Cerita Traveling | Indonesia

KemBALI ke BALI

By on September 26, 2010

Awal Cerita

Oke, siapapun anda boleh mentertawakan saya. Terakhir kali saya ke Bali saat saya masih SD. Liburan bersama keluarga. Walaupun rumah saya tidak terlalu jauh dari Bali (Jember), tapi sejak SD saya tidak pernah ke Bali lagi.

Beberapa bulan yang lalu kakak saya sudah ribut soal tiket pesawat untuk mudik. Dia takut kalau beli tiket mepet-mepet dengan jadwal kepulangannya ke rumah, tiket pesawat yang dia dapatkan akan sangat mahal. Akhirnya dia sudah beli tiket pesawat sejak 3 bulan sebelum lebaran dengan rute penerbangan Jakarta-Surabaya, Denpasar-Jakarta. Pulangnya dia mengambil rute penerbangan Denpasar-Jakarta karena ingin jalan-jalan dulu kesana, mumpung cuti yang diambilnya lumayan panjang.

Anyway, saya jadi ingin juga jalan-jalan kesana. Terlebih lagi, saya ingin jalan-jalan bersama kakak saya, melakukan “ritual-ritual” yang dulu seringkali kami lakukan kalau kami jalan berdua. Ditambah lagi, ada satu pekerjaan yang harus saya selesaikan di Bali, jadilah saya memutuskan untuk ke Bali juga! Horrayy… Akhirnya saya kemBali ke Bali! 😀

Tapi, dasar otak backpacker yang nggak mau rugi kalau melakukan suatu perjalanan, saya juga memutuskan untuk ke Lombok dan Gili Trawangan dalam sesi backpacking kali ini. Cerita untuk Lombok dan Gili Trawangan di postingan berikutnya ya… jadi mohon bersabar… 🙂

Menyusun Itinerary

Ketika saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke suatu tempat, hal pertama yang akan saya lakukan adalah scheduling (menyusun rencana perjalanan/itinerary). Saya langsung cek liburan saya. Hmmm…ternyata hanya dua minggu karena saya harus kembali ke kampus untuk mendampingi dosen saya lagi dalam kegiatan perkuliahan. Artinya, saya tidak memiliki banyak waktu untuk backpacking Bali-Lombok-Gili Trawangan. Artinya lagi, saya tidak bisa berlama-lama di rumah setelah lebaran.

Hwaaa… sungguh pilihan yang sulit… di satu sisi saya masih ingin berlama-lama di rumah, menikmati suasana lebaran bersama keluarga, dan di sisi yang lain, saya nggak mau rugi kalau lagi backpackeran… Solusi terbaiknya (menurut saya), membagi liburan lebaran bersama keluarga dan liburan sendiri ala backpacker sama rata. Seminggu di rumah dan seminggu nge-“bolang”. Hehehe… 😀

Saya berangkat ke Bali tanggal 13 September 2010, di Bali sampai tanggal 16 September 2010. Tanggal 17 September 2010 berangkat ke Lombok dan langsung ke Gili Trawangan. Di Gili Trawangan sampai tanggal 19 September 2010 dan pada tanggal ini saya balik ke Senggigi. Tanggal 20 September 2010 penerbangan Mataram-Denpasar plus Denpasar-Jakarta. Perfecto! 🙂

Host plus Budgeting

Setelah itinerary beres, yang saya lakukan selanjutnya… of course cari host sambil menyusun budgeting perjalanan. Seperti biasa saya langsung browsing sana-sini untuk mencari referensi perjalanan termurah untuk Bali-Lombok-Gili Trawangan. Dan tentu saja cari host di www.couchsurfing.org.

Cari host di Bali tidak sesulit cari host untuk di Lombok. Banyak sekali member couchsurfing di Bali. Tapi saya tentu saja tidak asal pilih. Saya request hanya ke member yang trustworthy. Dan benar saja, salah satu member di Bali yang trustworthy itu tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk meng-approve request saya. Alhamdulillah di Bali saya sudah “aman”… 🙂

This is All About Trust

Budaya backpacker-an mungkin belum terlalu “membumi” di Indonesia. Terutama backpacker yang rela numpang sana-sini untuk menghemat biaya akomodasi seperti saya. Apalagi nginepnya ditempat orang yang baru dikenal melalui situs jejaring backpacker.

Semua itu bisa terjadi hanya karena rasa saling percaya saja. Dan sifat inilah yang masih belum banyak dimiliki oleh para backpacker pemula. Mungkin saya juga termasuk salah satu di dalamnya. Namun saya bukan orang yang parno-an abis! Saya akan sangat percaya pada orang yang baru dikenal asalkan “asal-usulnya” jelas. Maksud saya, walaupun saya baru kenal, saya sudah tahu sedikit tentang tentang orang itu dari referensi (testimonial) yang diberikan orang lain. Jadi nggak murni “stranger”.

Anyway, host saya selama di Bali namanya Marvin Sitorus. Saya percaya sama dia karena membaca banyak referensi untuknya dari beberapa traveler dari berbagai negara. Saya menghubunginya secara personal melalui sms saat dalam perjalanan ke Denpasar dari Jember. Dia membalas sms saya dan bilang kalau dia nggak bisa jemput, tapi nanti saya akan dijemput sama karyawannya saat sudah sampai di Denpasar. Wew, baik banget kan?

Saya sampai di Denpasar, di terminal Ubung tepatnya. Sama seperti yang saya rasakan saat baru “mendarat” di tempat baru, saya selalu merasa “lost in somewhere” dan saya juga merasa “in the middle of nowhere”. Biasanya yang saya lakukan setelahnya adalah, menepi, duduk, celingak-celinguk sana-sini, memperhatikan keadaan sekitar, cek pos polisi (atau pegawai keamanan) terdekat, terus baru mengeluarkan handphone saya untuk menghubungi orang yang akan saya tuju atau orang yang akan menjemput saya.

Saya mencoba untuk menelepon Ina, karyawan Marvin yang akan menjemput saya. Jawaban di seberang saya bunyinya begini “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi”. Beberapa menit kemudian saya menelepon lagi, jawaban yang saya terima tetap sama. Saya ulangi sampai beberapa kali, jawabannya tetap sama juga.

