Ladies Traveler

Perempuan Juga Bisa Keliling Dunia
Cerita Traveling | Thoughts

Asean Trip Sendirian? Why Not? :)

By on January 31, 2010

Dear All, setelah sakit ati karena gak bisa seminar tanggal 2 Februari 2010, saya akhirnya memfokuskan diri untuk nyiapin Asean Trip saya. Rencana traveling yang sudah saya susun sejak setahun yang lalu.

Rute Asen Trip yang saya buat adalah Vietnam (HCM City or Saigon), Kamboja (Phnom Pehn n Siem Reap), Thailand (Bangkok), Malaysia (KL), Singapore dan Batam. Saya sudah beli tiket pesawat dari bulan November tahun lalu (biar dapet tiket murah, tapi resikonya tiket yang kami beli fixed date, so tanggalnya gak bisa diganti-ganti). Saat itu rencana saya berangkat dengan dua orang teman (Irvan dan Nisun).

Waktu booking tiket pesawat harapan kami, semua urusan perskripsian sudah selesai dan tinggal wisuda tanggal 24 Februari.Tapi, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan (halah, ngedrama banget gak sih? hehehe.. ), urusan perskripsian kami bertiga ternyata belom selesai. Irvan dan saya belom seminar dan sidang, Nisun sudah seminar dan sidang, tapi belom perbaikan karena ditinggal PS-nya ke Iran.

3 Februari, jadwal berangkat kami untuk Asean Trip.

Dua minggu sebelum keberangkatan, Irvan memberitahu saya untuk mengurunkan niatnya karena skripsinya yang belom selesai. OMG, waktu tahu kalau Irvan gak jadi ikut, rasanya beban saya jadi dua kali lipat! Bayangin coba, traveling berdua doang sama si Nisun! It means, nggak ada cowok yang ngejagain kita berdua!! Saya sempet ngamuk2 plus ngambek parah sama Irvan, tapi ya harus gimana lagi? setiap orang berhak untuk memilih bukan?

Akhirnya, saya memantapkan hati untuk tetap traveling, kan masih ada Nisun… 🙂
Satu minggu sebelum keberangkatan, ada pengumuman kalau SKL (Surat Keterangan Lulus) harus sudah keluar sebelum tanggal 12 Februari kalau nggak mau kena SPP lagi. Nah, si Nisun yang tinggal perbaikan nggak mau dong bayas SPP lagi. Tapi dia juga nggak bisa perbaikan secepatnya karena dosennya masih di Iran dan baru pulang Senin besok… So, keputusannya adalah… dia juga out dari Asean Trip!!

OMG OMG OMG!!! Shock saya saat tahu hal itu!! Artinya, saya sendirian dunks traveling ke Asean??? Sempat gamang juga sih… apa dibatalin aja yah? Tapi ini tuh udah saya rencanain dari jaman tahun kemaren… dan kalo misalnya saya nggak berangkat Asean Trip, saya rugi dua kali dong, rugi tiket pesawat dan masih harus bayar SPP pula! mending salah satunya aja khan??? Akhirnya saya memantapkan diri untuk tetap berangkat walaupun sendirian… 🙂

Takut sih pasti ada, tapi saya mantapkan diri lagi kalau nggak ada yang nggak bisa dilewati di dunia ini. Saya pasti bisa backpacking sendirian. Saya jadi ingat cerita Trinity, Marina, Asma Nadia dan para backpacker cewek lainnya. Mereka bisa keliling dunia sendiri, lalu kenapa saya yang masih ngelilingin benua sendiri harus takut? Saya yakin saya pasti bisa. Yang saya butuhkan sekarang adalah persiapan yang matang.

Saya tidak ragu lagi untuk berangkat Asean Trip, apalagi setelah baca travelers’ tale-nya Adhitya Mulya, et all. Saya hanya butuh observasi yang selengkap-lengkapnya tentang semua hal yang berkaitan dengan negara tujuan saya. Dan itu bisa dilakukan via internet.

Yah, saat ini saya sedang mengumpulkan semua (tepatnya: melengkapi) informasi tentang transportasi, penginapan, host, tempat wisata, makanan, dll yang dibutuhkan saat traveling nanti. Doain saya ya temen-teman… Semoga backpacking saya yang pertama ini lancar… 🙂

Bogor, 31 Januari 2010
~Okvina Nur Alvita

Continue Reading

Thoughts

Tentang Template Blog Ini

By on January 27, 2010

Kenapa saya milih template ini?
Menurut saya, template ini mewakili jiwa saya.

Kita pretelin satu per satu yah…

Foto-foto, saya suka traveling dan mulai belajar gimana caranya ngambil foto yang bagus (baca: jadi fotografer). Saat saya sedang traveling, pastinya saya foto-foto dunks untuk mengabadikan moment dan tempat yang sedang saya kunjungi. Jadi foto mewaliki dunia traveling saya.

Pensil-pensil, saya suka nulis, jadi pensil mewakili dunia tulis-menulis.

Agenda, saya orang cukup sibuk, sibuk dengan segala aktivitas yang saya jalani. Saya selalu butuh agenda untuk meng-organizad semua aktivitas saya.

Kopi, kopi selalu identik dengan sesuatu yang nyaman dan menyenangkan. Bagi saya, menikmati kopi sama dengan menikmati hal-hal yang saya suka.

That’s all. 🙂

Continue Reading

Cerita Traveling | Eropa

Cerita Bekpeker Dadakan (Full Version)

By on January 7, 2010

Tanggal 7-18 Mei 2009 yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Jerman untuk menghadiri International Student Week in Ilmenau (ISWI) 2009. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 9-16 Mei. So, saya memiliki 2 hari free diawal dan 2 hari free di akhir, sebelum saya pulang ke tanah air. Dua hari free diawal digunakan delegasi Indonesia (jumlahnya 19 orang) untuk latihan persembahan budaya di acara culture exchange. Dan dua hari free diakhir… acara bebas! Pastinya, saya nggak ingin membuang sedikit kesempatan yang sangat langka ini doonk (kapan lagi coba ke Jerman??). Jadi untuk mengisi dua hari kosong itu, saya merencanakan untuk mengunjungi beberapa kota di Jerman yang dekat dengan Frankfurt. Kota-kota yang saya kunjungi adalah Heidelberg, Mann Heim dan Kassel. Saya mengunjungi ketiga kota itu bersama beberapa teman saya dan dipandu oleh satu orang mahasiswa Indonesia (sebut saja Anto, bukan nama sebenarnya) yang sedang studi disana.

