Asia | Cerita Traveling

Mariam (Host di Phnom Penh)

By on April 9, 2010

Mariam

Saya mengenal Mariam dari situs jejaring backpacker www.couchsurfing.com. Karena banyak sekali yang memberikan komentar positif tentang Mariam, saya jadi percaya kalau Mariam adalah host yang baik. Lalu saya mengirim message pada Mariam, saya bilang sama dia kalau saya akan sampai di Phnom Penh tanggal sekian, ingin stay di Phnom Penh selama sekian hari dan saya juga menanyakan apakah saya bisa numpang tinggal di apartemennya selama saya di Phnom Penh? Selang beberapa hari Mariam membalas message saya, dan ia tidak keberatan jika saya tinggal di apartemennya selama saya di Phnom Penh. Dia memberi saya alamat lengkap apartemennya sekaligus direction menuju kesana. Selain itu dia juga memberi saya nomor handphonenya.


Namun sayangnya, saya sampai di Phnom Penh terlalu malam dan Mariam telah istirahat dan saya tidak berani mengganggu istirahatnya. Jadi pada malam pertama saya di phnom Penh saya menginap di hotel dan keesokan paginya saya baru ke apartemen Mariam.
Setelah bertemu dengan Mariam, ternyata orangnya baik dan ramah sekali. Dia mau berbagi apapun yang ada di apartemennya, seperti bebas menggunakan kompor, gelas, piring, sendok, kopi, gula, memasak makanan, dll. Namun demikian, dia juga menjelaskan beberapa rules yang harus dipatuhi jika masih mau tinggal di apartemennya.
Jangan pernah berkespektasi yang terlalu tinggi kalau numpang di rumah orang. Di apartemen Mariam saya tidak tidur di kamar tidur, apalagi di kasur. Saya tidur di patio (balkon yang ada atapnya dan tidak ada pembatas dengan dunia luar) beralaskan ranjang bambu dengan jaring-jaring yang mengelilinginya untuk menghalau nyamuk. Bisa dibayangkan kan? Nah, kalau pas lagi tidur malam, angin yang berhembus kencang banget, membuat saya agak kedinginan walaupun sudah pakai sleeping bag. Tapi nggak apa-apa, saya justru menikmati pengalaman yang seperti ini. Inilah yang namanya the art of backpacker. Rela tidur dimana saja asal bisa menekan pengeluaran, daripada harus bayar hotel. Bener nggak? 🙂
Anyway, Mariam orangnya sangat sibuk. Dia berangkat pagi (sekitar pukul setengah 8) dan baru pulang malam hari. Jadi saya tidak punya waktu banyak untuk mengobrol dengan dia. Tapi yang saya tangkap dari Mariam, dia adalah orang yang paling tidak suka kalau ada orang yang membuat dirinya (Mariam) membuang waktu dengan percuma. Dia bisa marah karena hal ini. Tapi saya rasa semua orang juga akan demikian.

Continue Reading

Asia | Cerita Traveling

Host Saya yang Baik

By on April 4, 2010

Saat saya melakukan Asean Trip, hanya di dua kota saja (Ho Chi Minh City dan Siem Reap) saya mengeluarkan uang untuk akomodasi. Sisanya, empat kota yang lain (Phnom Penh, Bangkok, KL, dan Singapore), free accommodation! 🙂 How it could be happened? Inilah pentingnya punya banyak teman dan menjadi member di beberapa situs jejaring sosial yang khusus diperuntukkan bagi para traveler, terutama backpacker. Saya akan menceritakan satu persatu host saya itu di postingan selanjutnya. So, don’t miss it… 🙂

Continue Reading

Cerita Traveling | Thoughts

Semangat Backpackernya Orang Bule

By on April 1, 2010

Masih dari rangkaian Asean Trip saya. Saat bulan Februari 2010 kemarin saya mengunjungi 5 negara Asean, pemandangan bule-bule muda, baik itu perempuan ataupun laki-laki yang menggendong carrier merupakan pemandangan sehari-hari saya. Sebagian besar dari mereka (yang berhasil saya ajak ngobrol) berasal dari negara-negara Eropa dan Amerika.
Saya awalnya berpikir bahwa bule-bule yang traveling ala backpacker itu hanya anak-anak mudanya saja. Tapi ternyata pikiran saya itu salah. Saat saya sedang sight seeing di Kuala Lumpur dan sedang menikmati roti telur (seperti roti canay, tapi ada campuran telurnya) di kantin stasiun (apa ya…? Saya lupa, pokoknya tempatnya di deket national mosque deh) saya melihat pemandangan yang lebih dari biasanya. Mau tahu apa?

backpacker

Saya melihat sepasang suami istri bule dengan anak yang berusia (mungkin) 7 dan 4 tahun. Mereka memasuki kantin tempat saya makan dan memesan beberapa menu makanan. But, you know, yang apa bikin spesial dari pemandangan itu? Mereka juga sedang traveling ala backpacker!! Orang tua kedua anak tersebut sama-sama menggendong carrier ukuran 75 liter!! Sedangkan anak yang berumur 7 tahun menggendong tas ransel (seperti tas ransel untuk ke sekolah) dan anak yang berumur 4 tahun digendong oleh sang ayah. Unbelievable!! Saya sampai melongo memperhatikan mereka saking takjubnya.