Dag-dig-dug, saya mulai deg-degan… Lalu saya menghubungi Marvin, bilang kalau nomor Ina tidak bisa dihubungi. Marvin menyuruh saya menunggu di pos polisi di depan terminal Ubung. Saya langsung kesana. Beberapa saat kemudian Marvin menghubungi saya lagi, dia bilang kalau saya disuruh ke hotel Mahajaya, menunggu jemputan taksi dari sana. Saya nurut saja, saya jalan ke hotel mahajaya, menunggu taksi sambil meneguhkan hati dengan kalimat “this is all about trust”, walaupun jujur kepercayaan saya pada Marvin saat itu mulai berkurang karena saya yang kesannya “dilempar kesana-kesini”. Maaf ya Vin, gw agak nggak percaya sama lo saat itu… 🙂

You know, Ina akhirnya menghubungi saya saat taksinya datang! Dia bilang kalau sudah di depan pos polisi Ubung! Ternyata dia tadi telat banget menjemput saya dan handphone-nya nggak bisa dihubungi karena dia nyasar karena nggak tahu jalan ke terminal Ubung (maklum, Ina baru 2 bulan di Bali, jadi masih belum terlalu hafal jalan disana). Dan saya pun dibawa Ina ke kantor Marvin di Denpasar.

Hal Seperti Ini yang Nggak Bakalan Kalian Dapatkan Para “Suitcase-er”! 😀

Mengapa saya kecanduan jalan-jalan ala backpacker? Karena dengan jalan-jalan ala backpacker, saya tidak hanya mengunjungi tempat wisata saja. Tapi saya juga belajar tentang culture setempat, ngobrol dan bertukar pikiran dengan penduduk asli daerah yang saya kunjungi. Hal inilah yang membuat saya menjadi lebih open minded. Dan itulah gunanya host… selain berguna untuk memangkas pengeluaran untuk akomodasi, host juga sangat membantu untuk mengeksplore daerah yang kita kunjungi dan tentu saja kita bisa belajar tentang daerah setempat dari host kita.

Beberapa kali saya backpacker-an saya selalu merasakan pengalaman itu. Dan inilah salah satu cara saya “membaca” dunia. Saat di Bali, Marvin (host saya) yang bukan orang asli Bali mengenalkan saya pada Dewaji (saya memanggilnya pak Dewe), orang asli Bali. Dari pak Dewe saya jadi tahu kebiasaan orang Bali, apa yang “do or don’t” di Bali, sampai pada upacara adat di Bali dan letak pura pada umumnya saya jadi tahu. Saya banyak mengeksplore Bali dari pak Dewe. Hmmm, satu halaman tentang dunia sudah saya “baca”… 🙂

Tanah Lot

Tanah Lot

Tempat pertama yang saya kunjungi di Bali adalah Tanah Lot. Saya kesana sore hari dengan Marvin, Pak Dewe dan Ina. Karena lagi liburan lebaran, jadi Tanah Lot ramai sekali saat itu dan (menurut saya) mendadak jadi lautan manusia! Saya tidak bisa menikmati suasananya dengan nyaman… 🙁

Saya berharap bisa menikmati sunset di tanah lot, tapi sayang saat itu cuaca tidak terlalu cerah. Banyak sekali awan. Jadi proses matahari terbenam di ufuk barat tidak terlihat dengan sempurna. Sayang sekali… 🙁

Kuta-Legian

Malam pertama di Bali, Marvin mengajak saya untuk keliling Kuta-Legian bersama pak Dewe dan Anov (Marianov, adiknya Marvin). Saya rasa daerah ini adalah salah satu daerah di dunia yang tidak pernah tidur. Sampai jam 2 malam masih banyak aktivitas yang dilakukan oleh para “penghuni” Kuta-Legian.

Mau tahu aktivitas yang saya lakukan sampai selarut itu disana? Jangan mikir yang aneh-aneh dulu! Saya hanya menemani Marvin cs. makan di salah satu restoran fastfood yang ada disana sambil ngobrol ini-itu, mengenal diri satu sama lain. Setelah itu kami memperhatikan dan ngegodain bule-bule yang lagi bersliweran disana. Nasib jalan sama cowok, saya dianggap cowok juga! 😀 Tapi bagi saya, hal itu cukup menyenangkan. Saya jadi tahu “detak jantung” Bali yang sebenarnya.

Malam kedua di Bali saya masih nggak kapok untuk menghabiskan malam di sekitar Kuta-Legian. Tapi personil malam itu Marvin-pak Dewe-Ina dan saya. Kami menikmati ice cream sambil duduk-duduk di pantai Kuta sambil ngobrol ngalor-ngidul. Selama disana saya juga memperhatikan perilaku bule-bule. Sama seperti kami, mereka juga membentuk satu kelompok kecil, ngobrol, tertawa lepas, sampai kadang ada yg setengah berteriak. Kami dan mereka hanya berusaha untuk menikmati suasana dan menghabiskan waktu yang berkualitas dengan cara kami. Hmmm… inilah salah satu cara para traveler menikmati hidup.

Ternyata memang tidak ada kata bosan untuk Kuta. Hari keempat di Bali, saya sudah meniatkan diri untuk menikmati suasana sore hari di pantai Kuta. Tidur-tiduran di atas pasir sambil menunggu sunset. Saya melakukan “ritual” ini dengan kakak saya tersayang, Mbak Ninda.

Alhamdulillah saya bisa menikmati sore di Kuta berdua saja dengan mbak Ninda (suaminya asik main di laut). Seperti turis yang lain kami tiduran di atas pasir yang sudah terlebih dahulu dialasi dengan kain Bali. Saya dan mbak Ninda memperhatikan kelakuan bule-bule dan juga wisatawan domestik yang ada disana dan sesekali berkomentar tentang mereka. Saya dan mbak Ninda juga ngerumpiin tentang…eng ing eng… apa coba…? Apa lagi yang diobrolin sama para cewek kalo lagi ngumpul? Ya pasti tentang cowok lah… hehehe… 😀 Hmmm… hal inilah yang selalu saya rindukan kalau lagi berdua saja sama mbak Ninda… Wkwkwk… 😀

Tapi sayang, seperti yang saya alami saat di tanah lot, saya tidak bisa menikmati sunset dengan sempurna di Kuta karena cuaca yang kurang cerah dan banyak sekali awan yang menutupi matahari… Yaahhh…gagal lagi deh ngeliat sunset di Bali.

Melatih Mental Map

Saya sangat sadar kalau mental map saya lumayan bagus dan inilah salah satu alasan mengapa saya berani jalan-jalan ala backpacker sendirian. Bermodalkan peta Kuta dan sekitarnya yang saya peroleh dari brosur pariwisata yang banyak bertebaran di daerah Poppies (backpacker area di Bali), saya memutuskan untuk jalan kaki menyusuri areal Kuta-Kuta Square-Poppies 1&2-Legian.

