Ladies Traveler

Perempuan Juga Bisa Keliling Dunia


January 07, 2010

Cerita Bekpeker Dadakan (Full Version)

Tanggal 7-18 Mei 2009 yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Jerman untuk menghadiri International Student Week in Ilmenau (ISWI) 2009. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 9-16 Mei. So, saya memiliki 2 hari free diawal dan 2 hari free di akhir, sebelum saya pulang ke tanah air. Dua hari free diawal digunakan delegasi Indonesia (jumlahnya 19 orang) untuk latihan persembahan budaya di acara culture exchange. Dan dua hari free diakhir… acara bebas! Pastinya, saya nggak ingin membuang sedikit kesempatan yang sangat langka ini doonk (kapan lagi coba ke Jerman??). Jadi untuk mengisi dua hari kosong itu, saya merencanakan untuk mengunjungi beberapa kota di Jerman yang dekat dengan Frankfurt. Kota-kota yang saya kunjungi adalah Heidelberg, Mann Heim dan Kassel. Saya mengunjungi ketiga kota itu bersama beberapa teman saya dan dipandu oleh satu orang mahasiswa Indonesia (sebut saja Anto, bukan nama sebenarnya) yang sedang studi disana.

Heidelberg, Mann Heim & malam terakhir di Frankfurt

Bersama beberapa mahasiswa Indonesia di Mann Heim

Tanggal 17 Mei saya mengunjungi Heidelberg dan Mann Heim. Saya mengunjungi dua kota ini bersama tiga orang teman saya, Ima, Rahmat, Andrei (warganegara Belarus) dan tentu saja, mas Anto sebagai guide.

Kota pertama yang dikunjungi adalah Heidelberg. Kami mengunjungi Universität Heidelberg dan Kastil Heidelberg. Setelah puas foto-foto dan hunting beberapa souvenir untuk oleh-oleh (souvenir disini harganya lebih murah dibanding souvenir yang dijual di Frankfurt, padahal barangnya sama!), kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Mann Heim.

Heidelberg dan Mann Heim tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar 15 menitan naik kereta untuk sampai ke Mann Heim. Sesampainya di Mann Heim, kami disambut oleh tiga orang Indonesia yang sedang studi di kota ini, yang tidak lain adalah kenalan dekat mas Anto. Eka, Ina dan Martha. Mereka ramah sekali. Kami diajak keliling kota Mann Heim. Kami mengunjungi town garden Mann Heim dan Universität Mann Heim. Setelah puas jalan-jalan dan foto-foto (pastinya), kami harus kembali ke Frankfurt karena matahari sudah mulai surut di ufuk barat. Terlebih lagi, kami harus memenuhi undangan makan malam dari teh Awat, orang Indonesia yang tinggal di Frankfurt karena menikah dengan pria Jerman.

Setengah sebelas malam waktu Jerman kami sampai di apartemen teh Awat. Dia dan keluarga kecilnya, serta beberapa orang Indonesia yang tinggal disana sudah menunggu kami… Teh Awat menyiapkan makan malam khas Indonesia (nasi, ayam bakar, tempe-tahu goreng, tumisan, dan sambal). Teh Awat tahu banget kalo saya dan teman-teman sudah sangat rindu dengan masakan Indonesia. Secara ya, saat konferensi berlangsung, menu dari sarapan sampai makam malam, semuanya menu orang bule. Buat orang Indonesia yang dari kampung seperti saya ini ya eneg juga tiap hari makan roti-roti dan roti lagi (apalagi roti disana kan beda sama roti di Indonesia)… hehehe… norak mode on :P. Nah, setelah kenyang dan ngobrol sebentar dengan tuan rumah, saya dan kawan-kawan saya memutuskan untuk pulang ke flat teh Mira (hehehe, nggak sopan ya? Setelah kenyang, langsung pulang…).

Makan malam terakhir di Jerman sungguh sangat menyenangkan. Udah gratis, dijamu masakan Indonesia yang enak dan bergizi, orang-orangnya ramah lagi! Berasa seperti di rumah sendiri gitu… J

Saudara dadakan di Jerman

Teh Awat

Teh Awat, satu dari sekian banyak orang Indonesia yang tinggal di Jerman. Teh Awat orang Sunda tulen. Walaupun sudah lancar berbahasa Jerman, tapi tetap saja logat Sundanya masih kelihatan. Bisa kebayang nggak, bahasa Jerman logat Sunda? Walaupun demikian, teh Awat orangnya baik sekali. Perkenalan saya dengan teh Awat hanya berumur satu hari. Itupun karena saya “dititipin” oleh teh Mira (teh Mira akan saya ceritakan di bagian berikutnya).