Kebayang nggak sih gimana ribetnya traveling sama anak kecil? Pasti riweuh banget kan? Harus nyediain space khusus untuk baju-baju mereka di carrier atau koper kita, terus kita juga harus ready dengan makanan dan minuman mereka tiap kali mereka mau makan. Masih belum lagi kalo anak-anak itu sedang rewel. Fiuuhh, jadi nggak bisa nikmatin jalan-jalannya kan? Tapi mereka mau melakukan semua itu dan mereka juga traveling ala backpacker (ransel), bukan ala suitcase (koper)! Salut deh untuk bule itu… 🙂
Saya jadi mengambil kesimpulan bahwa traveling ala backpacker merupakan salah satu habit orang bule. Apa yang saya alami itu, juga memberikan pemikiran baru dalam diri saya. Yaitu semua orang bisa traveling ke negara manapun yang dia inginkan walaupun itu dengan budget yang minim sekalipun. Entah itu orang muda, separuh baya, orang tua, orang kurus, orang gendut, orang yang lagi hamil, bahkan satu keluarga juga bisa traveling ala backpacker kalau mereka mau.
So tunggu apa lagi travelers, siapkan ranselmu dan pergilah ke tempat yang kamu inginkan. Hei, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena akan banyak pengalaman berharga yang telah menantimu disana. 🙂
Bogor, 31 Maret 2010 17:21
In the name of traveling,
~Okvina Nur ‘Ladies Traveler’ Alvita

Continue Reading

Asia | Cerita Traveling

How to Go Siem Reap from Phnom Penh

By on March 29, 2010

Untuk bisa sampai ke Siem Reap kalau kita dari Phnom Penh, kita harus naik bus dulu. Harga bus paling murah dari Phnom Penh ke Siem Reap itu $4/orang. Tapi ini jarang banget ada travel yang bisa ngasih harga segitu. Saya saja waktu itu beruntung sekali punya teman sesama traveler, tapi dia dari US, dia yang ngasih tahu saya travel mana yang paling murah. Nama travelnya Mobile Travel. Travel ini berlokasi di depan sungai Mekong. Jadi, kalau anda berjalan dari national museum, saya sarankan untuk menyusuri street 178. Setelah sampai di ujung jalan ini yang di depannya adalah sungai Mekong, anda belok kiri. Di depan café … (maaf saya lupa namanya) ada satu kios yang namanya Mobile Travel. Nah, kios inilah yang menjual tiket ke beberapa kota tujuan di Kamboja dengan harga yang paling murah. Di travel ini kita juga bisa langsung booking hotel di tempat tujuan kita nanti. Anda bisa memilih hotel sesuai dengan budget anda.