Dari jalan-jalan di daerah Poppies 2 saya dapat Lonely Planet Indonesia edisi 2010 seharga Rp.130.000 saja! Padahal kalau di toko buku harganya di atas Rp.350.000. Dari jalan kaki “blusukan” ke gang-gang di kecil di daerah Kuta, Legian, Poppies saya bisa menikmati 1 jam Balinese Massage seharga Rp.40.000 saja! Hehehe… 😀 Jadi tahu kan kenapa saya sangat suka jalan kaki? Selain bisa lebih menikmati suasana, kita juga bisa sekaligus olahraga dan yang pasti bisa membandingkan harga, jadi risiko “nyesek” karena membeli barang dengan harga yang terlalu mahal dapat diminimalisir. 🙂

Padang-Padang Beach-Uluwatu

Padang-Padang Beach

Hari ketiga di Bali, Marvin mengajak saya dan Mbak Ninda jalan-jalan ke Padang-padang beach dan Uluwatu. Ada yang tahu padang-padang beach di Bali? Oke, bagi yang belum tahu akan saya beri tahu ya… pantai ini merupakan tempat shooting Julia Roberts untuk film terbarunya Eat, Pray, Love.

Padang-padang beach terletak di balik beberapa batu yang besar banget. Jadi pantainya nggak kelihatan kalau dari jalan raya. Kalau mau kesana, kita harus melewati sela-sela batu-batu itu. Tapi dijamin, pemandangan yang akan kita lihat setelahnya sangat indah. White sands, turquoise sea, clean water, smooth wave, adalah serangkaian kata yang menggambarkan pantai ini. Pantai ini benar-benar surga bagi penikmat pantai plus pecinta renang seperti saya. Tapi sayangnya saat itu saya tidak membawa baju renang muslimah saya. Selain itu waktu yang dimiliki untuk main di padang-padang beach tidak terlalu lama. 🙁

Setelah puas menikmati padang-padang beach, Marvin membawa kami ke Uluwatu. Uluwatu itu ngarai yang dihadapannya langsung laut lepas samudra hindia. One of the best place in Bali. Saya rasa semua orang yang pernah ke Bali pasti tahu uluwatu. Tapi tahukah anda apa yang saya alami di uluwatu?

Uluwatu

Hampir dua kali barang saya “dicopet” sama monyet! Bête deh! Monyet-monyet di Uluwatu memang dididik untuk mencopet oleh pawangnya. Jadi gini, kalau salah satu barang kita diambil sama monyet, si pawang akan langsung menghampiri monyet, dia mengambil lagi barang kita tapi tentu saja dengan “proses barter” dulu dengan si monyet. Nah, kita harus membayar barang yang dibarter itu plus ongkos capek si pawangnya.

Waktu itu bodohnya saya, saya melepas sandal saya karena ingin duduk-duduk di pagar tebing uluwatu. Tiba-tiba satu monyet berlari menghampiri saya, saya sudah parno tas saya yang akan diambilnya (saya lupa kalau salah satu sandal saya, saya lepas), tapi ternyata dengan sigapnya monyet itu mengambil sandal saya… Huaaa… saya dicopet monyeeeetttt!!!

Yang kedua kalinya, saat saya berjalan mau kembali ke mobil. Tiba-tiba ada satu monyet yang berlari ke arah saya, dia mengincar tas kecil saya. Saya langsung panik, menjerit dan berlindung di belakang Marvin. Monyetnya masih berusaha mengambil tas saya, tapi Marvin menghalangi, monyetnya makin galak, Marvin lebih galak lagi, dan akhirnya monyetnya menyerah, dia pergi tanpa berhasil mencopet tas saya. Alhamdulillah… 🙂

Oh iya, just for your information, selain monyet, di pura yang ada di Uluwatu kita bisa menikmati tari kecak dengan membayar Rp.75.000.

Ubud

Malam terakhir di Bali, kakak saya memilih untuk dinner berdua dengan suaminya di daerah Jimbaran. Sedangkan saya? Makan malam di daerah Ubud! Hehehe… tetep ya nggak mau kalah! 😀

Marvin memang sudah janji sebelumnya akan mengajak saya ke Ubud. Tapi dia hanya punya waktu di malam terakhir saya di Bali. Marvin menepati janjinya, malam sebelum saya meninggalkan Bali untuk melanjutkan perjalanan ke Lombok, dia mengajak saya makan malam di Ubud.

Ubud, terletak di daerah dataran tinggi yang ada di Bali. Menurut Marvin, turis Eropa yang suka menginap di daerah Ubud. Ubud memang jauh lebih tenang daripada Denpasar apalagi Kuta. Di Ubud juga udaranya dingin dan jauh lebih fresh daripada Kuta. Ubud sangat cocok bagi traveler yang menginginkan liburan yang penuh ketenangan. 🙂

Thank’s a lot My Dear Friends

I just wanna say thank’s to all my dear friends in Bali:

  1. Marvin Sitorus, yang sudah mengijinkan saya “menjajah” tempat tinggalnya, ngajak saya keliling ke beberapa tempat di Bali, nraktir saya makan selama di Bali, ngajarin saya bagaimana menjalankan bisnis travel dan sedikit tentang internet marketing. Marvin juga dengan baik hatinya mau mendengarkan keluh kesah saya. I know it’s not enough, but once more time I wanna say a bunch of thank’s special for you Marvin… 🙂
  2. Ina Stya, yang sudah dengan sabarnya mengantar-jemput saya kemana-mana saat saya di Bali. Makasih banyak Ina sayang… 🙂
  3. Dewaji -pak Dewe-, terima kasih banyak untuk obrolan tentang budaya Bali dan obrolan tentang…(banyak hal). Obrolan kita membuat saya lebih open minded (lagi).
  4. Marianov Sitorus, terima kasih banyak pak pendeta. Anda menyadarkan saya kalau saya harus lebih banyak lagi belajar tentang agama saya dan memahami isi Alquran. Allah “menampar” saya dengan mempertemukan Anda dengan saya.

Traveling is not only just take around in some places, but also make a friendship with people around us. For me, this is the heart of traveling. 🙂

Wanna feel what I feel when I was traveling? Don’t think too much, just take your backpack and go to the place you really want to go, because “a thousand mile journey begins with the first step” –Lao Tzu–

Bogor, 26 September 2010 13:44 WIB

~Okvina Nur Alvita

Continue Reading

Cerita Traveling | Indonesia

Dibalik Layar Tour de Sumatera Chapter 1 (Juni 2010)

By on July 3, 2010

Berawal dari Sini

Kalau ada tempat yang paling ingin saya kunjungi di Indonesia ini, jawabannya adalah Sumatera Barat. Saya seringkali mendengar, melihat dan membaca tentang keindahan kontur alam di Sumatera Barat. Hal inilah yang membuat keinginan untuk melihat dengan langsung salah satu keindahan alam Indonesia semakin menggebu-gebu.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya sudah tidak terikat dengan jadwal kuliah rutin. Apalagi, saat ini skripsi saya sudah pada tahap finishing. Akhir Mei 2010 saya iseng lihat web salah satu budget airline. Dan, ndilalah kok lagi ada promo plus diskon 20% jika melakukan pembayaran dengan klik B*A. Wow, saya langsung mencari penerbangan ke destinasi yang saya inginkan: Padang. But, unfortunately, ternyata eh ternyata, maskapai ini tidak melayani rute Jakarta-Padang. Yaahh… kecewa saya…