Heidelberg, Mann Heim & malam terakhir di Frankfurt

Bersama beberapa mahasiswa Indonesia di Mann Heim

Tanggal 17 Mei saya mengunjungi Heidelberg dan Mann Heim. Saya mengunjungi dua kota ini bersama tiga orang teman saya, Ima, Rahmat, Andrei (warganegara Belarus) dan tentu saja, mas Anto sebagai guide.

Kota pertama yang dikunjungi adalah Heidelberg. Kami mengunjungi Universität Heidelberg dan Kastil Heidelberg. Setelah puas foto-foto dan hunting beberapa souvenir untuk oleh-oleh (souvenir disini harganya lebih murah dibanding souvenir yang dijual di Frankfurt, padahal barangnya sama!), kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Mann Heim.

Heidelberg dan Mann Heim tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar 15 menitan naik kereta untuk sampai ke Mann Heim. Sesampainya di Mann Heim, kami disambut oleh tiga orang Indonesia yang sedang studi di kota ini, yang tidak lain adalah kenalan dekat mas Anto. Eka, Ina dan Martha. Mereka ramah sekali. Kami diajak keliling kota Mann Heim. Kami mengunjungi town garden Mann Heim dan Universität Mann Heim. Setelah puas jalan-jalan dan foto-foto (pastinya), kami harus kembali ke Frankfurt karena matahari sudah mulai surut di ufuk barat. Terlebih lagi, kami harus memenuhi undangan makan malam dari teh Awat, orang Indonesia yang tinggal di Frankfurt karena menikah dengan pria Jerman.

Setengah sebelas malam waktu Jerman kami sampai di apartemen teh Awat. Dia dan keluarga kecilnya, serta beberapa orang Indonesia yang tinggal disana sudah menunggu kami… Teh Awat menyiapkan makan malam khas Indonesia (nasi, ayam bakar, tempe-tahu goreng, tumisan, dan sambal). Teh Awat tahu banget kalo saya dan teman-teman sudah sangat rindu dengan masakan Indonesia. Secara ya, saat konferensi berlangsung, menu dari sarapan sampai makam malam, semuanya menu orang bule. Buat orang Indonesia yang dari kampung seperti saya ini ya eneg juga tiap hari makan roti-roti dan roti lagi (apalagi roti disana kan beda sama roti di Indonesia)… hehehe… norak mode on :P. Nah, setelah kenyang dan ngobrol sebentar dengan tuan rumah, saya dan kawan-kawan saya memutuskan untuk pulang ke flat teh Mira (hehehe, nggak sopan ya? Setelah kenyang, langsung pulang…).

Makan malam terakhir di Jerman sungguh sangat menyenangkan. Udah gratis, dijamu masakan Indonesia yang enak dan bergizi, orang-orangnya ramah lagi! Berasa seperti di rumah sendiri gitu… J

Saudara dadakan di Jerman

Teh Awat

Teh Awat, satu dari sekian banyak orang Indonesia yang tinggal di Jerman. Teh Awat orang Sunda tulen. Walaupun sudah lancar berbahasa Jerman, tapi tetap saja logat Sundanya masih kelihatan. Bisa kebayang nggak, bahasa Jerman logat Sunda? Walaupun demikian, teh Awat orangnya baik sekali. Perkenalan saya dengan teh Awat hanya berumur satu hari. Itupun karena saya “dititipin” oleh teh Mira (teh Mira akan saya ceritakan di bagian berikutnya).

Jadi ceritanya, tanggal 16 Mei saya harus kembali ke Frankfurt dari tempat konferensi (Ilmenau). Saya harus ke Frankfurt malam itu juga karena saya harus menemani satu teman saya (Puspa), yang harus take off ke Indonesia tanggal 17 Mei jam 12.30 siang waktu Jerman. Seharusnya, saya dijemput di Frankfurt oleh teh Mira, tapi karena teh Mira harus ke kota lain saat itu, jadi dia nitipin saya dan Puspa ke teh Awat (mas Anto yang sudah saya kenal sebelumnya, saat itu juga sedang ada acara di Aachen dan baru kembali ke Frankfurt tanggal 17 Mei pagi). Walaupun baru kenal sama teh Awat, tapi rasanya sudah seperti saudara sendiri.

Malam-malam dia menjemput saya dan Puspa ke stasiun Frankfurt, lalu mengantar kami ke flat teh Mira. Besoknya, dia sudah datang pagi-pagi, untuk nganterin Puspa ke bandara plus ngebawain sarapan untuk saya dan Puspa. Karena koper Puspa rusak, dia juga nyediain tas pengganti supaya barang-barang Puspa nggak amburadul. Masih ngundang saya dan teman-teman yang lain makan malam pula! Ckckck… udah lebih dari sodara deh kayaknya…

Teh Mira sama calon suaminya

Nah, kalo teh Mira, saya juga baru kenal dengan dia waktu di Jerman. Tapi orangnya, luar biasa juga baiknya! Teh Mira kerja di KJRI Frankfurt. Teh Mira sebelumnya juga Alumni ISWI, so kayak ada ikatan alumni gitu… Dua hari sebelum delegasi Indonesia, berangkat ke Ilmenau, kami tinggal di Wisma Indonesia yang ada di Frankfurt untuk persiapan pertunjukan budaya (delegasi Indonesia berasal dari beberapa universitas n baru ketemu satu sama lain saat di Jerman). Jangan dikira untuk dapat tinggal di Wisma Indonesia itu mudah, walaupun kita orang Indonesia! Yang namanya pemerintahan Indonesia, dimana-mana sama! Walaupun udah di luar neger, birokrasi tetap ada. Nggak sembarangan orang bisa singgah di Wisma Indonesia. Apalagi kalo cuman mahasiswa yang mau ikutan konferensi. Nggak ada kepentingan apapun yang bisa menguntungkan pejabat-pejabat Indonesia disana. Tapi berkat bantuan dari teh Mira yang memperjuangkan agar kami bisa tinggal di Wisma Indonesia, akhirnya kami bisa tinggal disana selama dua hari walaupun dengan fasilitas yang terbatas. Salute deh untuk teh Mira yang telah memperjuangkan kami, para mahasiswa Indonesia (halah).

Teh Mira juga yang ngurus kami selama dua hari pertama di Frankfurt. Mulai dari ngejemput di bandara, nemenin latihan persembahan budaya, ngurus kostum untuk kami, dan bersama teman-temannya menyiapkan makanan untuk kami supaya kami lebih irit selama dua hari di Frankfurt. Teh Mira juga nggak keberatan flat-nya “disesaki” oleh beberapa teman saya, dan termasuk juga saya (hehehe… :P), yang numpang di flatnya setelah izin menempati Wisma Indonesia habis… Pokoknya, teh Mira is our hero dah…:)

Hari terakhir di Jerman (rasanya campur aduk!)

