”.

Continue Reading

Thoughts

Tentang Travel Online

By on November 21, 2013

Suami saya seringkali dimintain pendapat dan masukan sama beberapa orang temannya yang ingin bikin web travel. Mungkin teman-teman suami saya itu tergiur oleh kehidupan kami yang KELIHATANNYA santai tapi duit tetap ngalir dan jumlah armada transport kami yang pelan tapi pasti selalu bertambah.

Siapa coba yang nggak pengen kerjaannya setiap hari online terus, di rumah aja, sore jalan-jalan sambil bawa anak main, bisa tidur siang, tapi tetap ada pemasukan. Pasti semua orang ingin memiliki hidup yang menyenangkan seperti itu, ya kan?

Anyway, saya seringkali ingin tertawa, atau mencibir atau senyum sinis sama orang yang berpikiran dengan dia bikin web, online tiap hari, tamu akan deal dan rekening kita mendadak kebanjiran transferan dari orang. Kalau misalnya bisa seperti itu, mungkin saya dan suami akan tidur pulas tiap malam tanpa beban dan kekhawatiran akan ini-itu yang bisa terjadi besok, lusa, minggu depan, bulan depan, dan seterusnya.

Nih, saya kasih tau apa yang sebenarnya ya.

Yang namanya orang usaha, atau bahasa kerennya “entrepreneur” harus selalu menghadapi yang namanya ketidakpastian. Hanya dengan punya web travel aja sangat tidak akan menjamin kita bakalan dapat pemasukan. Mengapa demikian? Karena berikut ini alasannya:

Web kita belum tentu ada di halaman pertama web search engine. Ini kaitannya dengan SEO (search engine optimization). Jika konsumen mengetikkan beberapa keyword di web search engine seperti google, apa iya web travel kita akan muncul di halaman pertama? Belum tentu! harus ada jasa SEO untuk maintain web kita biar bisa masuk ke halaman 1. Dan untuk bayar jasa SEO itu teramat sangat tidak murah.
Untuk gampangnya, biar nggak ribet sama yang namanya SEO, kita harus pasang iklan di google. Nah, harus butuh modal untuk biaya promosi kan?
Setelah tamu/customer nemuin web kita dan akhirnya menghubungi kita untuk bertanya ini-itu kemampuan seorang customer service (CS) yang menjadi ujung tombak deal atau tidaknya transaksi kita dengan customer tersebut. Kemampuan CS untuk membuat customer merasa nyaman dan yakin kalau kita bukan penipu sangat dibutuhkan, mengingat kita adalah travel online yang customer nggak tahu keberadaan kita ada dimana. Kalau terjadi apa-apa mereka mau complain ke siapa??? Mau nuntut kemana??? Ribet kann…

Itu dari segi web travel online-nya. Jangan dikira hanya dengan online semua perkara akan selesai dengan sendirinya. Ada sisi offline yang harus kita lakukan juga. Sisi offline itu antara lain: jalin kerjasama dengan maskapai, jalin kerjasama dengan hotel/villa, jalin kerjasama dengan aktifitas-aktifitas wisata, jalin kerjasama dengan transport, jalin kerjasama dengan restoran, dll. Oh iya, yang paling penting adalah jalin kerjasama dengan travel lain. Semua kerjasama tersebut nggak bisa terjalin hanya dengan satu-dua hari saja. Butuh berbulan-bulan dan bisa jadi bertahun-tahun. Apalagi untuk saya yang saat ini berdomisili di Bali dan memfokuskan usaha kami untuk “jualan” Bali, otomatis kami sangat perlu menjalin semua kerjasama itu. Kerjasama yang dimaksud nggak hanya sekedar masalah administrasi lho ya. Lebih dari itu adalah urusan trust antar satu sama lain. Contoh konkretnya gini, ada satu kenalan transport kami yang masih tidak mempercayakan armada ELF Long-nya dilepas kuncikan pada kami sampai akhirnya ia melihat sendiri suami saya bisa mengemudikan kendaraan sekelas, sebesar dan sepanjang ELF Long.