Tapi, sebagai seorang backpacker berpengalaman *ehm…* yang nggak pernah kekurangan akal *ehem lagi* plus berbekal kecerdasan otak yang luar biasa *uhuk-uhuk, kok malah keselek ya… :p* dan keahlian yang sangat detil dalam mengotak-atik jadwal dan rute perjalanan, akhirnya saya menemukan ide gimana caranya saya bisa ke Padang dengan tetap memanfaatkan tiket promo ini. Yup, saya memutuskan untuk booking tiket dengan rute yang lain, Jakarta-Medan! 😀

Wew wew wew, jangan protes dulu… Begini ya, kalau saya melakukan perjalanan, saya biasanya nggak hanya ke satu tempat. Saya seringkali “membabat” beberapa destinasi sekaligus dalam satu rangkaian backpacking. Kenapa? Ya of course, hanya karena alasan ogah rugi! :p

Jadi, yang awalnya saya merencanakan untuk susur sumatera dari selatan ke utara, saya harus mengganti rute, dari utara ke selatan. Alasannya, karena tiket termurah yang saya dapatkan hanya untuk rute Jakarta-Medan! Just it!

Sebagai budget traveler, saya harus benar-benar memperhitungkan setiap pengeluaran saya. Oleh sebab itu, “berburu” tiket termurah adalah salah satu agenda wajib backpacker.

By the way on the way in the bus way, saya memperoleh tiket termurah itu tanggal 23 Juni 2010. Setelah cek and ricek jadwal skripsi dan jadwal-jadwal yang lain *halah, sok sibuk*, saya merasa kalo tanggal segitu saya sudah bisa bebas dari urusan perskripsian dan urusan-urusan yang lain. So, saya bisa berlibur dengan tenang. Yeyy… senangnya merencanakan liburan… 😀

Klik klik klik, tiket terbooking.

Klik klik klik, pembayaran beres.

Klik klik klik, itinerary tiket Jakarta-Medan sudah masuk ke email saya!

Alhamdulillah… 🙂

Rencana Saya

Setelah tiket sudah terkirim ke email saya, saya mulai merencanakan perjalanan yang saya beri judul “Tour de Sumatera”.

Dengan tiket Jakarta-Medan yang saya miliki, saya mengatur jadwal untuk mengunjungi Medan terlebih dahulu. Lalu, saya berencana untuk melanjutkan perjalanan ke Aceh, terus ke Pulau Weh dan menginjakkan kaki di 0 km yang ada di Sabang. Hmmm, sounds great.

Setelah itu, saya kembali ke Medan lagi, melanjutkan perjalanan ke Danau Toba yang di Parapat, nyebrang ke Pulau Samosir, balik lagi ke Parapat, lanjut ke Bukittinggi, terus ke Lembah Anai, terus ke Padang. Lanjut dengan mampir ke Palembang buat nyicipin mpek-mpek kesukaan saya, mpek-mpek Sudi Mampir di depan kantor walikota Palembang (highly recommended to eat). Dan tour de Sumatera saya berakhir di Lampung. Dari Lampung saya langsung ke Bogor. Perjalanan antar kotanya akan saya tempuh dengan perjalanan darat menggunakan bus dan kereta api. Perfecto! 😀

Selanjutnya…

Setelah membuat schedule perjalanan itu, yang saya lakukan selanjutnya adalah…tentu saja mencari tumpangan gratis! 😀

Sebagai backpacker dengan budget yang sangat pas-pasan. Pas untuk transport dan pas untuk makan saja, saya benar-benar harus menghapus budget akomodasi dari daftar pengeluaran selama tour de Sumatera. Caranya, apalagi kalo nggak dengan memanfaatkan situs jejaring backpacker, www.couchsurfing.org!

Oh, wait, saya kan punya teman-teman dari FIM (Forum Indonesia Muda) yang tersebar di seluruh penjuru negeri. So, saya juga bisa memanfaatkan networking di FIM. Yeey, kemungkinan untuk dapat tumpangan gratis semakin terbuka lebar. Apalagi anak-anak FIM kan sudah teruji kualitasnya! 🙂

Selain merequest beberapa host di couchsurfing.org, saya juga menghubungi teman-teman FIM di Medan, Aceh dan Padang (Mas Takin, Budi Andana Marahimin, Muhammad Reza dan Deni Pratama) untuk dicarikan tempat tinggal (yang gratis ya, catet!) selama saya di kota mereka.

Kalau untuk Palembang dan Lampung, saya punya teman baik disana. Jadi tinggal telepon aja kapan saya mau datang, beres perkara. So, saya nggak terlalu mengkhawatirkan akomodasi di Palembang dan Lampung.

Urusan akomodasi tinggal tunggu konfirmasi dari mereka. Satu lagi rencana perjalanan selesai. Sekarang, saatnya fokus finishing skripsi.

Skripsi oh Skripsi… Deritamu Tiada Akhir *alay mode:on :p*

Tanggal 4 Juni 2010 saya sidang. Praktis saya hanya memiliki waktu tidak lebih dari tiga minggu untuk finishing skripsi dari jadwal sidang sampai ke keberangkatan saya untuk tour de Sumatera. Saya sangat yakin kalau saya pasti bisa menyelesaikan target itu.

Namun,apa yang kita rencanakan seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Hal ini untuk kesekian kalinya terjadi pada saya. Seminggu setelah saya sidang, mama saya kena musibah yang mengharuskan saya untuk pulang beberapa hari ke rumah karena saya sangat mengkhawatirkan kondisi mama. Hal ini tentu memangkas waktu yang saya punya untuk perbaikan skripsi.

Saya tidak lama di rumah, hanya 4 hari (termasuk perjalanan Bogor-Jember-Bogor lho ya). Tapi walaupun hanya 4 hari ternyata hal ini pengaruhnya sangat besar dalam memangkas waktu untuk menyelesaikan skripsi. Setelah kembali ke kampus, ternyata saya tidak bisa langsung finishing skripsi dikarenakan susah sekali mendapatkan jadwal yang sama antara dua dosen pembimbing saya.

Aarrrggghhh, I have no much time!!

Bukan hanya karena jadwal traveling, tapi juga karena daftar wisuda yang sudah hampir memenuhi kuota. Di IPB itu tiap wisuda ada kuotanya, 800 orang/acara wisuda. Kalau misalkan yang daftar sudah mencapai 800 orang, maka mahasiswa yang mendaftar akan masuk ke daftar WL (waiting list) ke wisuda berikutnya. Aduhuuhh, saya nggak mau lagi nunda wisuda terlalu lama karena nggak enak sama orangtua saya. Maklum, udah kelamaan di kampus! Hehehe… :p

Memang ya, yang namanya skripsi itu penuh perjuangan dan Alhamdulillahnya saya harus melewati perjuangan yang ternyata cukup menguras energi dan emosi saya.