Oke, balik lagi ke cerita jalan-jalan saya di Jerman.

Tanggal 18 Mei adalah hari terakhir saya disana karena visa saya habis pada tanggal tersebut. Tapi karena pesawat saya baru berangkat dari Frankfurt pukul 23.55 waktu setempat, saya memutuskan untuk mengunjungi kota Kassel terlebih dahulu sebelum saya pulang ke Indonesia.

Personil untuk kunjungan ke Kassel tidak sama seperti personil kunjungan ke Heidelberg pada hari sebelumnya. Dua orang teman saya tidak dapat ikut serta karena jadwal penerbangan Andrei pukul 7 pagi waktu setempat. Sedangkan Rahmat juga tidak dapat ikut ke Kassel karena ia ada janji untuk bertemu dengan sahabat baiknya dari Brussel. Jadi, yang berangkat ke Kassel hanya saya, Ima dan mas Anto.

Saya harus menempuh perjalanan selama 2 jam dengan kereta untuk dapat sampai di Kassel. Kereta saya berangkat dari stasiun kereta api Frankfurt am Main pukul 11.23 waktu setempat. Setengah perjalanan saya tertidur karena malamnya saya hanya tidur 3,5 jam. Saya terbangun dari tidur karena mendengar pembicaraan orang yang tidak terlalu keras tapi cukup membuat tidur saya terganggu. Namun saya tidak tahu apa yang dibicarakan karena menggunakan bahasa Jerman.

Setelah saya membuka mata, saya baru sadar kalau ada dua orang asing yang sedang berbicara dengan mas Anto. Ternyata kedua orang asing itu adalah polisi yang sedang berpatroli menggunakan pakaian bebas.

Polisi tersebut mengecek kelengkapan dokumen-dokumen terkait dengan kewarganegaraan dan izin tinggal di Jerman. Yang jadi permasalahan disini adalah mas Anto tidak membawa paspor dan visa-nya. Akhirnya saya dan kawan saya harus ikut ke kantor polisi di Kassel. Deg-degan juga saya digiring ke kantor polisi oleh dua orang polisi lain yang menggunakan pakaian seragam. Pokoknya keadaan saya waktu itu udah kayak tawanan apaa…gitu.

Sebenarnya, saya tidak ada masalah dengan dokumen-dokumen izin tinggal saya di Jerman. Tapi polisi Kassel agak mempermasalahkan karena visa saya berakhir pada tanggal itu juga. Saya ditanya-tanya mengenai ada urusan apa sehingga saya harus ke Kassel, kapan saya pulang, naik pesawat apa, dan jam berapa pesawat saya take off dari bandara Frankfurt. Ya saya jawab semua pertanyaan polisi itu dengan lancar, karena semua perjalanan saya selama di Jerman sudak fix.

Saya dan kawan saya menunggu di kantor polisi Kassel selama 1 jam. Selama satu jam itu kami diawasi oleh satu polisi yang masih tergolong muda (dan lumayan good looking lah… J). Saat itu suasananya sangat mencekam, tapi dalam suasana seperti itu, saya dan Ima masih sempet-sempetnya juga ngerumpiin tuh polisi (tentunya dalam bahasa Indonesia, biar dia nggak tahu apa yang kami bicarakan. Hihihi… 😀 kapan lagi coba bisa ngerumpiin bule ganteng di depan muka orangnya… hehehe… :P).

Setelah satu jam, akhirnya kami diizinkan untuk keluar dan paspor-visa kami yang sempat ditahan, dikembalikan oleh polisi Kassel. Tapi, mas Anto tidak diperbolehkan untuk pulang bersama kami karena ada berbagai urusan yang harus dia selesaikan.

Awalnya saya berkeras untuk menemani mas Anto sampai urusannya selesai, namun dia juga berkeras supaya saya dan Ima keliling Kassel dan kami harus menemukan Hercules Castle. Akhirnya kami mengalah, kami keluar dari kantor polisi Kassel dan berusaha untuk bisa sampai di Hercules Castle.

Nah, dari sinilah cerita bekpeker dadakan dimulai! 😛

Panik Jilid 1

Setelah bertanya kesana kemari tentang kendaraan apa yang harus saya naiki jika saya ingin mencapai Hercules Castle, saya akhirnya sampai juga di kastil itu. Jangan kira saya sampai ke kastil tersebut tanpa perjuangan ya. Ini adalah pengalaman pertama saya selama di Jerman jalan-jalan tanpa adanya pemandu.

Untuk mencapai Hercules Castle saya harus mencari trem no 3 dengan arah yang benar, padahal di stasiun trem tersebut ada beberapa jalur trem dengan arah yang saling berlawanan, dan saya bingung harus menunggu trem di jalur yang mana. Setelah bertanya beberapa kali ke beberapa orang (untungnya orang muda Jerman mau menjawab pertanyaan saya menggunakan bahasa Inggris), saya mendapatkan trem yang benar menuju Hercules Castle.

Anda pikir setelah saya menemukan trem, saya langsung sampai di Hercules Castle?? Anda salah besar, saya masih harus transit dulu di stasiun Dresstal dan berpindah naik bus nomor 22.

Permasalahan baru terjadi. Saya mengira kalau stasiun Dresstal hanya untuk trem saja. Akhirnya saya mencari halte bus no.22. Saya menyebrangi jalan karena disitu ada tulisan halte bus no.22. Saya menunggu bus disitu. Saat saya menunggu bus, saya melihat bus no.22 melintas di stasiun trem Dresstal, saya langsung panik dan berlari menuju stasiun tersebut. Lalu saya bertanya pada sopir busnya apakah bus ini ke Hercules Castle, dan ia jawab “sure”. Spontan dengan sangat girang (karena saya takut sekali ketinggalan bus, mengingat waktu yang saya miliki tidak banyak) saya loncat masuk bus dan tak lupa mengucapkan “danke schoon” pada sopir bus itu.

Ternyata Anda tahu? Bus ini juga berhenti di halte dimana saya menunggu bus tadi… Ya ampun, untuk apa saya tadi sampai pontang-panting lari-lari supaya tidak ketinggalan bus ini? Hehehe… 😀

Hercules Castle

Sesampainya di Hercules Castle, sungguh maha karya Tuhan yang sangat luar biasa berkolaborasi dengan peradaban manusia tingkat tinggi pada jaman dahulu terhampar di hadapan saya.

Bagaimana ya untuk mengungkapkan rasa kagum saya saat itu dengan kata-kata? Yang pasti, saya hanya mampu mengucapkan “Subahanallah” dalam hati dengan mata terus berkeliling menikmati pemandangan yang luar biasa indah serta menghirup udara yang juga luar biasa bersih, terbebas dari polusi.