Jadi ceritanya, tanggal 16 Mei saya harus kembali ke Frankfurt dari tempat konferensi (Ilmenau). Saya harus ke Frankfurt malam itu juga karena saya harus menemani satu teman saya (Puspa), yang harus take off ke Indonesia tanggal 17 Mei jam 12.30 siang waktu Jerman. Seharusnya, saya dijemput di Frankfurt oleh teh Mira, tapi karena teh Mira harus ke kota lain saat itu, jadi dia nitipin saya dan Puspa ke teh Awat (mas Anto yang sudah saya kenal sebelumnya, saat itu juga sedang ada acara di Aachen dan baru kembali ke Frankfurt tanggal 17 Mei pagi). Walaupun baru kenal sama teh Awat, tapi rasanya sudah seperti saudara sendiri.

Malam-malam dia menjemput saya dan Puspa ke stasiun Frankfurt, lalu mengantar kami ke flat teh Mira. Besoknya, dia sudah datang pagi-pagi, untuk nganterin Puspa ke bandara plus ngebawain sarapan untuk saya dan Puspa. Karena koper Puspa rusak, dia juga nyediain tas pengganti supaya barang-barang Puspa nggak amburadul. Masih ngundang saya dan teman-teman yang lain makan malam pula! Ckckck… udah lebih dari sodara deh kayaknya…

Teh Mira sama calon suaminya

Nah, kalo teh Mira, saya juga baru kenal dengan dia waktu di Jerman. Tapi orangnya, luar biasa juga baiknya! Teh Mira kerja di KJRI Frankfurt. Teh Mira sebelumnya juga Alumni ISWI, so kayak ada ikatan alumni gitu… Dua hari sebelum delegasi Indonesia, berangkat ke Ilmenau, kami tinggal di Wisma Indonesia yang ada di Frankfurt untuk persiapan pertunjukan budaya (delegasi Indonesia berasal dari beberapa universitas n baru ketemu satu sama lain saat di Jerman). Jangan dikira untuk dapat tinggal di Wisma Indonesia itu mudah, walaupun kita orang Indonesia! Yang namanya pemerintahan Indonesia, dimana-mana sama! Walaupun udah di luar neger, birokrasi tetap ada. Nggak sembarangan orang bisa singgah di Wisma Indonesia. Apalagi kalo cuman mahasiswa yang mau ikutan konferensi. Nggak ada kepentingan apapun yang bisa menguntungkan pejabat-pejabat Indonesia disana. Tapi berkat bantuan dari teh Mira yang memperjuangkan agar kami bisa tinggal di Wisma Indonesia, akhirnya kami bisa tinggal disana selama dua hari walaupun dengan fasilitas yang terbatas. Salute deh untuk teh Mira yang telah memperjuangkan kami, para mahasiswa Indonesia (halah).

Teh Mira juga yang ngurus kami selama dua hari pertama di Frankfurt. Mulai dari ngejemput di bandara, nemenin latihan persembahan budaya, ngurus kostum untuk kami, dan bersama teman-temannya menyiapkan makanan untuk kami supaya kami lebih irit selama dua hari di Frankfurt. Teh Mira juga nggak keberatan flat-nya “disesaki” oleh beberapa teman saya, dan termasuk juga saya (hehehe… :P), yang numpang di flatnya setelah izin menempati Wisma Indonesia habis… Pokoknya, teh Mira is our hero dah…:)

Hari terakhir di Jerman (rasanya campur aduk!)

Oke, balik lagi ke cerita jalan-jalan saya di Jerman.

Tanggal 18 Mei adalah hari terakhir saya disana karena visa saya habis pada tanggal tersebut. Tapi karena pesawat saya baru berangkat dari Frankfurt pukul 23.55 waktu setempat, saya memutuskan untuk mengunjungi kota Kassel terlebih dahulu sebelum saya pulang ke Indonesia.

Personil untuk kunjungan ke Kassel tidak sama seperti personil kunjungan ke Heidelberg pada hari sebelumnya. Dua orang teman saya tidak dapat ikut serta karena jadwal penerbangan Andrei pukul 7 pagi waktu setempat. Sedangkan Rahmat juga tidak dapat ikut ke Kassel karena ia ada janji untuk bertemu dengan sahabat baiknya dari Brussel. Jadi, yang berangkat ke Kassel hanya saya, Ima dan mas Anto.