Anyway, setelah bertemu dosen PS, ternyata perbaikan yang saya buat masih jauh dari perfect menurut mereka. Saya harus memperbaiki lagi skripsi saya. Aaarrrggghhh…

Segera saya memperbaiki skripsi saya dan langsung saya serahkan ke dosen PS. Dosen PS saya meminta waktu beberapa hari untuk membaca draft saya. Ternyata eh ternyata, selama ini skripsi saya tidak pernah dibaca sama dosen PS saya. I mean, beliau membacanya hanya scanning saja. Nah, pas udah mau masuk tahap perbanyakan, barulah beliau membaca dengan detil setiap kalimat dan content yang saya tuliskan. Walhasil, ternyata masih banyak yang harus ditambahkan dan ada beberapa pengujian yang harus diganti. Huuuaaaaa…. :((

Kebayang nggak sih gimana perasaan saya saat itu? Mendadak, migraine saya kumat sekumat-kumatnya. Pengen nangis rasanya saat berada di ruangan dosen. Apalagi kalau ingat hari itu adalah sehari sebelum jadwal keberangkatan saya ke Medan. Terus lagi, kalau ingat kuota wisuda Juli yang sudah lebih dari 750 mahasiswa yang mendaftar. Dan yang paling menyedihkan adalah, saya harus kembali mengecewakan papa saya karena sebelumnya saya sudah bilang kalau saya bisa wisuda Juli ini. Huaaa… Desperado banget saya waktu itu… Rencana saya berantakan, teramat sangat berantakan. Amburadul abis!

Sampai di kostan saya nangis sejadi-jadinya. Menumpahkan semua kekesalan dan emosi saya. Namun, disaat saya sedang desperate banget dan nggak bisa mikir dengan jernih, Alhamdulillahnya ada mas Agung Baskoro yang tiba-tiba mengingatkan saya untuk selalu menikmati proses. Inilah salah satu hal yang mengembalikan kesadaran saya dan membuat saya “normal” lagi. Ternyata saya telah melupakan “chapter menikmati proses” itu saat finishing skripsi ini. Saya diburu-buru oleh ini-itu, diburu-buru oleh banyak hal.

Alhamdulillah, setelah dapat beberapa nasihat dari mas Abas, saya menjadi lebih tenang. Namun tetap, saat itu saya gamang, teramat sangat gamang. Mau fight perbaikan skripsi dalam beberapa hari atau pergi backpacking tour de Sumatera.

Pilihannya begini, kalau saya fight untuk perbaikan skripsi, saya harus mengikhlaskan tour de Sumatera saya. Namun, sebenarnya saya gambling dengan hal ini. Mengapa? Karena walaupun saya sudah fight sekuat tenaga untuk menyelesaikan perbaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (kok kayak baca naskah proklamasi ya? :p), saya nggak bisa memprediksi factor X yang akan terjadi. Factor X ini tidak lain dan tidak bukan adalah PS saya. Iya kalau PS saya langsung approve skripsi saya, lah kalau nggak? Kan rugi dua kali jadinya! Udah nggak jadi jalan-jalan, nggak bisa wisuda bulan Juli pula! Ditambah lagi saya harus kejar-kejaran sama pendaftar wisuda yang lain untuk mengambil kuota yang tersedia. Tapi kalau saya nggak fight, saya otomatis menghilangkan kemungkinan untuk bisa wisuda bulan Juli. Hmmm, kok saya jadi puyeng nentuin pilihan ya! Tidur aja deh! Hehehe… :p

Detik-Detik Terakhir

Bangun tidur ternyata kondisi saya tidak terlalu baik. Migraine saya masih nyut-nyutan. Saya coba untuk ngedit skripsi saya, eh malah makin menjadi-jadi nyut-nyutan di kepala saya. Akhirnya saya tutup skripsi dan beberapa text book yang berserakan di sekitar saya. Saya harus mengambil sikap. Saya nggak bisa seperti ini. Pikiran saya dimana, tapi hati saya dimana.

Dan akhirnya saya harus memilih. Saya butuh liburan. Saya memilih Tour de Sumatera!! Horray!! :p

Tapi jangan dikira setelah saya memilih tour de Sumatera semuanya beres. Ada satu masalah. Saya nggak mungkin menjalani tour de Sumatera sesuai rencana di atas karena saya harus segera kembali ke kampus untuk menyelesaikan skripsi saya. Akhirnya saya harus meng-cut beberapa destinasi tour de Sumatera.

Saya hanya memiliki waktu seminggu untuk liburan, escaping from my final assignment for a while. So, dengan waktu hanya seminggu, saya hanya bisa ke Medan, Bukittinggi dan Padang saja. Nggak papa lah, daripada harus berkubang terus dalam skripsi yang bikin puyeng.

Tapi ternyata masih ada masalah lagi. Saya belum beli tiket pesawat Padang-Jakarta! Huaaa… ada aja hambatannya!

Saya langsung search tiket pesawat termurah dari maskapai domestik yang ada di Indonesia. Gilaaa, harga tiket pada mahal banget soalnya lagi liburan sekolah. Semua tiket yang tersedia di atas budget yang saya punya. Huaaa… puyeng lagi kepala saya… jangan sampe bisa pergi tapi nggak bisa pulang!

Saya nggak bakalan memaksakan diri kalau memang tiketnya jauh di atas budget yang saya tetapkan. Walaupun backpacker, bukan berarti saya tanpa perhitungan dan perencanaan yang jelas serta berani ngambil resiko yang sudah dengan jelas-jelas dapat menjerumuskan saya pada kondisi teramat sangat miskin setelah traveling! Hehehe… :p

Tapi saya dengan sabar mencari-cari tiket termurah. Dan akhirnya, jam dua belas siang saya bisa menemukan tiket yang paling murah. I mean, masih dalam budget saya. Tanpa pikir panjang saya langsung klik sana klik sini dan itinerary tiket pesawat Padang-Jakarta langsung masuk ke email saya. Fiuuhhh… Legaa… saya bisa pulang nanti… hehehe… :p

Yeey, Tour de Sumatera jadi kenyataan… 😀

*klik disini untuk baca lanjutannya

Bogor, 3 Juli 2010 03:40

~Okvina Nur Alvita

Continue Reading

Asia | Cerita Traveling

Wulan (Host di Singapura)

By on June 3, 2010

Sebelum saya berangkat traveling, saya pasti akan mencari host yang mau menampung saya secara gratis ketika saya berada di kotanya. Destinasi terakhir saya saat Asean Trip Februari lalu adalah Singapura. Saya langsung search host yang tinggal di Singapura melalui situs jejaring backpacker www.couchsurfing.org. Cukup banyak member yang tinggal di Singapura dan saya pun me-request ke beberapa orang untuk bisa surf di couch-nya (hehehe… :D). Tapi dari sekian orang yang saya request, tidak satupun membalas message saya.