Oke, oke, saya akan menggambarkan Hercules Castle dengan kata-kata.

Hercules Castle, sayang waktu kesana lagi direnovasi

Hercules castle terletak di puncak bukit yang ada di Kassel. Dari tempat ini kita dapat melihat kota Kassel dari atas secara menyeluruh serta melihat beberapa pegunungan yang mengelilinginya. Dari kastil ini terdapat banyak anak tangga yang bisa mengantarkan kita sampai bawah pegunungan ini dan menuju ke landmark lain (Schloss – Wilhelmshohe ) yang ada di Kassel. Jika menengok ke arah serong kanan dari kastil ini maka kita akan melihat sebuah kastil yang bentuknya seperti logo Disneyland (katanya sih, pemrakarsa logo Disneyland terinspirasi oleh kastil ini, sayangnya saya tidak memiliki cukup banyak waktu untuk mencari jalan menuju kastil tersebut. Jadi saya hanya bisa melihat kastil itu dari ketinggian).

Sungguh luar biasa pemandangan yang saya lihat waktu itu. Saya baru sadar, ini alasan mas Anto memaksa saya supaya meninggalkannya di kantor polisi Kassel dan berusaha harus menemukan kastil ini.

Kassel dilihat dari Hercules Castle

Saya berjalan menuruni tangga, melewati beberapa padang rumput, beberapa danau dan dua air terjun pendek untuk sampai ke landmark lain yang berada di bawah bukit Hercules Castle (Schloss – Wilhelmshohe). Saya berani menuruni bukit Hercules castle dan menuju ke Schloss – Wilhelmshohe setelah bertanya ke beberapa orang yang saya temui selama di perjalanan menuruni bukit tersebut, apakah ada halte bus di bawah bukit ini? Dan mereka yang saya temui menjawab ada, jadi saya berani-berani aja untuk terus jalan dari Hercules Castle ke Schloss – Wilhelmshohe.

Schloss – Wilhelmshohe

Panik Jilid 2

Setelah puas menikmati mahakarya yang sangat luar biasa dan juga puas berfoto-foto (lagi), saya dan Ima memutuskan untuk pulang karena jam juga sudah menunjukkan pukul 17.30 waktu setempat dan kereta yang akan membawa saya kembali ke Frankfurt berangkat pukul 18.29 dari Kassel. Memang masih banyak waktu yang tersisa, tapi masalahnya adalah saya tidak memiliki jadwal serta nama stasiun trem ataupun bus yang akan membawa saya menuju stasiun Kassel-Wilhelmshoohe (saya tidak mungkin kembali lagi ke puncak bukit tempat bus saya tadi menurunkan saya karena terlalu jauh).

Sama seperti saat saya akan berangkat ke Hercules Castle dari stasiun Kassel-Wilhelmshoohe, saya juga pontang-panting lari-lari, nyeberang sana-sini, tanya kesana-kemari ke beberapa orang yang saya temui, dimana stasiun trem atau halte bus yang dapat membawa saya menuju stasiun Kassel-Wilhelmshoohe. Saya sangat takut saya ketinggalan kereta yang ke Frankfurt jika saya tidak menemukan stasiun trem atau bus dengan cepat. Karena artinya apa kalau saya sampai ketinggalan kereta ke Frankfurt? Artinya, saya memiliki kemungkinan juga untuk ketinggalan pesawat, kalau hal ini terjadi, saya berarti juga memiliki kemungkinan untuk dideportasi dari Jerman! Sungguh hal yang memiliki risiko sangat tinggi, mengingat saya tadi juga sudah masuk salah satu kantor polisi yang ada di Jerman.

Pertolongan Allah

Petunjuk Allah selalu ada, akhirnya saya menemukan stasiun trem (yang tempatnya nyempil dibalik rimbunan pohon) dan kebetulan trem yang saat itu sedang berhenti adalah trem yang akan menuju stasiun Kassel-Wilhelmshoohe. Dengan sangat gembira saya mengucap syukur pada Allah karena telah menunjukkan dimana stasiun trem dan juga langsung menemukan trem yang akan membawa saya ke stasiun Kassel-Wilhelmshoohe. Ternyata perjalanan dari stasiun trem (saya tidak tahu namanya apa) ke stasiun Kassel-Wilhelmshoohe tidak membutuhkan waktu lama (sangat dekat sekali dengan kota Kassel, artinya saya berjalan cukup jauh dari Hercules Castle).

Saya lega setelah sampai di stasiun Kassel-Wilhelmshoohe. Saya menunggu kereta yang akan membawa saya menuju Frankfurt kembali selama 30 menit.

Panik Jilid 3

Saya dan Ima sampai di Frankfurt jam setengah sembilanan malam waktu setempat. Saya langsung mencari Rahmat, karena waktu itu yang akan pulang bersama saya adalah Rahmat, sedangkan Ima baru pulang keesokan harinya.

Untuk bisa bertemu lagi dengan Rahmat saya harus lari-lari dulu dari stasiun ke wartel terdekat untuk menelepon Rahmat (karena pulsa ponsel saya habis) dan mengelilingi stasiun Frankfurt untuk mencari sesosok yang bernama Rahmat. Tapi jangan disangka masalah selesai setelah saya akhirnya bisa ketemu Rahmat!

Di waktu yang sangat sempit dengan jadwal penerbangan, ada masalah baru. Saya tidak tahu cara membeli tiket kereta menggunakan mesin karena bahasa yang ada di mesin itu adalah bahasa Jerman (atau saya yang terlalu kampungan, sehingga nggak tahu bagaimana caranya mengganti ke bahasa Inggris? Entahlah…). Intinya saya tidak bisa mengoperasikan mesin itu! *Kampungan mode on*.

Dengan paniknya, Rahmat bertanya plus minta tolong pada petugas stasiun cara mengoperasikan mesin itu. Tapi karena petugas yang ada pada cuek dan jutek, saya dan Rahmat dibiarin aja bingung dan panik sendiri di depan kotak yang mirip ATM! Huh, kesel deh kalo nemuin orang Jerman yang rese’ kayak gitu! Tapi akhirnya kami bisa mengoperasikan mesin itu, dan dua tiket kereta bawah tanah ke bandara Frankfurt ada di genggaman saya! J (senyum penuh kemenangan, bisa juga naklukin bahasa Jerman! Walopun cuman dengan modal ngira-ngira! Hohoho… :P).

Sampai di Bandara Frankfurt yang sangat luas itu, nggak ada masalah yang berarti karena sebelumnya saya sudah pengalaman kesana saat sehari sebelumnya mengantar Puspa.