Masalah offline yang lainnya adalah urusan after sales. Kami juga harus siap sedia akan adanya complain dari customer atau saat customer melakukan cancel/reschedule dari bookingannya. Saat customer complain, maka kita harus siap sedia dengan omelan dan amukan customer karena jasa yang dia terima tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Kalau sudah begini jangan serta merta mengiyakan keluhan customer. Karena ada beberapa customer yang memang mau cari-cari masalah atau benar-benar ingin “mengeruk” si penyedia jasa  padahal hal tersebut tidak termasuk di dalam detail jasa yang seharusnya dia peroleh. Nah, untuk menghadapi customer yang model begitu, biasanya kami cross check sana-sini terlebih dahulu sebelum akhirnya meminta maaf pada si customer dan mengganti apabila ada yang memang dirugikan. Kalau untuk urusan cancel dan reschedule biasanya banyak terjadi pada bookingan tiket pesawat. Travel lain pada umumnya paling malas mengurus hal ini. Mereka membiarkan customernya mengurus hal ini sendiri. Tapi jika ingin memberikan service excellence pada customer, ya kita harus siap untuk membantu customer jika memang benar terjadi pembatalan atau penggantian jadwal penerbangan.

Hal-hal yang saya ceritakan diatas hanya sebagian besar yang harus dipersiapkan jika memang ingin buka travel online. Kenyataannya, jauh lebih ribet dari yang saya tuliskan. Karena tetap ya yang namanya orang usaha kan pasti ingin keuntungan yang sebesar-besarnya. Tapi jangan sampai hal itu membuat service kita ala kadarnya. Karena yang pasti customer juga menginginkan service yang sebaik-baiknya.

Fiuuuhhh… Ribet juga ya ternyata punya travel online. Nggak semudah yang dibayangkan ya… So, masih mau ikutan bikin travel online juga? Hehehe…

Continue Reading

Cerita Traveling

Explore Sumatera Utara – Cerita Backpackeran ke Medan, Bukittinggi dan Padang

By on October 21, 2013

Medan (Sumatera Utara), siapa yang tak kenal dengan ibu kota provinsi Sumatera Utara ini? Saya yakin, orang Indonesia setidaknya pernah mendengar kota Medan. Sebagai orang Indonesia, saya beruntung perah mengunjungi Medan pada tahun 2010. Dengan memanfaatkan tiket promo dari salah satu maskapai LCC (Low Cost Carrier) yang ada di Indonesia, Juni 2010 saya terbang dari Jakarta menuju Medan.

Amazing, satu hal yang selalu saya rasakan saat menginjakkan kaki di tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumya. Itupun juga yang saya rasakan ketika menginjakkan kaki di Bandara Polonia Medan saat itu. Dari Jakarta memang saya hanya seorang diri, namun di Medan sudah ada dua orang teman saya, Reza dan (alm.) Budi, yang menjemput di Bandara. Karena hari sudah larut saat saya sampai di Medan ketika itu, maka dari bandara saya langsung menuju rumah (alm.) Budi untuk numpang menginap dan baru keesokan harinya saya akan menjelajah kota Medan dan sekitarnya.

Air Terjun Sipiso-Piso

Hari kedua saya di Medan, penjelajahan saya mulai dengan mengunjugi Air Terjun Sipiso-Piso. Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 120m ini ternyata lumayan jauh dari pusat kota Medan. Saya harus melewati beberapa kota kecil dan beberapa area perbukitan untuk bisa sampai di Air Terjun Sipiso-Piso. Tapi untung juga, karena ternyata untuk bisa sampai ke Air Terjun Sipiso-Piso, saya harus melewati Brastagi. Jika diibaratkan, Brastagi itu sama dengan Puncak-nya Bogor. Kan lumayan, “sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui”.