Dag-dig-dug-dag-dig-dug, huaaa… it means, saya harus meluangkan sekian dolar uang saya untuk bayar hotel. Masalahnya adalah, Singapura itu mahal gila! Mana ini juga destinasi terakhir, jadi pastinya uang saya nanti tinggal sisa-sisa saat saya sampai di Singapura. Huhuhu, sempet takut juga sih nanti saya bakalan kekurangan uang saat di Singapura. Tapi saya nggak patah semangat, walaupun Asean Trip saya sudah berjalan, saya tetap dengan rajinnya mencari host yang mau dan bisa menampung saya saat saya di Singapura.

Sebenarnya saya memiliki dua kakak kelas satu SMA yang saat ini sedang stay di Singapura, mbak Novrida dan mbak Wulan. Tapi kok kebetulan juga saat itu mereka lagi nggak bisa untuk jadi host saya.

Mbak Novrida nggak bisa karena saat itu dia sedang UAS. Di apartemen mbak Novrida (yang ditinggalinya bersama beberapa temannya) ada peraturan tidak tertulis kalau sedang ujian, penghuni apartemen tidak boleh membawa tamu dari luar untuk menjaga kondusifitas suasana belajar saat masa ujian. So, dengan sangat menyesal, mbak Novrida memberitahu saya kalau saya nggak bisa tinggal di apartemennya selama saya di Singapura.

Mbak Wulan Aquariyanti dan suaminya, mas Nino Wicaksono

Mbak Wulan, “atasan” saya saat saya tergabung di OSIS SMAN 1 Jember masa bakti 2002/2003. Saya sudah menghubungi mbak Wulan untuk request numpang tinggal sebelum saya berangkat Asean Trip. Tapi kebetulan juga di tanggal yang sama ketika saya di Singapura, adik ipar mbak Wulan juga mau jalan-jalan ke Singapura, jadi otomatis satu-satunya kamar kosong yang ada di apartemennya akan dipakai sama adik iparnya. It means, saya juga nggak bisa numpang di apartemen mbak Wulan. Fiuuuhhhh, susahnya cari host… 🙁

But you know, karena emang mbak Wulan yang orangnya super duper baik, di saat-saat terakhir sebelum saya sampai di Singapura, mbak Wulan kasih kabar ke saya kalau saya bisa numpang di apartemennya selama saya di Singapura nanti. Yeeyy, Alhamdulillah, uang untuk sewa youth hostel bisa disimpan untuk beli es krim! Hehehe… 😀

Jadi-jadi, mbak Wulan bilang ke adik iparnya kalau ada backpacker kere (hahaha… ngatain diri sendiri! :D) yang mau ke Singapore. And unfortunately, backpacker kere itu mantan adik kelas mbak Wulan waktu di SMA. Terus mbak Wulan nanya ke adik iparnya, “boleh nggak kalau share kamar selama dia di Singapore? Nggak lama kok, paling lama dua hari aja” (kira-kira begitulah mbak Wulan nanya ke adik iparnya). Dan emang adik ipar mbak Wulan juga baik, dia mengiyakan. Jadilah saya bisa numpang di apartemen mbak Wulan. Begitu ceritanya.

Jangan tanya lagi gimana baiknya mbak Wulan. Dia ngejemput saya ke stasiun MRT Khatib, masakin sarapan buat saya selama saya di Singapura, ngebikinin direction yang jelas untuk ke tempat-tempat yang worth it dikunjungi di Singapura, saya dipinjemin laptop plus koneksi internetnya, saya bebas masak dan “menjarah” isi kulkasnya, terus mbak Wulan juga ngasih saya koin dolar Singapura yang jumlahnya banyak banget untuk ongkos naik bus, MRT dan beli es krim! Hehehe… 😀 Baik banget kan kakak kelasku yang satu ini?

Pokoknya Alhamdulillah banget deh mbak Wulan bisa jadi host saya waktu saya backpacking ke Singapura. Makasih banyak ya Mbak Wulan… 🙂

Bogor, 31 Mei 2010 15:04

~Okvina Nur Alvita

Continue Reading

Asia | Cerita Traveling

Restu (Host di Kuala Lumpur)

By on May 22, 2010
Restu Wijaya M.

Saya mengenal Restu saat saya sudah berada di kamarnya, naruh barang, dan keliling KL. Pasti Anda berpikir, “Lho kok?”. Pasti bingung kan gimana caranya saya bisa masuk ke kamar Restu padahal saya masih belum kenal sama dia?

Jadi begini ceritanya. Saya sudah berusaha menghubungi beberpa host yang ada di KL melalui situs jejaring backpacker. Tapi semua yang saya hubungi nggak bisa nge-host-in saya karena jadwal kedatangan saya pas banget sama liburan lunar new year disana. Jadi mereka juga pengen liburan, so nggak bisa nerima tamu dulu untuk sementara. Aduh, saya bingung dong karena harus menyiapkan uang ekstra untuk sewa hostel. Tapi memang ya, pertolongan Tuhan pasti selalu ada.

Saya punya teman, namanya Puspa. Puspa pernah dapat student exchange di Universiti Malaya. Pastinya Puspa punya banyak kenalan dong disana. Jadi, saya langsung minta tolong sama Puspa untuk menghubungi temannya supaya saya bisa tinggal (gratis, catet ya) di tempat teman Puspa yang ada di KL. Nah, kebetulan Puspa juga mau jalan-jalan ke Malaysia dan Singapura saat saya sudah di Malaysia. Jadilah yang menjemput saya ke stasiun, eh salah bukan stasiun, ke lobby kolej kediaman 12 Universiti Malaya itu Puspa dan bukan Restu. Dan saya baru kenalan dengan Restu setelah saya sudah naruh barang, mandi, sarapan, jalan-jalan keliling KL sama Puspa karena waktu saya sampai di kamar Restu, orangnya masih tidur. 😀

Restu orang Indonesia dari Bangka Belitung yang memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi S1 di Universiti Malaya. Dia tinggal di salah satu dormitory yang ada di areal University Malaya. Saat saya numpang tinggal di kamar Restu, Restu sampai ngebela-belain untuk ngungsi di kamar temannya biar saya dan Nisun bisa tidur di kasurnya. Restu juga meminjami saya dan Nisun laptop plus koneksi internetnya. Baik banget deh Restu ini.

Restu mengenalkan saya pada beberapa temannya yang juga berasal dari Bangka Belitung. Saya bisa ngobrol lumayan banyak dengan Restu, tentang kehidupan mahasiswa disana, tentang pandangan orang Malaysia pada Indonesia dan juga tentang beberapa perlakuan dosen Restu yang agak mendiskreditkan Indonesia.