Nah, pas waktu nunggu pesawat, saya iseng ngebuka-buka tiket-tiket kereta yang saya beli untuk hari itu. Dan saya terhenyak saat tahu kalau tiket yang saya beli untuk ke Kassel tadi pagi bisa digunakan selama satu hari di wilayah Hessen (maksudnya satu Provinsi Hessen. Frankfurt dan Kassel termasuk dalam Provinsi Hessen). Dan tiket itu juga berlaku untuk kereta antar kota (kayak bus aja, antar kota antar provinsi. Hehehe… :D), bus dan juga trem. Ya ampyuuunnnn, ngapain saya tadi sampe kayak orang autis waktu panik nggak bisa ngoperasiin mesin tiket? Dan juga 3,7 euro melayang dah… Kan lumayan juga tuh kalo di-kurs-in ke rupiah bisa jadi 50ribu-an… bisa buat makan 2-3 hari (hahaha… Dasar anak kostan! :P)

Yah, beginilah cerita kalo anak kampung ke luar negeri dan nggak ada pemandu sama sekali… 😀

Kenangan hari terakhir

Yang pasti, saya tidak akan pernah melupakan dan menghapus memori saya akan pengalaman hari terakhir di Jerman, terutama Kassel dan Hercules Castle-nya (pengalaman ini sekaligus memberikan pelajaran bagi saya, saat nanti menjadi bekpeker beneran). Jika saya berkesempatan untuk ke Jerman lagi, saya akan ke Kassel dan mengunjungi Hercules Castle sekali lagi. Bisa dibilang Kassel itu Bandung-nya Jerman lah… Inilah sebabnya konglomerat Jerman banyak yang memiliki villa disana.

Kassel merupakan salah satu kota cantik yang ada di Jerman. Saya berani merekomendasikan pada Anda untuk mengunjungi Kassel jika memiliki kesempatan ke Jerman. Saya jamin Anda pasti tidak akan menyesal J.

Bogor, 5 November 2009 00:52

~Okvina Nur Alvita

Continue Reading

Cerita Traveling | Eropa

See You in Europe (Full Version)

By on January 1, 2010

EHEF 2008

See You in Europe…

Inilah kalimat yang saya baca di pintu keluar European Higher Education Fair (EHEF) 2008 di Jakarta. Saat itu yang terpikirkan oleh saya adalah saya pasti ke Eropa suatu saat nanti. Entah itu untuk studi, urusan dinas ataupun hanya sekedar traveling.

Eropa, menurut saya benua ini yang paling menarik dibanding 4 benua lain yang ada di dunia. Eropa memiliki eksotisme tersendiri di benak saya. Kota – kota tuanya, budayanya, peradabannya. Dan terlebih lagi, jika kita ke Eropa, kita bisa mengunjungi beberapa negara sekaligus.

Ya, saya telah jatuh hati dengan Eropa.

Invitation from ISWI committee

Hello Okvina Nur,

Dear applicant,

After reading the 2500 applications we finally selected the participants of the ISWI 2009. Herewith we would like to officially invite you to the 9th International Student Week in Ilmenau 2009.

(bla… bla… bla… bla…)

Thank you very much for applying and being very patient.

Hope to see you soon in Ilmenau.

The ISWI 2009 Organization Committee

Masya Allah, aplikasi saya untuk mengikuti ISWI diterima!!

Saya girang bukan kepalang saat membaca email ini. Nggak sadar saya meneriakkan beberapa kata untuk mengekspresikan kebahagiaan saya saat itu. Saya akan ke Jerman gitu lho!! Saya akan ke Eropa!! Untuk ngikutin salah satu konferensi mahasiswa tingkat dunia…

Saking girangnya saya waktu itu, sampe-sampe orang yang duduk di sebelah saya pada negok ke saya (yahh, jadi ketauan deh kalo ngenetnya di warnet… maklum, anak kostan…). Bodo amat, mau mereka ampe protes negor saya juga, saya gak bakalan malu… Lagi seneng ini… J Akhirnya saya bisa membuktikan kalau saya bisa ikut bagian di kegiatan internasional.

Setelah euforia sesaat yang sepertinya menerbangkan saya sampai ke awang-awang, saya langsung terhempas kembali ke daratan dan tentunya kembali ke dunia nyata.

You have to pay your travel and visa expenses. The accommodation during the conference and the basic meals (breakfast, lunch, dinner) will be supplied by us. There is no participation fee in this conference. In addition, you will have free entry to all cultural events of the ISWI 2009.

Oh My God, saya harus nyiapin uang untuk biaya visa dan tiket pesawat bolak-balik ke Jerman! Uang dari mana??

ISWI atau KKP? KKP atau ISWI?

Saya tahu kalau saya di-invite untuk ikut acara ISWI dua hari sebelum keberangkatan mengikuti KKP (Kuliah Kerja Profesi). KKP itu sama seperti KKN (Kuliah Kerja Nyata).

ISWI atau KKP? KKP atau ISWI? Dua-duanya sama pentingnya untuk saya… Yang satu adalah kewajiban akademik. Yang satu lagi, impian saya…

Pikiran saya saat itu campur aduk. Antara bahagia bisa ngewujudin mimpi (plus perlu sedikit effort lagi untuk bisa menginjakkan kaki ke benua impian saya), dan kewajiban kuliah…

Arrrgggghhhh… kenapa harus barengan sihhh?

Saya tidak punya pilihan lain, saya harus fight untuk keduanya!

Impian saya sudah di depan mata, tinggal selangkah lagi untuk mewujudkannya jadi kenyataan. Saya tidak boleh kehilangan kesempatan yang sangat langka ini!

Terlebih lagi kalau ingat application saya yang telah ditolak di beberapa kegiatan serupa sebelumnya… Saya semakin mantap kalau saya harus bisa menghadiri konferensi ini.

Sebelum berangkat ke tempat KKP yang nun jauh di pelosok Sukabumi, saya sempatkan menyusun strategi untuk mewujudkan mimpi ditengah-tengah menjalankan kewajiban. Saya mengecek harga tiket pesawat Jakarta-Frankfurt-Jakarta, konsultasi dengan direktur kemahasiswaan IPB dan Dekan Fakultas Ekologi Manusia (Alhamdulillah beliau-beliau memberikan support penuh pada saya, support moril dan materil J). Saya juga menyusun rencana penggalangan dana di sela-sela kegiatan KKP.

Episode perjuangan mencari dana dimulai… 😛

Antara Sukabumi, Bogor dan Jakarta

Hari-hari pertama di Sukabumi tidak terlalu banyak yang dikerjakan oleh saya dan teman-teman satu kelompok KKP. Saat itu kami masih survey lokasi dan berkenalan dengan aparat desa dan masyarakat sekitar. So, sedikit kesempatan ini saya manfaatkan untuk membuat proposal sponsor.