Narsis dulu di depan pusat kota Brastagi
Narsis dulu di depan pusat kota Brastagi

Sampai di area air terjun Sipiso-Piso ternyata perjuangan saya belum berakhir, karena saya harus turun tebing kalau ingin melihat dari dekat Air Terjun ini. Jangan dibayangkan kalau saya akan terjun bebas untuk menuruni tebing tersebut ya, karena ada jalan setapak plus tangga yang kadang landai, kadang juga cukup curam, tapi pastinya bikin kaki saya sakit nggak karu-karuan! (ketauan deh kalau jarang olah raga).

Ssesampainya di bawah, tepat di depan air terjun Sipiso-Piso, rasa capek dan sakit di kaki langsung terbayar. Bagaimana ya menggambarkan keindahan air terjun yang satu ini… Yang pasti, di depanmu akan ada air sangat bening yang jatuh dari tebing yang sangat tinggi, suaranya memang cukup memekakkan telinga tapi menimbulkan kesan tersendiri. Di tebing sekitar air terjun bagian bawah ditumbuhi tumbuhan (entah apa namanya) menjalar yang membuat air terjun Sipiso-Piso menjadi lebih cantik.

Sungguh, air terjun Sipiso-Piso “worth  it” banget untuk dikunjungi bagi siapapun yang sedang traveling ke Medan.

Jalan setapak menuju air terjun Sipiso-Piso
Jalan setapak menuju air terjun Sipiso-Piso

Air Terjun Sipiso-Piso
Air Terjun Sipiso-Piso

Danau Toba

Danau Toba, icon Medan (Sumatera Utara) yang paling terkenal. Tidak lengkap rasanya jika ke Medan belum ke danau Toba. Maka saat saat itu, danau Toba masuk ke dalam daftar tempat wisata yang wajib saya kunjungi. Ternyata, di depan air terjun Sipiso-Piso ada Danau Toba! Wah, bener-bener “sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui nih”. Memang, bagian danau Toba yang ada di depan air terjun Sipiso-Piso bukanlah bagian danau Toba yang terkenal (Parapat), tapi bagian di area Tongging. Tapi setidaknya cukup lah untuk cerita kalau “Saya sudah pernah lho ke danau Toba”. Hehehe…

Saat melihat secara langsung danau Toba, saya seperti bukan sedang melihat sebuah danau, tapi saya serasa melihat lautan luas yang tak berujung. Ternyata gede banget danau vulkanik satu ini sampai takjub saya dibuatnya.

Saat di area air terjun Sipiso-Piso, saya melihat danau Toba dari area yang lebih tinggi. Yang saya lihat saat itu adalah genangan air yang sangat besar dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi. Kemudian saya turun ke bawah untuk menyentuh secara langsung air dari danau Toba. Nggak tau kenapa saya sangat ingin sekali menyentuh secara langsung air danau Toba. Dari area air Terjun Sipiso-Piso ke depan danau Toba ternyata cukup jauh juga. Harus melewati jalan lembah yang berkelok-kelok. Walaupun demikian, kita akan dimanjakan dengan panorama yang sangat mengagumkan. Apalagi ada beberapa spot yang menampilkan air terjun Sipiso-Piso dari kejauhan dan itu indah banget.

Sampai di depan danau Toba, saya serasa sedang ada di pantai memandang laut lepas. Ya, saking gedenya danau Toba sampai saya yakin siapapun yang pernah kesana pasti akan merasa seperti bukan melihat danau, tapi laut karena kita nggak bisa melihat batas danau tersebut. Keren banget deh danau Toba.

Saya suka dengan danau Toba yang dekat dengan air terjun Sipiso-Piso ini (area Tongging). Mengapa? karena bukan touristic area jadi tidak ramai oleh wisatawan domestik maupun asing. Jadi saya merasa lebih nyaman aja gitu menikmati panorama alam yang sungguh luar biasa indahnya.