Sungguh, menyenangkan jika bisa bertemu dengan orang Indonesia di negeri orang. 🙂

Bogor, 21 Mei 2010 09:18

~Okvina Nur Alvita

Continue Reading

Asia | Cerita Traveling

Teman-Teman Saya (Sesama Backpacker)

By on May 19, 2010

Saat saya traveling ke Phnom Penh saya menginap di apartemen Mariam. Host yang saya temukan dari situs www.couchsurfing.com. Di apartemen itu ada beberapa traveler lain yang juga sedang menginap disana. Inilah yang saya sukai jika saya menginap di apartemen host yang berasal dari situs jejaring backpacker. Kami saling berkenalan, berbagi cerita dan saling merekomendasikan “do and don’t” jika sedang traveling di suatu tempat. Dan inilah teman-teman sesama traveler yang saya temui di Phnom Penh.

Alex Kindeev dan Selena

Alex dan Selena adalah couple plus traveler yang berasal dari Rusia. Mereka sedang dalam program menjelajah Asia selama 6 bulan. Wow, tidak terbayangkan oleh saya mereka traveling selama itu. Apa nggak capek ya? Saya aja yang traveling dua minggu lebih keliling Asean gempornya udah ampun-ampunan! Hehehe… maaf ya kalo jadi curcol. 😀

Saya dan Selena banyak bercerita tentang negara kami masing-masing. Selena cerita tentang Rusia dan saya cerita tentang Indonesia. Awalnya Selena dan Alex tidak akan mengunjungi Indonesia, tapi setelah mendengar cerita saya tentang Indonesia dan saya tunjukkan beberapa gambar Indonesia (yang ada di brosur tentang Indonesia yang saya peroleh dari Kedubes Indonesia di Phnom Penh), mereka jadi sangat tertarik untuk mengunjungi Indonesia. Dan Alex akhirnya juga cerita pada saya kalau menurut teman-temannya yang pernah mengunjungi negara-negara Asia, Indonesialah yang paling cantik. Bangga dong kita jadi orang Indonesia? 🙂

Yang istimewa dari Alex dan Selena adalah mereka (menurut saya) ini yang dinamakan backpacker sejati. Mereka traveling dari Rusia menjelajah negara Asia dengan menempuh jalur darat! Dan jalur darat yang mereka tempuh itu bukan dengan beli tiket kereta atau bus, tapi dengan numpang kendaraan yang kebetulan lewat dan satu jurusan dengan tujuan mereka! Hebat kan?? Selain itu, untuk mengurangi pengeluaran akomodasi (penginapan) di suatu daerah yang tidak ada host-nya, mereka tidur di dalam tenda yang mereka bawa. Wow, It’s sooo cool… Inilah backpacker sejati…

Kalau ingin tahu “gilanya” lagi si Alex dan Selena ini, saat mengunjungi Angkor Wat, mereka beli tiket kunjungan satu hari, tapi mereka mengunjungi Angkor Wat selama tiga hari! Hari pertama mereka mengunjungi candi-candi yang membutuhkan tiket untuk bisa masuk ke dalamnya dan pada hari kedua dan ketiga mereka mengunjungi candi lain yang tidak membutuhkan tiket masuk. Alex dan Selena merekomendasikan untuk tidak perlu membeli tiket tiga hari, cukup tiket sehari saja, tapi manfaatkan untuk tiga hari. Saya bertanya ke mereka “lho, di gerbang utamanya apa nggak ada pengecekan tiket?”. Mereka jawab pertanyaan saya seperti ini “Hari kedua dan ketiga kami nggak lewat gerbang utama karena kami menginap di dalam areal Angkor Wat dengan mendirikan tenda yang kami bawa”. Wow, amazing! This is it, the real backpacker!! Tapi saya jadi terheran-heran, kok mereka nggak takut ya sama ranjau darat yang masih banyak tersebar di beberapa areal Angkor Wat?

Saat di Phnom Penh, Alex dan Selena ingin mengurus sesuatu di Kedutaan Besar Rusia yang ada disana. Tapi tahu bagaimana kedutaan Rusia memperlakukan mereka? Petugas kedutaan tidak memperbolehkan mereka untuk masuk kedutaan! Ya ampun, padahal kan mereka warga negara Rusia… Saya waktu itu juga ke kedutaan Indonesia di Phnom Penh untuk minta brosur-brosur tentang Indonesia, dan saya disambut baik disana. Waktu Alex dan Selena tahu bagaimana kedutaan besar Indonesia memperlakukan warganya, otomatis mereka sangat iri sama saya…

Yah, itulah Alex dan Selena, the real backpacker from Russia.

Andrew Manos

Andrew, traveler dari US. Dia juga sedang dalam program 6 bulan menjelajah Asia. Saya jadi heran, kenapa orang bule pada kuat-kuat ya jadi backpacker dalam waktu yang relatif lama. Setengah tahun bo!

Secara fisik Andrew lumayan macho lah ya. Bentuk tubuhnya proporsional dan penampakan (halah) wajahnya lumayan oke untuk ukuran orang US yang kata Trinity nggak ada yang cakep, kecuali bintang-bintang Hollywood. Orangnya ramah, lucu, nyenengin deh pokoknya.

Saat malam hari ketika kami sudah pulang ke apartemen setelah seharian menjelajah Phnom Penh, biasanya kami ngobrol. Berbagi cerita mengenai diri satu sama lain.

And, you know, Andrew menurut saya sudah menjelajah seluruh dunia. Dia pernah tinggal di Afrika, di Eropa, di Australia, beberapa bulan sebelumnya dia bekerja di sebagai pelayar di samudera hindia dan sekarang dia lagi backpacker-an keliling Asia! Wow, hanya ada satu kata, Keren! Saya benar-benar nggak ada apa-apanya dibanding Andrew!!

Saya sempat ngobrol banyak dengan Andrew, seperti biasa, kami saling cerita tentang negara kami masing-masing. Andrew menurut saya adalah salah satu teman ngobrol yang menyenangkan. Dia ramah dan lucu. Kami main tebak-tebakan umur. Kalau dari penampilan fisik, si Andrew ini seperti masih berumur twenty-something gitu, tapi ternyata umurnya udah 32! Baru kali ini saya ngeliat bule yang mukanya terlihat lebih muda dari usianya.

Andrew bilang dia akan mengunjungi Indonesia dan saya bilang ke Andrew kalau saya bisa mencarikan penginapan gratis untuk dia kalau dia mau mampir ke Bogor. Tapi tentu saja tidak di rumah saya karena nggak mungkin nginepin tamu cowok. Saya bilang ke dia akan mencarikan teman saya yang bisa nampung dia. Terus dia ngebecandain saya “Nggak ah, saya mau di rumah kamu saja. Terus saya bilang ke orang tua kamu kalau saya pacar kamu dan ingin menikah dengan kamu. Pasti nanti ayah kamu akan memarahi kamu. Hahaha…”.