Setelah proposal jadi. Langkah selanjutnya?

Ya nyebarin tuh proposal ke beberapa lembaga atau orang yang mau mendanai keberangkatan saya lah…

Selama dua bulan saya harus bolak-balik Sukabumi-Bogor-Jakarta. Sukabumi, tempat KKP. Bogor, tempat transit kalau saya ada kepentingan ngurus ini-itu ke Jakarta plus koordinasi dengan pihak kampus. Dan Jakarta, tempat mencari dana. Nguras energi? Jangan ditanya, sampai remuk rasanya badan ini. Nguras emosi? Iya juga. Saat itu saya jadi lebih labil dan susah sekali untuk fokus. Badan saya dimana, tapi pikirannya entah ada dimana.

Berburu dana

Ada yang pernah punya pengalaman mencari dana untuk suatu kegiatan? Kalo misalnya Anda pernah mempunyai pengalaman itu, mungkin Anda tahu apa yang saya alami dan saya rasakan.

Cari dana untuk suatu kegiatan itu susah banget, apalagi cari dana untuk membiayai keberangkatan saya ke konferensi mahasiswa di luar negeri (apalagi waktu itu lagi krisis ekonomi global). Mungkin dipikirnya saya cuman pengen jalan-jalan aja kali ya…

Oke, saya jujur. Memang, jalan-jalan juga ada di salah satu agenda saya. Tapi itupun kalau ada uang lebih, kalo nggak ada, ya udah nggak apa-apa. Toh niat saya ke Jerman kan untuk menghadiri konferensi mahasiswa tingkat dunia. Saya ingin berbagi pengetahuan dengan delegasi dari negara lain dan memperluas networking.

Terbukti, saat groupwork saya mampu menyumbangkan ide saya tentang mobile library dan community library pada delegasi dari negara lain. Dan mereka tertarik dengan ide saya itu.

Balik lagi ke masalah dana. Berbagai cara saya lakukan. Mulai dari keluar masuk kantor-kantor yang kira-kira potensial untuk menyeponsorin keberangkatan saya (tidak semua dari kantor-kantor itu simpati dengan kegiatan yang akan saya ikuti). Daftar online untuk bantuan-bantuan ke luar negeri. Dan “membidik” donatur, termasuk donatur keluarga (pakde, bude, om, tante, mbak… ayo, sini iuran… hahaha… :D)

Intinya, susah banget ngumpulin dana! Butuh kerja keras, kesabaran, dan sedikit -eh banyak ding-, dan banyak-banyak pasang muka manis plus memelas. Hehehe… 😛

Visa Schengen??

Disamping dana, ada masalah baru. Apalagi kalo bukan ijin tinggal atau visa. Jerman terkenal strict dalam mengeluarkan visa bagi warga negara asing untuk bisa masuk ke negaranya. Bahkan ada teman yang pernah cerita ke saya, saat dia sedang mengurus visa schengen-nya di kedutaan Jerman, ada mbak-mbak yang nangis-nangis karena permohonan visanya ditolak. Padahal mbak-mbak itu mau kuliah di Jerman dan ia juga telah memperoleh beasiswa! Gimana nggak parno coba waktu denger cerita teman saya itu? Apalagi kan kalo visa ditolak, uang administrasinya nggak dikembalikan. Udah visa nggak dapet, duit juga melayang. Rugi dua kali kan jadinya?

Waktu ngurus aplikasi visa schengen ini, saya melaluinya dengan perjuangan yang nggak simpel.

Saran saya ya, bagi yang mau backpacker ke Eropa, jangan ngurus visa di kedutaan Jerman kalo nggak mau uang 60 euro melayang. *nakut-nakutin mode on* hihihi.

Balik lagi ke urusan urus-mengurus visa. Sehari sebelum saya melakukan aplikasi visa, saya mengurus segala kelengkapannya. Karena ini untuk pertama kalinya saya ngurus visa, jadi agak riweuh sendiri, belum berpengalaman sih…

Saya harus ngurus surat pengantar dari kampus, official invitation dari ISWI committee, itinerary booking-an tiket, travel insurance, ijasah pendidikan terakhir, dan seterusnya, dan seterusnya, sampai fotokopi rekening tiga bulan terakhir.

Malam sebelum berangkat apply visa, semua persyaratan yang dibutuhkan untuk aplikasi visa sudah siap. Besoknya, pagi-pagi jam enam saya berangkat ke kedubes Jerman.

Dalam perjalanan Bogor-Jakarta, saya ngenet lewat ponsel hanya untuk cek email. Saya kaget saat ada email masuk dari milis delegasi ISWI Indonesia 2009 yang bilang kalau beberapa hari yang lalu ia apply visa. Dan dia disuruh kembali lagi keesokan harinya oleh petugas kedutaan karena travel insurance yang diberi oleh panitia ISWI nggak memenuhi syarat. Jadi intinya butuh beli travel insurance tambahan.

OMiGod! Saya langsung berpikir untuk cepat ngatasin masalah ini. Waktu yang saya miliki tidak banyak karena saya harus kembali ke Sukabumi lagi. Akhirnya saya putuskan untuk membeli travel insurance dulu sebelum apply visa (daripada saya besok harus balik lagi ke kedubes Jerman?).

Dari yang seharusnya saya langsung ke kedubes Jerman di Thamrin, saya ke Plaza Senayan dulu untuk ngambil uang dan nuker rupiah ke dolar di Bank X yang letaknya nggak jauh dari Plaza Senayan. Saya memilih bank X karena bank itu yang saya percaya kasih rates paling bagus.

Saya kepagian ke Plaza Senayan. Plaza-nya masih tutup. Saya nggak bisa ngambil uang lewat pintu pengunjung. Akhirnya saya memutuskan untuk lewat jalur karyawan.

Jalur karyawan ada di basement, so harus naik lift dulu kalau mau masuk ke dalam mall-nya. Lift karyawan ini dijaga oleh beberapa satpam. Satpam ngira, saya karyawan baru di plaza senayan. Saya ditanya-tanya dulu sama satpam itu dan saya mengelak kalau saya karyawan, saya bilang saya mahasiswa yang mau ke ATM. Si satpam malah berubah jadi agak galak. Saya nggak boleh masuk lewat lift itu. Tapi saya maksa untuk masuk juga. Eh, baju saya malah ditarik-tarik itu satpam biar saya keluar lagi dari dalam lift. Akhirnya setelah saling tarik-menarik, saya ngalah juga. Dengan mengeluarkan jurus andalan saya, pasang muka manis plus mimik yang memelas, akhirnya saya diizinkan untuk masuk mall, tapi hanya ke ATM aja. Dan itu pun juga diawasin sama satpamnya. Yang penting, bisa ngambil uang. Kalo sekarang keinget agedan tarik-tarikan baju sama satpam itu, jadi pengen ketawa ngakak… hehehe… 😀

Nah, setelah ngambil duit, nukerin ke dolar dan beli travel insurance, saya langsung ke kedubes Jerman. Alhamdulillah semuanya lancar. Dokumen-dokumen saya tidak dipermasalahkan.