Jalan menuju danau Toba dari air terjun Sipiso-Piso
Jalan menuju danau Toba dari air terjun Sipiso-Piso

Danau Toba
Danau Toba

City Tour Medan

Keesokan harinya jadwal saya untuk meninggalkan Medan dan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Tapi karena bus yang akan membawa saya menuju Bukittinggi baru berangkat sore hari, maka saya jelas nggak mau rugi dong. Jadilah saya city tour kota Medan ditemani teman saya, Reza.

City Tour kota Medan dimulai dengan mengunjungi Masjid Raya Medan. Setelah itu saya dan Reza menuju ke area Kesawan. Masjid Raya Medan menurut saya bagus, megah dan memiliki nilai seni tersendiri untuk ukuran sebuah masjid. Di depan masjid ini saat itu banyak sekali penjual makanan kaki lima. Tapi sayangnya saya nggak sempet nyicipin “street food” kota Medan karena dikejar waktu. Nah, yang saya suka adalah area Kesawan. Saya suka dengan Kesawan karena area ini merupakan “old town”-nya Medan. Saya yang suka sekali dengan kota tua, tata kota bekas kolonial dan bangunan-bangunan bergaya Eropa jelas saja langsung jatuh hati pada tempat ini. Sayangnya saya menikmati Kesawan hanya sebentar dan harus buru-buru supaya tidak tertinggal bus yang akan membawa saya ke Bukittinggi.

Masjid Raya Medan
Masjid Raya Medan

Bangunan bergaya Eropa di Kesawan-Medan
Bangunan bergaya Eropa di Kesawan-Medan

Medan (Sumatera Utara), sama seperti Bali, adat, keindahan alam, budaya dan peradaban sangat kental di dalamnya. Yang pasti Medan “worth it” banget buat jadi salah satu destinasi liburan bagi para travelers. Saya aja mau banget lho kesana lagi, apalagi kalau pas di danau Toba nginepnya di Taman Simalem Resort, wuiihhh… siapa yang nolak… Hehehe… 🙂

Continue Reading

Thoughts | Uncategorized

I Love Bali

By on September 23, 2013

Jember, Bogor, Bali (Denpasar). Saya pernah tinggal di tiga kota itu. Dan yang terakhir adalah yang saat ini jadi tempat tinggal saya. Dari 3 tempat tersebut, saya merasa paling nyaman tinggal di Bali.

Sejak tahun 2010 saya pindah domisili dari Bogor ke Bali. Awalnya saya merasa biasa-biasa aja tinggal di kota ini. Tapi lama kelamaan saya jadi jatuh cinta sama Bali. Dan sekarang, setiap saat saya jadi makin jatuh cinta sama Bali.

Untuk masalah keindahan alam, jangan ditanya lagi. Bali punya semuanya. Mau pemandangan pantai, dari ujung utara ke selatan ke barat ke timur, pasti ketemu sama yang namanya pantai. Pengen lihat atau ngerasain nuansa pegunungan, tinggal pergi aja ke Bali tengah. Urusan panorama alam, semuanya komplit ada di Bali.

Itu hal kasat mata yang bisa kita nikmati dari Bali.

Bedugul - Bali
Bedugul – Bali

Tapi sejujurnya bukan hal kasat mata itu yang bikin saya jatuh cinta banget sama pulau ini. Tapi ada banyak hal tak kasat mata yang saya rasakan setelah menetap 3 tahun di pulau nan cantik ini.

Yang pertama adalah tentang toleransi umat beragama di Bali. Menurut saya, Bali menempati posisi tertinggi untuk urusan toleransi antar umat beragama. Kita disini jarang banget tidak pernah ngeributin yang namanya agama. Malah sebaliknya, antar umat beragama di Bali saling menjaga satu sama lain. Saat ada salah satu ormas keagaaman yang terkenal brutal dan anarkis mau masuk Bali, maka umat muslim se-Bali melayangkan surat terbuka untuk bersama pecalang akan menahan kedatangan ormas tersebut di beberapa titik yang memungkinkan mereka untuk masuk ke Bali. Contoh lain, saat perayaan hari Raya Nyepi jatuh pada hari Jumat. Maka umat muslim tetap boleh melaksanakan sholat Jumat di masjid terdekat dengan rumahnya, namun dihimbau untuk tidak menggunakan pengeras suara untuk tidak mengurangi kekhikmat-an umat Hindu yang sedang Nyepi. See… Indahnya toleransi umat beragama di Bali…