Saya harus menempuh perjalanan selama 2 jam dengan kereta untuk dapat sampai di Kassel. Kereta saya berangkat dari stasiun kereta api Frankfurt am Main pukul 11.23 waktu setempat. Setengah perjalanan saya tertidur karena malamnya saya hanya tidur 3,5 jam. Saya terbangun dari tidur karena mendengar pembicaraan orang yang tidak terlalu keras tapi cukup membuat tidur saya terganggu. Namun saya tidak tahu apa yang dibicarakan karena menggunakan bahasa Jerman.

Setelah saya membuka mata, saya baru sadar kalau ada dua orang asing yang sedang berbicara dengan mas Anto. Ternyata kedua orang asing itu adalah polisi yang sedang berpatroli menggunakan pakaian bebas.

Polisi tersebut mengecek kelengkapan dokumen-dokumen terkait dengan kewarganegaraan dan izin tinggal di Jerman. Yang jadi permasalahan disini adalah mas Anto tidak membawa paspor dan visa-nya. Akhirnya saya dan kawan saya harus ikut ke kantor polisi di Kassel. Deg-degan juga saya digiring ke kantor polisi oleh dua orang polisi lain yang menggunakan pakaian seragam. Pokoknya keadaan saya waktu itu udah kayak tawanan apaa…gitu.

Sebenarnya, saya tidak ada masalah dengan dokumen-dokumen izin tinggal saya di Jerman. Tapi polisi Kassel agak mempermasalahkan karena visa saya berakhir pada tanggal itu juga. Saya ditanya-tanya mengenai ada urusan apa sehingga saya harus ke Kassel, kapan saya pulang, naik pesawat apa, dan jam berapa pesawat saya take off dari bandara Frankfurt. Ya saya jawab semua pertanyaan polisi itu dengan lancar, karena semua perjalanan saya selama di Jerman sudak fix.

Saya dan kawan saya menunggu di kantor polisi Kassel selama 1 jam. Selama satu jam itu kami diawasi oleh satu polisi yang masih tergolong muda (dan lumayan good looking lah… J). Saat itu suasananya sangat mencekam, tapi dalam suasana seperti itu, saya dan Ima masih sempet-sempetnya juga ngerumpiin tuh polisi (tentunya dalam bahasa Indonesia, biar dia nggak tahu apa yang kami bicarakan. Hihihi… 😀 kapan lagi coba bisa ngerumpiin bule ganteng di depan muka orangnya… hehehe… :P).

Setelah satu jam, akhirnya kami diizinkan untuk keluar dan paspor-visa kami yang sempat ditahan, dikembalikan oleh polisi Kassel. Tapi, mas Anto tidak diperbolehkan untuk pulang bersama kami karena ada berbagai urusan yang harus dia selesaikan.

Awalnya saya berkeras untuk menemani mas Anto sampai urusannya selesai, namun dia juga berkeras supaya saya dan Ima keliling Kassel dan kami harus menemukan Hercules Castle. Akhirnya kami mengalah, kami keluar dari kantor polisi Kassel dan berusaha untuk bisa sampai di Hercules Castle.

Nah, dari sinilah cerita bekpeker dadakan dimulai! 😛

Panik Jilid 1

Setelah bertanya kesana kemari tentang kendaraan apa yang harus saya naiki jika saya ingin mencapai Hercules Castle, saya akhirnya sampai juga di kastil itu. Jangan kira saya sampai ke kastil tersebut tanpa perjuangan ya. Ini adalah pengalaman pertama saya selama di Jerman jalan-jalan tanpa adanya pemandu.

Untuk mencapai Hercules Castle saya harus mencari trem no 3 dengan arah yang benar, padahal di stasiun trem tersebut ada beberapa jalur trem dengan arah yang saling berlawanan, dan saya bingung harus menunggu trem di jalur yang mana. Setelah bertanya beberapa kali ke beberapa orang (untungnya orang muda Jerman mau menjawab pertanyaan saya menggunakan bahasa Inggris), saya mendapatkan trem yang benar menuju Hercules Castle.

Anda pikir setelah saya menemukan trem, saya langsung sampai di Hercules Castle?? Anda salah besar, saya masih harus transit dulu di stasiun Dresstal dan berpindah naik bus nomor 22.