10 hari kemudian visa saya keluar, tapi dengan jumlah hari yang pas-pasan… Alhamdulillah aja lah, daripada visa ditolak?

Ketegangan itu

Visa sudah ditangan, tinggal dana nih yang masih belum bisa tercover semua untuk biaya tiket pesawat. Aaarrrggghhh, jadi pusing lagi saya.

Segala usaha sudah saya lakukan. Berdoa, juga udah. Kenapa kok masih belum cukup juga ya?

Saya memutar otak lagi. Berpikir lagi bagaimana caranya untuk menggalang dana di saat-saat terakhir dengan kondisi masih di pelosok Sukabumi. Praktis fokus saya hanya pada nyari dana. Urusan KKP agak keteteran.

Teman satu kelompok saya mungkin sudah gondok kali ya karena saya terlalu fokus dengan persiapan ke Jerman dan seringkali meninggalkan lokasi KKP. Ya, saya lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan kelompok (PPKn banget sih… hihihi… 😛 ).

Saya merasakan beberapa ketegangan-ketegangan diantara kami. Tapi saat itu saya cuek. Saya nggak terlalu mikirin dan merasakan ketegangan yang sedang terjadi. Fokus saya cuman gimana caranya bisa ke Jerman dan segera menyelesaikan KKP.

Hingga pada malam itu, semuanya ”meledak”.

Tak banyak yang bisa saya katakan. Saya hanya bisa minta maaf pada teman satu kelompok KKP saya. Saya bersedia menanggung semua konsekuensi dari ketidakhadiran saya pada beberapa hari kegiatan KKP.

Apalagi coba yang bisa dilakukan orang yang bersalah selain itu?

Tapi, sekali lagi saya harus bersyukur. Saya dikelilingi oleh orang-orang baik. Teman satu KKP saya memang marah. Tetapi cuman saat itu saja. Mereka memaafkan saya dan kondisi kembali seperti sedia kala. Alhamdulillah… 🙂

Akhir yang mengharukan

Nggak kerasa ternyata saya sudah dua bulan di pelosok Sukabumi. 1 Mei 2009 masa KKP saya selesai. Saya pulang ke Bogor.

Sedih rasanya berpisah dengan warga disana, terutama dengan anak-anaknya. Masih segar diingatan saya ketika baru kenal dengan mereka. Mengajari mereka membaca, berhitung, nari saman, bahasa Inggris, komputer hingga makan bareng dan menyuapi mereka saat saya memasak sesuatu.

Saat berpisah dengan mereka, yang terlintas di benak saya, siapa yang akan meneruskan apa yang telah kami lakukan?

Semakin terharu saat teringat senyum mereka. Canda tawa mereka. Gaya mereka. Dan juga kenakalan mereka. Jadi sedih…

Kenapa perpisahan selalu memunculkan kesedihan?

Persiapan dadakan + keuntungan tak terduga

Hanya empat hari saya menyiapkan keberangkatan saya ke Jerman setelah pulang dari KKP. Empat hari tentu sangatlah kurang. Apalagi, masih kepotong weekend! Praktis saya cuman punya waktu dua hari efektif.

Bener-bener persiapan dadakan deh! Tiket belum kebeli, uang dari beberapa sponsor belum diambil, nukerin duit ke money changer? Apalagi, lha wong uangnya aja masih belum ada (hehehe… :P), packing? Boro-boro! List barang-barang yang mo di bawa aja belum bikin! *Hectic alias riweuh mode on*.

Tapi justru karena persiapan yang dadakan ini ada keuntungan tersendiri buat saya. Mau tau apa keuntungan saya?

Jadi, saya kan udah booking pesawat dengan maskapai Qr, harga tiket bolak-balik Jakarta-Frankfurt saat itu $894. Tapi karena duitnya belum ada, saya belum beli tiket itu. Terus, di hari-hari terakhir sebelum keberangkatan saya, ternyata ada maskapai lain, maskapai Qs menawarkan tiket promo bolak-balik Jakarta-Frankfurt dengan harga $730! Kan lumayan tuh bisa saving lebih dari satu setengah juta J. Yah, kadang Allah memiliki rencana yang benar-benar tak terduga ya?

Kalo dipikir-pikir, yang saya alami ini seperti udah diatur. Berakhirnya KKP yang mepet banget dengan jadwal keberangkatan. Uang dari sponsor yang juga baru bisa diambil dua hari sebelum keberangkatan.

Persiapan dadakan ini ternyata ada maksudnya. Saya bisa dapet tiket murah untuk perjalanan saya ke Jerman.

Skenario Allah memang jauh lebih indah dan lebih sempurna daripada skenario kita…

6 Mei 2009, dream comes true >> Europe, I’m coming…

6 Mei 2009. Hari yang paling saya tunggu-tunggu. Keberangkatan saya ke Jerman. Akhirnya, setelah melalui beberapa perjuangan dan rintangan, yang tak jarang juga diselingi dengan isak-tangis saya.

Capek memang, capek fisik dan capek hati. Capek juga berhara-harap cemas, apa saya bisa mengumpulkan uang sampai jumlah yang diperlukan untuk menutupi biaya tiket pesawat dan visa?

Semuanya terjawab di hari itu.

Pada hari itu saya bisa menikmati buah dari perjuangan saya. Saya bisa mewujudkan mimpi saya dalam waktu yang diluar perkiraan.

Terima kasih ya Allah… Semua ini bisa terwujud hanya dengan pertolongan-Mu… Engkau selalu memberi yang terbaik untuk saya… 🙂

Bogor, 10 November 2009 13:50

~Okvina Nur Alvita

Continue Reading

Publication

Tari Saman Hingga Perpustakaan Keliling

By on December 15, 2009

Media Indonesia, 28 Juni 2009

Never Give Up, Moto itulah yang selalu dipegang teguh oleh Okvina Nur Alvita, mahasiswa tingkat akhir pada Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB. Berkat moto tersebut, Okvina yang biasa dipanggil Vina, mampu mencapai beberapa prestasi membanggakan.

Berkat keaktifannya mengikuti beberapa organisasi di kampus dan perlombaan karya tulis ilmiah, mahasiswa asal Jember, Jawa Timur, ini memperoleh penghargaan mahasiswa berprestasi bidang ekstrakurikuler dari IPB dalam peringatan hari pendidikan nasional tahun 2008.