Hal kedua, di Bali tidak ada gedung pencakar langit. Tinggi bangunan di Bali tidak boleh melebihi tinggi pohon kelapa. Itu merupakan aturan adat orang Bali. Tidak adanya gedung yang menjulang tinggi di Bali jujur bisa menyejukkan pandangan mata saya dan mengurangi tingkat stress yang saya rasakan. Di Jakarta misalnya, banyak banget kan gedung-gedung tinggi disana, yang saya rasakan orang-orang di Jakarta pada sibuk dan buru-buru terus, plus muka-muka mereka sepertinya menyimpan banyak beban dan stress. Beda sama di Bali yang nyantai dan orang-orangnya seperti menikmati hidup semua. Hehehe…

Hal ketiga, di Bali saya bebas pakai baju seperti apapun tanpa takut (amit-amit) terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti perkosaan. Mungkin karena orang-orang Bali sudah terbiasa dengan bule yang pakai pakaian minim kali ya, jadi wanita pakai baju seperti apapun, bahkan cuma pakai bikini sekalipun, tidak akan ada tatapan melecehkan dari orang lain, terutama laki-laki.

Yang pasti, saya merasa lebih tenang dan damai di Bali.

I Love Bali….

Continue Reading

Asia | Cerita Traveling

ASEAN TRIP: Nekad Menjelajah 5 Negara dalam 17 Hari, Modal 4 Juta!

By on August 31, 2013

THE BEGINNING

Cerita ini berawal pada tahun 2009 ketika salah satu teman baik saya (Irvan), ngajakin saya untuk traveling ala backpacker. Ya, saat itu istilah backpacker masih belum terlalu nge-hits seperti sekarang ini. Kami sama-sama mahasiswa tingkat akhir yang cukup dibuat muak dengan kehidupan sehari-hari karena harus berkutat dengan yang namanya skripsi, sangat butuh sesuatu untuk penyegaran otak. Akhirnya Irvan mengusulkan idenya untuk berkelana menyusuri tempat-tempat yang belum pernah kami kujungi dengan budget yang terbatas alias “backpacker“-an.

Waktu itu, kami, sesama mahasiswa duafa, tapi tetep pengen jalan-jalan, merencanakan untuk keliling Jawa-Bali-Lombok. Tapi saya berpikir, dengan budget yang sama tinggal ditambahin dikit, kenapa nggak sekalian keliling Asean aja? Toh sekarang berkat “kebaikan” salah satu maskapai penerbangan, semua orang bisa terbang kemanapun dia mau kan?

Anyway, saya waktu ngusulin ASEAN Trip ke Irvan, yang terpikirkan hanyalah mengunjungi 3 negara saja (Thailand, Malaysia dan Singapura). Tapi “gilanya” Irvan malah merencanakan backpacking ke 5 negara sekaligus! Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Singapura. Saya hanya bisa mengiyakan, walaupun agak ragu juga sih… Ragu apakah budget segitu cukup untuk semua kebutuhan pokok selama traveling. Tapi setelah survey + searching sana-sini, saya jadi yakin kalau budget segitu cukup pas banget. Jadilah rencana “gila” (menurut sebagian orang) ini semakin matang.

Akhir tahun 2009, salah satu low cost airlines yang cukup terkenal membuka rute penerbangan barunya dari Jakarta ke Ho Chi Minh City (Vietnam). Untuk memperkenalkan rute baru itu, maskapai tersebut bikin promo gila-gilaan. Pas banget dengan rencana saya untuk backpacker-an keliling ASEAN. Alhasil, terbelilah tiket pesawat Jakarta – Ho Chi Minh City atas nama saya, Irvan dan Nisun (teman baik saya juga) untuk tanggal 3 Februari 2010 dengan harga tak lebih dari Rp.360.000/orang. Horray… rencana keliling ASEAN sudah fix!