Saya beruntung kenal dengan Andrew karena dari dia saya jadi tahu travel mana yang menyediakan tiket ke Siam Reap dengan harga yang murah. Yeey, inilah salah satu untungnya punya teman sesama backpacker… 🙂

Echo

Echo, seorang traveler perempuan dari China (aduh, dari China atau Macao ya? Saya lupa… Maaf…). Dia seorang fotografer. Dia memiliki program 3 bulan keliling Asia. Selain untuk hunting foto, dia juga akan menulis sebuah buku. Sayangnya saya nggak sempat ngobrol banyak dengan Echo karena dia harus segera ke Siam Reap. Tapi dalam waktu yang terbatas itu Echo masih sempat menyarankan pada saya tempat mana saya yang worth it untuk dikunjungi dan mana yang nggak terlalu worth it. Oh iya, Echo ini traveling sendirian lho selama 3 bulan! Padahal dia perempuan. Hebat kan?

Bogor, 19 Mei 2010 15:03

~Okvina Nur Alvita

Continue Reading

Asia | Cerita Traveling

Nick (Host di Bangkok)

By on April 12, 2010
Nick

Seperti halnya Mariam, saya mengenal Nick dari situs jejaring backpacker juga. Tapi kali ini situs www.hospitalityclub.org. Saya percaya sama Nick karena ia juga seorang backpacker dan telah menjadi host dari puluhan backpacker yang sedang traveling di Bangkok. Hal inilah yang lagi-lagi, membuat saya berani untuk request tinggal di apartemen orang yang belum saya kenal sebelumnya.

Sama seperti message saya pada Mariam, saya juga bilang pada Nick kalau saya akan traveling ke Bangkok selama beberapa hari dan jika diizinkan saya ingin menginap di apartemen Nick. Nick mengiyakan permohonan saya itu. Pastinya saya senang dong karena lagi-lagi saya bisa menekan pengeluaran saya.

Menjelang kedatangan saya di Bangkok, Nick mulai rajin mengirim message pada saya. Dia menanyakan saya naik apa ke Bangkok dan pada jam berapa saya sampai di Bangkok. Saya tidak bisa memberikan kepastian pada Nick karena saya akan menempuh perjalanan darat dari Siem Reap-Bangkok. Perjalanan darat inilah yang agak rawan macet dan banyak berhenti untuk istirahat. Oleh sebab itu, kami bertukar nomor handphone.

Selama perjalanan Siem Reap-Bangkok, Nick dengan sangat rajinnya memantau saya melalui sms. Dia selalu menanyakan, saya sudah sampai mana dan kira-kira jam berapa sampai di Bangkok. Saya sampai di Bangkok terlambat sekitar 2 jam dari jadwal yang diberikan oleh travel agent. Dan selama dua jam itu pula Nick selalu menghubungi saya.

Sesampainya di Bangkok, saya member kabar pada Nick. Lalu Nick memberikan direction menuju salah satu landmark yang terdekat dengan apartemen dan tempat kerjanya. Saya disuruh naik bus yang jurusan ke Victory monument. Setelah sampai di Victory monument, saya langsung menghubungi Nick dan dia bilang kalo saya disuruh nunggu di tempat bus nurunin saya. Saya nggak boleh kemana-mana, nanti Nick yang akan keliling cari saya. Kalau anda membayangkan Victory monument itu kecil, anda salah besar. Oke, Victory monument-nya sendiri sih memang nggak terlalu besar. Tapi tempat bus berhenti itu mengelilingi jalan di depan Victory monument, yang mana jalannya itu sangat-sangat lebar plus beberapa spot pemberhentian bus. Jadi Nick nggak bisa langsung nemuin saya. Dia harus berkeliling di setiap perberhentian bus di depan Victory monument dulu sampai akhirnya dia berhasil menemukan saya.

Setelah bertemu dengan Nick di Victory monument, dia mengantar saya ke apartemennya dengan naik taksi dan Nick yang ngebayarin ongkos taksinya! Baik banget kan si Nick itu… 🙂 Nah, pas sudah sampai di apartemennya, seperti Mariam, Nick juga menjelaskan beberapa rules kalo masih mau tinggal gratis di apartemennya. Saya langsung menyetujui semua rules itu. tapi saat tinggal di apartemen Nick, ada bonus untuk saya, saya bebas pakai laptop plus koneksi internet di kamarnya. Mantap kan?

Kalau di apartemen Mariam saya tidur di patio, di apatemen Nick saya tidur di kasur, tapi satu kamar dengan Nick! Bisa dibayangkan nggak saya tidur sekamar sama cowok bule yang baru saya kenal? Jangan mikir yang jorok ah! Itu harus dilakukan karena apartemen Nick itu seperti kost-kostan di Indonesia. Cuman ada kamar dan kamar mandi di dalam. Jadi mau nggak mau saya harus tidur sekamar sama dia. Tapi dasar emang Nick yang baik banget, dia nyuruh saya dan Nisun yang tidur di kasurnya dan dia yang tidur di lantai hanya beralaskan matras!

Mau tahu baiknya Nick lagi? Dia sengaja ngejemput saya, padahal dia masih ada kerjaan di kantor. Jadi setelah ngejemput saya dan nganter saya ke apartemennya, dia langsung balik lagi ke kantornya! Baik banget kan ya? Dia mau ngelakuin itu untuk orang yang belum dia kenal sebelumnya. Dan terlebih lagi dia percaya banget sama saya…

Sama halnya dengan Mariam, Nick juga orang yang sangat sibuk. Dia bekerja di salah satu travel agent Rusia yang berkantor di Bangkok. Dia seorang tour guide bagi wisatawan Rusia di Bangkok. Saya tidak memiliki waktu banyak untuk ngobrol sama Nick. Cuma malam hari dan pagi-pagi sebelum dia berangkat kantor. Dan obrolan kamipun sebatas konsultasi tempat wisata di Bangkok. Namun demikian dia pernah bilang ke saya dia agak merasa bersalah karena nggak bisa nemenin saya keliling Bangkok. Pikir saya: Ya elah, boleh numpang di apartemennya saja saya sudah bersyukur banget kali…

Saya sempat bertanya pada Nick kenapa dia baik sekali sama saya? Trus dia jawab: “because you are very beautiful and I like you…”. Jeger!! Hahaha, nggak ding bohong. Jawaban dia nggak seperti itu. tapi seperti ini, “Because I like Indonesian people. They are very kind, like you and all Indonesian who ever stayed in my apartment is very kind”.

Makanya travelers, penting sekali menjaga perilaku kita saat kita berada di luar negeri karena tanpa disengaja, kita telah menjadi duta Indonesia.

So, buat kamu yang mau traveling, have a nice trip yah…and don’t forget to behave yourself… 🙂

Continue Reading