Selain itu pada bulan Juli 2008, Vina bersama 22 mahasiswa lain dari IPB memperoleh Beasiswa Unggulan Aktivis yang memberinya kesempatan mengikuti program Student Exchange Institut Pertanian Bogor-Universiti Malaysia Sabah.

Kesempatan tersebut memberikan pengalaman berharga, menambah wawasan, pengetahuan serta keahlian yang dimiliki oleh pecinta masakan Indonesia ini.

“Saat mengikuti program pertukaran pelajar ke Malaysia itu saya sengaja mempelajari tari Saman untuk mengisi acara pertukaran budaya dengan mahasiswa Malaysia,” kata Okvina.

Belum genap satu tahun kemudian, perempuan kelahiran 12 Oktober ini kembali bertandang ke luar negeri. Kali ini ia terbang ke Jerman menghadiri International Student Week in Ilmenau (ISWI) 2009, pada 8-17 Mei 2009 di Ilmenau, Jerman.

Vina bersama 19 mahasiswa Indonesia lainnya mewakili Indonesia untuk menghadiri kegiatan dua tahunan itu. ISWI merupakan serangkaian kegiatan, tak hanya konferensi mengenai HAM, tapi juga berisi pertukaran budaya para peserta.

Keahlian Vina dalam menari Saman kembali mengharumkan nama Indonesia. Hal itu terbukti dengan tingginya atensi pengunjung saat delegasi Indonesia menampilkan tari Saman di acara International Brunch. Di bawah pimpinan dan bimbingan Vina yang intensif, delapan orang delegasi Indonesia lainnya mempelajari tari Saman yang rumit dalam waktu dua hari.

Selain dari segi budaya, anak pasangan Moedjoko dan Didi Indriaty ini juga memiliki perhatian lebih pada pendidikan dan anak, terutama pendidikan prasekolah. Mengingat masih sedikitnya akses Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia, Vina bersama dua temannya saat ini sedang merintis berdirinya PAUD di salah satu desa di Kabupaten Sukabumi.

Ketertarikan Vina pada pendidikan merupakan alasan Vina memilih subtema pendidikan pada kelompok kerja di ISWI 2009. Pada kelompok kerja tersebut dibahas beberapa permasalahan pendidikan yang ada di tiap-tiap negara peserta.

Sebagin besar permasalahan yang paling menonjol adalah kurang meratanya pendidikan hingga ke pelosok daerah dan kurangnya sarana perpustakaan. Salah satu kontribusi Vina pada work group tersebut yang cukup bermanfaat bagi peserta lain adalah paparannya tentang perpustakaan keliling di Indonesia.

Ia pun juga mengusulkan untuk dibentuknya community library yang dibuat melalui pemberdayaan dan swadaya masyarakat. Kedua ide tersebut diterima dengan baik dan juga menginisiasi peserta lain untuk mengusulkan hal serupa di negara mereka.

”Semua itu justru membuat saya semakin sadar akan banyaknya kekurangan yang ada pada diri serta dapat melihat bahwa masih banyak orang lain yang jauh lebih hebat. Saya hanya berharap supaya tetap dapat melakukan yang terbaik sehingga bisa bermanfaat bagi orang lain,” kata Vina.

Continue Reading

Publication

Dua Malam Latihan, Indonesia Borong Tepuk Tangan

By on

Media Indonesia, 28 Juni 2009

Selain membahas tentang hak asasi manusia (HAM), ditinjau dari berbagai aspek kehidupan, salah satu rangkaian kegiatan dari International Student Week in Ilmenau (ISWI) 2009 di Ilmenau, Jerman, adalah International Brunch. Ajang itu merupakan pertukaran budaya dan makanan khas dari negara-negara peserta seperti Turki, Palestina, Australia, Nigeri, dan Indonesia.

Indonesia yang kaya akan budaya tradisional, kesenian daerah dan makanan khas tentu saja tak mau ketinggalan. Bahkan, penampilan delegasi-delegasi Indonesia mendapat atensi yang sangat meriah. Sebanyak sembilan belas anggota delegasi Indonesia menampilkan tiga kesenian khas, tari Saman, Mapag Sunda, dan permainan alat musik tradisional Indonesia, angklung.

Khaerul Umur, mahasiswa UPI Bandung, menampilkan Mapag Sunda. Gerakan-gerakan Mapag Sunda yang menarik serta penampilan yang apik Khaerul Umur mampu memicu adrenalin dari pengunjung. Alhasil, pengunjung lalu berdesakan agar dapat melihat kesenian Indonesia lainnya.

Persembahan selanjutnya adalah tari Saman. Tarian tradisional asal Aceh ini membutuhkan konsentrasi dan kekompakan, tapi delegasi Indonesia cuma punya bekal latihan dua malam. Namun, teriakan khas dan nyanyian penghantar tari Saman yang unik membuat sembilan orang delegasi Indonesia, dipimpin oleh Okvina Nur Alvita, mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB, mendapat tepukan riuh.

Sajian terakhir adalah alat musik angklung. Suara khas alat musik bambu ini lagi-lagi membuat delegasi Indonesia mendapat tepuk tangan meriah. Bahkan beberapa pengunjung menyatakan ketertarikannya dan berminat untuk belajar. Mereka berbondong-bondong memenuhi stan delegasi Indonesia sembari menikmati beberapa makanan khas.

Para pengunjung International Brunch tidak hanya peserta ISWI 2009, tapi juga dosen Universitas Teknologi Ilmenau dan masyarakat lokal. Secara keseluruhan, para pengunjung menyatakan sangat terkesan dengan persembahan rombongan dari Indonesia. Mereka pun mengapresiasi kekompakan para mahasiswa Indonesia di atas panggung.

Kesembilan belas delegasi Indonesia untuk ISWI sendiri sebenarnya baru bertemu satu sama lain di Jerman dua hari sebelum acara berlangsung. Persiapan untuk penampilan budaya pun baru dilakukan dua hari menjelang acara.

Namun, minimnya waktu yang dimiliki bukanlah suatu halangan bagi mereka untuk memberikan penampilan luar biasa. Itu karena kecintaan dan kebanggan mereka pada tradisi bangsanya. Okvina Nur Alvita, salah seorang delegasi Indonesia dari IPB, mengungkapkan perasaan yang sangat mengharu biru saat berada di negeri orang .

Sehingga kontribusi untuk membuktikan kecintaan terhadap budaya bangsa pun dilakukan semaksimal mungkin. Semoga perasaan itu juga terbawa hingga ke Tanah Air.

~Okvina Nur Alvita

Continue Reading