Saya santai-santai saja setelah tiket terbeli karena saya berpikir saat itu ada Irvan yang akan membimbing saya selama backpacker-an keliling ASEAN. Tapi ternyata eh ternyata, di saat-saat terakhir sebelum jadwal keberangkatan kami, Irvan mengundurkan diri dari rencana gila ini karena ia harus segera menyelesaikan skripsinya. Huwaaaawww, bisa dibayangkan kan betapa kalang kabutnya saya saat tau kalau Irvan tidak jadi berangkat. Saya tidak bisa mengandalkan Nisun karena dia sebelas-dua belas sama saya. Walaupun Nisun salah satu anak pecinta alam di kampus kami, tapi dia sama awamnya dengan saya soal urusan backpacker-an. Waduh, gimana doonngg…

Saya gamang, mau ikut nggak berangkat juga atau terpaksa harus fight berdua sama Nisun. Dan saya memilih yang kedua. Saya fight berdua sama Nisun untuk berkelana ke beberapa negara di Asean. Pertimbangan saya yang pertama adalah, sayang banget tiket promo yang sudah terbeli, yang kedua adalah belum tentu saya nanti bisa punya kesempatan (terutama waktu) untuk keliling ASEAN dan yang ketiga, rencana ini sudah dibuat sejak setahun yang lalu, masa iya saya mau ngebatalin gitu aja.

Di saat-saat terkahir sebelum jadwal keberangkatan, saya manfaatkan untuk browsing sana-sini mengumpulkan berbagai informasi tentang negara-negara yang akan saya kunjungi nanti. Dan yang paling penting adalah, saya harus cari host yang mau nampung saya selama saya traveling nanti untuk memangkas biaya penginapan. Untuk hal ini saya memanfaatkan www.couchsurfing.org, salah satu situs jejaring sosial yang didedikasikan untuk para backpacker supaya bisa mencari host saat traveling ke kota-kota tertentu.

3 Februari 2010, saya dan Nisun jadi NEKAD TRAVELER keliling 5 negara ASEAN.

VIETNAM

Petualangan kami bermula di Ho Chi Minh City-Vietnam. Dag dig dug duer saat pertama kali menginjakkan kaki di negara itu. Walaupun semua informasi sudah terkumpul, (misalnya tentang transport, penginapan murah (backpacker area), tempat wisata, dan lain-lain), tetap saja saya takut berada di tempat yang sangat asing bagi saya. Apalagi di negara ini saya nggak berhasil menemukan host yang mau menampung kami selama traveling ke Vietnam. Ya sudah, artinya kami harus cari penginapan.

Hal pertama yang harus saya lakukan ketika sampai di Ho Chi Minh City adalah menuju District 1 (backpacker area). Dari bandara ke District 1 seharusnya saya bisa ngirit pengeluaran dengan naik bus, tapi saya terpaksa harus naik taksi karena pesawat kami landing malam dan bus sudah tidak beroperasi pada jam tersebut. Walaupun begitu supir taksinya baik lho, kami nggak di muter-muterin atau disasar-sasarin, dia langsung menuju ke tujuan kami dan kamipun bisa memperoleh penginapan sesuai dibawah budget kami dengan keadaan diatas ekspektasi kami. Alhamdulillah…

Hari kedua di Ho Chi Minh City saya meniatkan diri untuk city tour dengan berjalan kaki dan naik bus. Tapi saya kena hasutan untuk naik cyclo dan ternyata saya kena tipu abis-abisan oleh cyclo itu. Cerita selengkapnya bisa dibaca disini. Melayanglah uang $70 ke tangan tukang cyclo gila itu! Bete? Jangan ditanya. Nangis bombay saya hari itu. Untung ada Nisun, partner traveling yang lebih kuat dari saya (walaupun ngomel-ngomel juga tapi nggak pake nangis) dan masih mampu menghibur saya yang shock parah di awal petualangan saya sebagai backpacker ini.