Permasalahan baru terjadi. Saya mengira kalau stasiun Dresstal hanya untuk trem saja. Akhirnya saya mencari halte bus no.22. Saya menyebrangi jalan karena disitu ada tulisan halte bus no.22. Saya menunggu bus disitu. Saat saya menunggu bus, saya melihat bus no.22 melintas di stasiun trem Dresstal, saya langsung panik dan berlari menuju stasiun tersebut. Lalu saya bertanya pada sopir busnya apakah bus ini ke Hercules Castle, dan ia jawab “sure”. Spontan dengan sangat girang (karena saya takut sekali ketinggalan bus, mengingat waktu yang saya miliki tidak banyak) saya loncat masuk bus dan tak lupa mengucapkan “danke schoon” pada sopir bus itu.

Ternyata Anda tahu? Bus ini juga berhenti di halte dimana saya menunggu bus tadi… Ya ampun, untuk apa saya tadi sampai pontang-panting lari-lari supaya tidak ketinggalan bus ini? Hehehe… 😀

Hercules Castle

Sesampainya di Hercules Castle, sungguh maha karya Tuhan yang sangat luar biasa berkolaborasi dengan peradaban manusia tingkat tinggi pada jaman dahulu terhampar di hadapan saya.

Bagaimana ya untuk mengungkapkan rasa kagum saya saat itu dengan kata-kata? Yang pasti, saya hanya mampu mengucapkan “Subahanallah” dalam hati dengan mata terus berkeliling menikmati pemandangan yang luar biasa indah serta menghirup udara yang juga luar biasa bersih, terbebas dari polusi.

Oke, oke, saya akan menggambarkan Hercules Castle dengan kata-kata.

Hercules Castle, sayang waktu kesana lagi direnovasi

Hercules castle terletak di puncak bukit yang ada di Kassel. Dari tempat ini kita dapat melihat kota Kassel dari atas secara menyeluruh serta melihat beberapa pegunungan yang mengelilinginya. Dari kastil ini terdapat banyak anak tangga yang bisa mengantarkan kita sampai bawah pegunungan ini dan menuju ke landmark lain (Schloss – Wilhelmshohe ) yang ada di Kassel. Jika menengok ke arah serong kanan dari kastil ini maka kita akan melihat sebuah kastil yang bentuknya seperti logo Disneyland (katanya sih, pemrakarsa logo Disneyland terinspirasi oleh kastil ini, sayangnya saya tidak memiliki cukup banyak waktu untuk mencari jalan menuju kastil tersebut. Jadi saya hanya bisa melihat kastil itu dari ketinggian).

Sungguh luar biasa pemandangan yang saya lihat waktu itu. Saya baru sadar, ini alasan mas Anto memaksa saya supaya meninggalkannya di kantor polisi Kassel dan berusaha harus menemukan kastil ini.

Kassel dilihat dari Hercules Castle

Saya berjalan menuruni tangga, melewati beberapa padang rumput, beberapa danau dan dua air terjun pendek untuk sampai ke landmark lain yang berada di bawah bukit Hercules Castle (Schloss – Wilhelmshohe). Saya berani menuruni bukit Hercules castle dan menuju ke Schloss – Wilhelmshohe setelah bertanya ke beberapa orang yang saya temui selama di perjalanan menuruni bukit tersebut, apakah ada halte bus di bawah bukit ini? Dan mereka yang saya temui menjawab ada, jadi saya berani-berani aja untuk terus jalan dari Hercules Castle ke Schloss – Wilhelmshohe.

Schloss – Wilhelmshohe

Panik Jilid 2

Setelah puas menikmati mahakarya yang sangat luar biasa dan juga puas berfoto-foto (lagi), saya dan Ima memutuskan untuk pulang karena jam juga sudah menunjukkan pukul 17.30 waktu setempat dan kereta yang akan membawa saya kembali ke Frankfurt berangkat pukul 18.29 dari Kassel. Memang masih banyak waktu yang tersisa, tapi masalahnya adalah saya tidak memiliki jadwal serta nama stasiun trem ataupun bus yang akan membawa saya menuju stasiun Kassel-Wilhelmshoohe (saya tidak mungkin kembali lagi ke puncak bukit tempat bus saya tadi menurunkan saya karena terlalu jauh).

