Pentingnya Kartu Kredit

Credit Card (Image from: http://www.gobankingrates.com)

Saya dulu termasuk salah satu orang yang “anti” sama yang namanya kartu kredit. Saya selalu berpikiran kalau kartu kredit akan menjadikan saya orang yang konsumtif. Selain itu, dengan memiliki kartu kredit akan membuka peluang saya untuk memiliki utang yang pasti akan merepotkan saya di kemudian hari. Yang pasti, saya nggak mau pakai uang yang sebenarnya tidak milik saya saat ini.

Sejak doyan ngider kesana-kemari (baca: traveling) dan harus bergelut dengan dunia usaha di bidang perjalanan wisata maka mau nggak mau, saya harus memiliki kartu ajaib yang bagi sebagian orang bisa menyelesaikan masalahnya saat itu. Ya, saya harus memiliki kartu kredit. Memang sih kartu kredit tersebut bukan atas nama saya, tapi atas nama suami saya, tapi bukankah punya suami saya jadi punya saya juga? Alhasil, kami memiliki 2 kartu kredit, 1 Mastercard dan 1 lagi Visa.

Sejak punya kartu kredit, pandangan saya tentangnya jadi berubah. Yang awalnya negatif, berubah menjadi sedikit positif. Pastinya, kartu kredit itu sangat dibutuhkan kalau kita mau booking penginapan di beberapa web booking hotel / hostel di seluruh dunia. Dan untuk pembayaran transaksi di semua airline internasional juga harus pakai credit card.

Satu hal lagi, just in case kita kehabisan uang saat traveling, kita bisa pakai kartu kredit itu dulu untuk bertransaksi ini-itu. Daripada kita mati kelaparan atau malah ga bisa pulang, Ya kan?? Jadi kelihatan kan pentingnya yang namanya kartu kredit bagi kehidupan para traveler.

Tapi guys, yang harus diwaspadai kalau kita lagi traveling, trus tiba-tiba kita kecopetan (aduh jangan sampe deh ya…), jangan lupa untuk langsung blokir kartu kredit kita supaya tidak disalahgunakan oleh pihak yang nyopet barang kita tersebut.

Kartu kredit di satu sisi memberikan manfaat bagi kita si pecinta jalan-jalan. Asal jangan lupa aja untuk bayar tagihan bulanannya kalau sudah dipakai. :)

Dibalik Liburan Bareng Artis

Liburan Sama Artis

Akhir Mei tahun ini saya dan suami dapet tamu artis (lagi). Emang sih, salah satu artis yang jadi tamu kami itu udah langganan kalo lagi liburan ke Bali selalu pake jasa kami untuk arrange schedule-nya selama di Bali. Tapi empat yang lainnya, baru pertama kali pake trip organizer kami.

Anyway, mereka ambil paket keliling Bali dari kami. Biar paket wisata untuk mereka lebih murah, suami saya minta pada mereka supaya saya dan anak kami (Jacqueline dan Avi) bisa ikut juga di tour keliling Bali tersebut (biar pembagi untuk transport lebih banyak jadi tour bisa lebih murah). Mereka mengiyakan permintaan suami saya. Jadilah saya keliling Bali kali ini bersama artis.

Dibalik liburan itu pastinya ada cerita. Tapi yang ingin saya ceritakan bukan kegiatan selama liburan, akan tetapi hasil curhatan dan ngobrol-ngobrol sama mereka.

Dari luar, artis selalu terlihat glamour dan segalanya yang serba “wah”. Tapi nggak semuanya seperti itu. Artis juga manusia. Bahkan sebagian dari mereka sama seperti kita pada umumnya, harus jadi tulang punggung keluarga.

Salah satu artis yang curhat pada suami saya. Dia sudah malang melintang di dunia entertainment sejak umur 7 tahun. Walaupun memang dia jarang dapat peran utama, tapi dia bersyukur karena dia bisa konsisten di pekerjaannya saat ini. Dan dari pekerjaan yang telah digelutinya sejak duduk di sekolah dasar itu, telah banyak menyumbang untuk kebutuhan keluarganya. Sampai seringkali ia mengenyampingkan keinginan pribadinya demi kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi. Salut deh…

Hhhmmm, nggak semua artis identik dengan dunia yang glamour, sosialita, ataupun hura-hura. Sebagian dari mereka ada yang benar-benar menjadikan profesi artis demi sesuap nasi untuknya dan juga keluarganya.

 

Film Indonesia di Kamboja

Kamboja menurut saya salah satu negara di wilayah Asia Tenggara yang masih tertinggal. Saat saya mengunjungi negara ini di tahun 2010, ada satu jalan yang harus terputus karena jembatan yang seharusnya menghubungkan jalan tersebut belum dibangun. Padahal jalan itu termasuk jalan penting karena menghubungkan antar kota dan propinsi di Kamboja.

Anyway, saat sudah berada di Phnom Pehn, saya melakukan city tour. Saya keliling Phnom Pehn dengan berjalan kaki. Mengaka saya jalan kaki? karena di Phnom Penh nggak ada sarana transportasi lokal seperti bus, angkot dan kawan-kawannya. Taksi cuma ada di bandara, kalau di kota Phnom Penh-nya kebanyakan transportasi umumnya itu tuk-tuk. Pengalaman saat di Ho Chi Monh City saya ditipu abis sama yang namanya Cyclo, saya jadi teramat sangat waspada saat di Kamboja. Alhasil saya memilih jalan-jalan keliling kota dengan berjalan kaki saja (sebenernya sih alasan utamanya untuk ngirit duit yang mulai menipis, hahaha…).

Film Indonesia di Kamboja (salah satu pemain utamanya Julie Estelle)

Nah, pas keliling kota Phnom Penh dengan berjalan kaki ini saya melewati satu bioskop di Phnom Penh. Ada beberapa film yang sedang diputar di bioskop itu. Karena tulisan Kamboja yang keriting, saya nggak terlalu notice dengan film-film tersebut. Sampai partner traveling saya saat itu, Nisun, bilang “Eh Nok, itu kan film Indonesia”. Saya langsung melihat salah satu baliho dari film yang sedang terpampang di bioskop itu. Eh iya bener, ternyata ada salah satu film Indonesia yang saat itu sedang diputar di bioskop Phnom Penh. Saya sih nggak tahu judulnya apa, yang pasti film itu film horror dan salah satu pemainnya (kalo nggak salah) si Julie Estelle.

Ternyata film Indonesia laku ya di negara lain :D