Lupakan kejadian ditipu sama tukang cyclo. Saya dan Nisun harus move on dan lebih hati-hati. Hikmahnya adalah, saya jadi dapat teman baik orang Vietnam yang mau membantu dan menemani kami selama traveling di Ho Chi Minh City. Cerita tentang hal ini bisa dibaca disini.

Saya di depan Cho Ben Thanh-Ho Chi Minh City, Vietnam
Saya di depan Cho Ben Thanh-Ho Chi Minh City, Vietnam

KAMBOJA

Saya niat banget pengen mengunjungi negara ini nggak lain dan nggak bukan hanya karena penasaran sama seperti apa sih Angkor Wat yang teramat sangat terkenal karena jadi lokasi shooting film Tomb Rider. Selebihnya, saya nggak terlalu antusias sama Kamboja, apalagi untuk mengunjungi museum Tuol Sleng Genocide atau Killing Field, ogah banget… Secara saya kan orangnya parnoan minta ampun. Daripada rugi harus keluar uang untuk bayar tuk-tuk dan tiket masuk yang akhirnya hanya membuat saya nggak tenang tidur berhari-hari, mending saya jalan-jalan aja keliling kota Phnom Phen. Oh iya, cerita tentang Kamboja bisa dibaca disini, disini dan disini.

Anyway, walaupun Kamboja “gitu-gitu” aja, ada yang bisa saya petik saat traveling ke negara ini. Yang pertama adalah saya dapat host yang baik banget lewat couchsurfing.org, namanya Mariam, cerita tentangnya bisa dibaca disini. Selain itu, di flat Mariam saya ketemu backpacker lainnya (cerita tentang mereka bisa dibaca disini). Dari mereka saya bisa bertukar pikiran tentang dunia per-backpacker-an dan tentunya berbagi informasi terutama tentang traveling ke kota atau negara yang akan saya kunjungi.

Anak Kamboja di Angkor Wat
Anak Kamboja di Angkor Wat

THAILAND

Thailand, sebenarnya saya sangat ingin ke Phuket dan Phi-Phi Island. Tapi apa mau dikata, budget saya nggak cukup kalau saya maksain diri untuk kesana. Jadilah saya hanya ke Bangkok saat backpacking ke Thailand. Di Bangkok saya menginap di flat host yang saya dapatkan melalui situs couchsurfing. Namanya Nick, orang Rusia. Cerita tentang Nick bisa dibaca disini.

Selama di Bangkok saya hanya city tour. Mengunjungi beberapa tempat wisata di area old town. Tapi saya hanya mengunjungi tempat wisata yang gratis saja dan yang tiket masuknya murah. Soalnya nggak lain dan nggak bukan, dana yang sebenarnya sudah saya siapkan untuk tiket masuk tempat wisata sudah “dipalak” sama tukang cyclo di Vietnam!

Anak Thailand
Anak Thailand

MALAYSIA

Di negara keempat dalam rangkaian ASEAN Trip saya ini, sebenarnya saya sudah mulai merasa kelelahan dan dana yang tersedia sudah mulai menipis. Jadilah saya nggak terlalu ngoyo untuk jalan-jalan. Saya hanya city tour, mengunjungi beberapa tempat wisata yang, ehm pastinya gratis. Untungnya waktu itu untuk naik ke sky bridge menara kembar Petronas masih gratis lho! Saya dan Nisun berhasil naik ke sky bridge karena Nisun yang kekeuh sumekeuh tetap ngantri walaupun tiket sudah habis karena kami kesiangan datang kesana. Tapi tiba-tiba ada sepasang bule yang sudah habis sabar mengantri, jadi mereka memberikan tiketnya pada saya dan Nisun. Jadilah kami bisa naik ke sky bridge. Yeay…