Perjalanan dari Phnom Penh-Siem Reap sekitar 6 jam dengan kondisi bus yang tidak terlalu bagus (Maklum, harganya murah. Tapi yang penting ada AC-nya lah ya soalnya panas di Kamboja itu sangat menyengat dan debunya juga ampun-ampunan karena jarang sekali turuh hujan disini). Tapi kalau untuk para backpacker, saya rasa masih sangat enak sekali menempuh perjalanan dengan bus ini. Dan bukankah setiap satu dolar yang keluar dari kantong kita sangat berharga artinya bukan? Jadi walaupun hanya beda satu dolar, berusahalan untuk memilih yang termurah dan mengenyampingkan “ego kenyamanan” kita. Trust me, di luar negeri kita akan lebih hati-hati dalam mengeluarkan uang kita walaupun hanya satu dolar.
Anyway, tidak ada perjalanan malam untuk bus jurusan Phnom Penh-Siem Reap ini. Jadi kita tidak bisa menggunakan salah satu prinsip backpacker yang menggabungkan pengeluaran transportasi dan penginapan menjadi satu. So mau nggak mau kita harus mengeluarkan uang ekstra untuk penginapan. Setelah sampai di “terminal” (mengapa saya beri tanda kutip diantara kata terminal? Karena menurut saya tempatnya sangat tidak layak kalau disebut sebagai terminal) Siem Reap anda harus menyewa tuk-tuk untuk mengantar anda ke penginapan anda. Kalau saya sih waktu itu, dijemput tuk-tuk hotel karena sudah termasuk dalam fasilitas hotel, mau tau apa nama hotel saya? New Riverside Hotel. Harga sewa kamar $12/night untuk 2 orang. Fasilitas yang saya dapatkan juga sangat lengkap. Kamar twin bed, AC, kulkas, TV, bath tube, hot-cold water, free breakfast, free tuk-tuk penjemput, dan swimming pool… 🙂 Murah kan jika dibandingkan dengan fasilitas yang kita dapat?
Saya yakin, satu-satunya alasan mengapa para turis mengunjungi Siem Reap adalah untuk berwisata ke Angkor Wat. Nah, untuk ke Angkor Wat anda harus menyewa tuk-tuk karena Angkor Wat itu sangat besar dan tidak memungkinkan Anda berjalan kaki mengelilinginya. Harga sewa tuk-tuk untuk satu hari mengelilingi Angkor Wat sebesar $15 (tuk-tuk bisa diisi maksimal 6 orang, kan lumayan murah kalau $15 dibagi 6 orang) saat weekday dan $25 saat weekend. Apabila tukang tuk-tuk meminta imbalan lebih dari itu, Anda tinggal tawar saja harga yang dia minta. Yang pasti standar untuk sewa tuk-tuk satu hari adalah segitu. Oh iya, saat tawar-menawar harga jangan lupa untuk menegaskan pada tukang tuk-tuk seharian itu kita akan dibawa ke candi mana saja karena kalau anda minta pergi ke candi yang diluar kesepakatan, biasanya tukang tuk-tuk akan minta uang tambahan. Dan kalau anda ingin menikmati sunset di Angkor Wat, anda juga harus bilang sebelumnya pada tukang tuk-tuk saat tawar-menawar, karena ya itu tadi, kalau anda mintanya di akhir, anda pasti akan kena charge tambahan. Sedangkan untuk bisa masuk ke Angkor Wat, Anda harus membayar $20 untuk one day visit atau $40 untuk three days visit atau $60 untuk seven days visit.
Oke, selamat traveling ke Siem Reap. Have a save trip ya… 🙂
Bogor, 29 Maret 2010 13:16
~Okvina Nur Alvita

Continue Reading

Asia | Cerita Traveling

One Dollar Ladies

By on

Jangan bilang sudah ke Kamboja kalo masih belum mengunjungi Angkor Wat. Yah, candi ini merupakan salah satu situs peninggalan Budha yang ada di Siam Reap, Kingdom of Cambodia. Candi ini sangat terkenal karena pernah menjadi lokasi shooting film Tomb Rider yang dibintangi oleh Angelina Jolie.

Tidak seperti candi-candi di Indonesia, Angkor Wat memiliki beberapa buah candi yang berbeda dalam satu arealnya. Jadi, di dalam areal Angkor Wat itu ada beberapa candi, yang paling terkenal sih candi Angkor Wat, candi Bayon, dan candi Ta Phrom.

Saking besarnya areal candi ini, tiket masuknya saja ada beberapa macam dengan harga yang berbeda-beda. Untuk satu hari kunjungan kita harus membayar $20/orang, sedangkan untuk tiga hari kunjungan $40 dan untuk 7 hari kunjungan itu $60. Kalau menurut saya sih, mengelilingi Angkor Wat selama satu hari penuh sudah sangat melelahkan dan membosankan. Jadi saya tidak menyarankan Anda untuk membeli tiket 3 hari apalagi 7 hari, sehari saja sudah cukup. Tapi kalau anda seorang arkeolog, mungkin 7 hari kunjungan akan kurang. 😀

Cambodian Children

Anyway, seperti objek wisata yang ada di Indonesia, disini banyak sekali pedagang asongan yang menjajakan barang dagangannya. Mereka menjual topi, kipas, postcard, tas, gelang dll. Saking banyaknya yang jualan, saya sampai merasa kurang nyaman saat mengunjungi Angkor Wat. Sebentar-sebentar saya harus mendengar