Sama seperti saat saya akan berangkat ke Hercules Castle dari stasiun Kassel-Wilhelmshoohe, saya juga pontang-panting lari-lari, nyeberang sana-sini, tanya kesana-kemari ke beberapa orang yang saya temui, dimana stasiun trem atau halte bus yang dapat membawa saya menuju stasiun Kassel-Wilhelmshoohe. Saya sangat takut saya ketinggalan kereta yang ke Frankfurt jika saya tidak menemukan stasiun trem atau bus dengan cepat. Karena artinya apa kalau saya sampai ketinggalan kereta ke Frankfurt? Artinya, saya memiliki kemungkinan juga untuk ketinggalan pesawat, kalau hal ini terjadi, saya berarti juga memiliki kemungkinan untuk dideportasi dari Jerman! Sungguh hal yang memiliki risiko sangat tinggi, mengingat saya tadi juga sudah masuk salah satu kantor polisi yang ada di Jerman.

Pertolongan Allah

Petunjuk Allah selalu ada, akhirnya saya menemukan stasiun trem (yang tempatnya nyempil dibalik rimbunan pohon) dan kebetulan trem yang saat itu sedang berhenti adalah trem yang akan menuju stasiun Kassel-Wilhelmshoohe. Dengan sangat gembira saya mengucap syukur pada Allah karena telah menunjukkan dimana stasiun trem dan juga langsung menemukan trem yang akan membawa saya ke stasiun Kassel-Wilhelmshoohe. Ternyata perjalanan dari stasiun trem (saya tidak tahu namanya apa) ke stasiun Kassel-Wilhelmshoohe tidak membutuhkan waktu lama (sangat dekat sekali dengan kota Kassel, artinya saya berjalan cukup jauh dari Hercules Castle).

Saya lega setelah sampai di stasiun Kassel-Wilhelmshoohe. Saya menunggu kereta yang akan membawa saya menuju Frankfurt kembali selama 30 menit.

Panik Jilid 3

Saya dan Ima sampai di Frankfurt jam setengah sembilanan malam waktu setempat. Saya langsung mencari Rahmat, karena waktu itu yang akan pulang bersama saya adalah Rahmat, sedangkan Ima baru pulang keesokan harinya.

Untuk bisa bertemu lagi dengan Rahmat saya harus lari-lari dulu dari stasiun ke wartel terdekat untuk menelepon Rahmat (karena pulsa ponsel saya habis) dan mengelilingi stasiun Frankfurt untuk mencari sesosok yang bernama Rahmat. Tapi jangan disangka masalah selesai setelah saya akhirnya bisa ketemu Rahmat!

Di waktu yang sangat sempit dengan jadwal penerbangan, ada masalah baru. Saya tidak tahu cara membeli tiket kereta menggunakan mesin karena bahasa yang ada di mesin itu adalah bahasa Jerman (atau saya yang terlalu kampungan, sehingga nggak tahu bagaimana caranya mengganti ke bahasa Inggris? Entahlah…). Intinya saya tidak bisa mengoperasikan mesin itu! *Kampungan mode on*.

Dengan paniknya, Rahmat bertanya plus minta tolong pada petugas stasiun cara mengoperasikan mesin itu. Tapi karena petugas yang ada pada cuek dan jutek, saya dan Rahmat dibiarin aja bingung dan panik sendiri di depan kotak yang mirip ATM! Huh, kesel deh kalo nemuin orang Jerman yang rese’ kayak gitu! Tapi akhirnya kami bisa mengoperasikan mesin itu, dan dua tiket kereta bawah tanah ke bandara Frankfurt ada di genggaman saya! J (senyum penuh kemenangan, bisa juga naklukin bahasa Jerman! Walopun cuman dengan modal ngira-ngira! Hohoho… :P).

Sampai di Bandara Frankfurt yang sangat luas itu, nggak ada masalah yang berarti karena sebelumnya saya sudah pengalaman kesana saat sehari sebelumnya mengantar Puspa.