Di Malaysia saya lebih ke arah menikmati perjalanan saya, memperhatikan keadaan sekitar dan penduduk lokalnya. Dan yang tak kalah menariknya adalah karena saya menginap di flat Restu, salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan studi S1-nya disana, saya banyak bercengkrama dengannya dan juga teman-temannya sesama orang Indonesia. Berasa sudah di kampung sendiri gitu deh…

Saya di depan menara kembar Petronas
Saya di depan menara kembar Petronas

SINGAPURA

Singapura, negara terakhir dari rangkaian Asean Trip saya. Jujur saat itu kocek saya sudah tiris-tirisnya. Tapi alhamdulillah, saya bisa dapat host yang nggak lain dan nggak bukan adalah kakak kelas saya semasa SMA dulu. Namanya mbak Wulan. Mbak Wulan ini baik banget dan bisa baca isi kantong saya (hehehe…). Mbak Wulan nggak hanya ngasih tumpangan gratis selama saya di Singapura, tapi juga nyediain makanan dan ngasih saya uang recehnya untuk saya naik MRT/bus selama di Singapura. Baik banget kaann…

Sama seperti di Malaysia (Kuala Lumpur), saat di Singapura saya hanya city tour. Mengunjungi tempat-tempat wisata yang gratis dan jalan kaki menikmati suasana kotanya. Apalagi dari negara-negara sebelumnya yang saya kunjungi, Singapura merupakan negara yang paling maju, jadi enak aja walaupun cuma jalan-jalan kesana-kemari jalan kaki. Catet ya, JALAN KAKI! Hehehe… dasar backpacker kere!

Saya di seberang Merlion
Saya di seberang Merlion

4 JUTA, 17 HARI, 5 NEGARA + NEKAD

Pasti pada bertanya-tanya saya habis berapa untuk perjalanan saya selama 17 hari keliling 5 negara.

4 juta, ya kan?

Ah nggak seru ahh… Udah pada tau gara-gara saya tulis di judul dan sub judul artikel ini…

Ya, benar, saya hanya menghabiskan empat juta rupiah, Empat Juta Rupiah, EMPAT JUTA RUPIAH (hahaha… sengaja diulang-ulang biar tekesan dramatis gitu) untuk perjalanan ke 5 negara dalam 17 hari. Empat juta rupiah itu sudah termasuk tiket pesawat Jakarta-Ho Chi Minh City dan Singapura-Jakarta, transport antar negara, antar kota dan transport dalam kota, makan, penginapan (yang butuh menginap di hostel karena nggak dapet host), tiket tour atau tiket masuk tempat wisata, dan tentunya $70 untuk si cyclo menyebalkan di Vietnam itu.

Memang sih, saya belum senekad Gofar (@pergijauh) dan Nila Tanzil (@nilatanzil) yang benar-benar jadi #NEKADTRAVELER dengan hanya modal kuota internet 180GB dengan uang nol rupiah (untuk informasi lebih jelas tentang perjalanan mereka bisa bisa di cek di link ini telkomsel.com/nekadtraveler dan video tentang mereka di link ini tsel.me/TVCNekadTraveler). Tapi bagi saya, empat juta untuk traveling ke 5 negara dalam 17 hari nggak akan terwujud tanpa adanya unsur nekad dalam diri saya. Mengingat saat itu saya masih awam dalam dunia per-backpacker-an, tapi berani nekad “menceburkan diri” ke dalamnya.

Sebelum menjalani backpacking pertama saya itu, saya sempat merasakan yang namanya was-was dan takut. Tapi yang terpenting adalah bagaimana cara kita untuk mengatasi rasa takut yang ada pada diri sendiri dengan sedikit saja rasa nekad. Yakinlah, pengalaman yang kita dapat dari ke-nekad-an kita akan sangat berharga nantinya dan bisa jadi cerita yang nggak akan ada matinya.

Salam NEKAD TRAVELER.

telkomsel.com/nekadtraveler

tsel.me/TVCNekadTraveler

Continue Reading