“Ladies, do you want to buy a bag? $5. But, $8 for two”
“Ladies Malaysia, do you want coconut? Just one dollar each”
“Ladies Malaysia, please buy my postcard, just one dollar”
Uugghh, sebel deh. Karena pakai kerudung, saya disangkanya orang Malaysia! Padahal kan saya orang Indonesia asli-sli-sli! Nggak ada campuran dari manapun!
Yah, memang banyak sekali pedagang di Angkor Wat. Ada saja yang mereka jual. Rata-rata yang jadi “sales” itu remaja dan anak-anak dibawah umur 13 tahun. Dan mereka menggunakan trik memelas untuk “menjerat magsanya”. Kalau saya sih sudah terbiasa melihat yang seperti itu di Indonesia, jadi sama sekali tidak tertarik untuk “melayani” mereka. Tapi kalau bagi turis bule yang di negaranya nggak ada penjaja seperti itu, ya pasti kasihan lah melihat anak kecil harus bekerja sambil memelas seperti itu, dan dibeli lah apa yang mereka jual.
Oh ya, kadang mereka menggunakan trik dalam menjerat mangsanya. Jadi tiba-tiba mereka memberi kita hadiah sesuatu yang nggak terlalu worth it for free. Nah, saat kita keluar dari area candi, biasanya mereka akan “menghadang” kita dan sangat memaksa kita untuk membeli barang dagangan mereka karena mereka anggap kita sudah dapat bonus dari mereka. Nah, makanya hati-hati kalau ada pedagang yang ujug-ujug ngasih sesuatu pada kita, jangan sampai kita terima. Tapi kalau misalnya “bonus” dari mereka terlanjur kita terima, ya balikin aja barang itu kalau kita tidak ingin membeli barang dagangannya.
Pedagang-pedagang itu menurut saya teramat sangat gigih dalam menjajakan barang yang dia jual. Mereka nggak akan menyerah walaupun kita sudah naik tuk-tuk. Mereka tetap akan berteriak-teriak seperti ini
“Ladies, one dollar for one bracelet”
“Ladies, one dollar for the keychain”
“Ladies, please buy my postcard, just one dollar, Ladies, one dollar”
“Ladies, one dollar, one dollar…”
“One dollar Ladies…” (lho? Hehehe… :D)
Saya agak-agak geli saat mereka mengatakan “one dollar” dengan nada yang… aduh gimana ya? Susah diungkapkan dengan kata-kata. Pokoknya gitu deh! 😀
Saya selalu ingat nada mereka mengucapkan “one dollar” itu yang selalu diikuti atau diawali dengan kata “Ladies” untuk menyapa saya.
And, you know, karena alasan inilah mengapa web saya ini saya beri judul Ladies Traveler. Hehehe… 😀
Bogor, 29 Maret 2010 14:00
~Okvina Nur Alvita

Continue Reading

Asia | Cerita Traveling | Thoughts

Foto-Foto antara Turis Asia dengan Turis Bule

By on March 28, 2010

Selama saya traveling terkadang saya memperhatikan turis-turis yang lain, terutama saat berada di tempat wisata. Karena pastinya banyak sekali turis-turis disana (tempat wisata) dan mereka berasal dari berbagai negara. Saya membagi mereka ke dalam dua kategori berdasarkan muka mereka (karena hanya ini yang paling bisa dibedakan), yaitu turis Asia dan turis Bule. Saya tidak bisa membagi lebih lanjut berdasarkan asal negara mereka karena susah banget kali… bule-bule itu kan rata-rata kulitnya putih, bermata biru dan hidungnya mancung. Sedangkan orang Asia, yah you know lah seperti apa.
Well, berdasarkan hasil pengamatan saya, ada dua perbedaan yang cukup mencolok antara turis bule dan turis Asia, terutama dalam urusan foto-foto. Mau tahu apa bedanya?
Perbedaan pertama, Turis Asia senang sekali berfoto-foto, begitupun juga dengan turis bule. Tapi objek yang difoto berbeda. Kalo turis Asia, lebih senang berfoto di depan objek yang dianggap menarik. Sedangkan turis bule, mereka lebih senang memfoto objek yag dianggap menarik. Ngerti nggak bedanya? Jadi kalo turis Asia itu, kalau foto-foto, harus selalu ada foto dirinya sendiri plus objek yang dianggap menarik, sedangkan turis bule, lebih suka memfoto objeknya aja, tanpa ada tambahan objek diri sendiri. Get it? Pinteerrr… 🙂
Perbedaan kedua, saat saya atau orang lain ingin memfoto sesuatu, dan kebetulan ada turis bule yang ingin lewat (jalan di depan saya), yang mana hal ini dapat menghalangi foto saya, mereka pasti mengalah untuk tidak lewat dulu dan mempersilahkan saya untuk take picture terlebih dahulu. Namun tidak demikian dengan turis Asia. Mereka langsung nyelonong aja lewat tanpa mau mengerti dan memperhatikan kepentingan orang lain, mereka cenderung tidak peduli apakah mereka akan mengganggu dan menghalangi orang lain untuk berfoto atau tidak.
Nggak perlu lah diperdebatkan mana yang lebih baik dalam dua perbedaan itu antara turis bule dengan turis Asia. Yang penting adalah mengambil esensi positifnya dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.
Selamat traveling (bagi yang mau traveling) dan mulailah untuk “peka” pada lingkungan di sekitar kita… Okay travelers? 🙂
Bogor, 27 Maret 2010 22:27
~Okvina Nur Alvita

Continue Reading