Nah, pas waktu nunggu pesawat, saya iseng ngebuka-buka tiket-tiket kereta yang saya beli untuk hari itu. Dan saya terhenyak saat tahu kalau tiket yang saya beli untuk ke Kassel tadi pagi bisa digunakan selama satu hari di wilayah Hessen (maksudnya satu Provinsi Hessen. Frankfurt dan Kassel termasuk dalam Provinsi Hessen). Dan tiket itu juga berlaku untuk kereta antar kota (kayak bus aja, antar kota antar provinsi. Hehehe… :D), bus dan juga trem. Ya ampyuuunnnn, ngapain saya tadi sampe kayak orang autis waktu panik nggak bisa ngoperasiin mesin tiket? Dan juga 3,7 euro melayang dah… Kan lumayan juga tuh kalo di-kurs-in ke rupiah bisa jadi 50ribu-an… bisa buat makan 2-3 hari (hahaha… Dasar anak kostan! :P)

Yah, beginilah cerita kalo anak kampung ke luar negeri dan nggak ada pemandu sama sekali… 😀

Kenangan hari terakhir

Yang pasti, saya tidak akan pernah melupakan dan menghapus memori saya akan pengalaman hari terakhir di Jerman, terutama Kassel dan Hercules Castle-nya (pengalaman ini sekaligus memberikan pelajaran bagi saya, saat nanti menjadi bekpeker beneran). Jika saya berkesempatan untuk ke Jerman lagi, saya akan ke Kassel dan mengunjungi Hercules Castle sekali lagi. Bisa dibilang Kassel itu Bandung-nya Jerman lah… Inilah sebabnya konglomerat Jerman banyak yang memiliki villa disana.

Kassel merupakan salah satu kota cantik yang ada di Jerman. Saya berani merekomendasikan pada Anda untuk mengunjungi Kassel jika memiliki kesempatan ke Jerman. Saya jamin Anda pasti tidak akan menyesal J.

Bogor, 5 November 2009 00:52

~Okvina Nur Alvita

11 thoughts on “Cerita Bekpeker Dadakan (Full Version)

  1. Okvina Nur Alvita says:

    hai vita, lucu dan seru lo ceritanya, seneng banget ngebacanya. go on writing and sukses selalu

    (diyan-komentar dari blog wordpress saya)

  2. Adi says:

    kereeeen vin…

  3. rani says:

    mbak, ada rekomendasi tempat2 yg bisa dikunjungi selama di frankfurt? terimakasih

  4. faisal alif says:

    pengalaman yg indah n bermakna jd inspirasi buat ku n menambah kuatkan hati ku untuk melancong kenegeri

  5. adit serede says:

    seru seru bgt pengalamanya…

  6. Lulu says:

    Gak sengaja menemukan blog ini. Pengalaman-pengalaman travelingnya menarik.
    Apalagi yang ASEAN tur dan Jerman ini.

    Saya sempat tinggal di Kassel -lalu pindah ke Mainz, dekat Frankfurt. Begitu baca post ini, saya bergumam, “Wah, ada juga ‘turis’ Indonesia yang mampi Kassel. Karena biasanya mereka ke Berlin, Heidelberg, Muenchen, atau Frankfurt/Main.

    Gak menyesal kan ke Herkules? Pemandangannya keren. Apalagi kalau Sommer, ada pertunjukan air terjun. Bagus banget.

    Ngecengin polisi Jerman? Saya juga pernah, Mba! Polisi-polisi Jerman memang cakep-cakep. Gagah gitu!

    Dulu, waktu tingga di Mainz, saya sering mampir ke Wisma Indonesia, dan saya gak menemukan kesulitan keluar masuk situ. Tapi itu tahun 2007-2008, Pak Konjennya baik hati. Beliau habis masa jabatannya di Jerman tahun 2008, setelah itu diganti. Mungkin yang baru ini agak ‘rese’. Mungkin ya.

    Anyway, nice post. Benar-benar mengingatkan saya pada Jerman. Lima setengah tahun tinggal di sana, sudah seperti kampung halaman kedua setelah Indonesia.

    1. kinanti rahma says:

      Mbk Lulu dkk, apakah punya kenalan di Jerman misalnya mahasiswa Indonesia unt bs bantu jd guide. Rencana sy akan ke Jerman ke Frankfurt Oktober nanti. semoga mbk Lulu dkk bisa membantu sy ya. Jika ada info mohon bs di share ke harlinawati2000@yahoo.com..terima kasih sebelumnya teman2.

  7. Tri Iriani says:

    Sayangnya kota yang dikunjungi hanya Mannheim, Kassel, Hedelberg dan Frankfurt. Padahal puluhan kota dan destinasi indah masih banyak, seperti Boden See, Lindau, Cologne, Munster, Dusseldorf, Bonn, Berlin, Stuttgart, Dresden , Ulm, Munich dan masih banyak lagi. Saya hapal kota tersebut karena pernah tinggal di Jerman dan berpindah pindah kota . Setelah pulang ke Indonesia tahun 2004, tahun 2011 dapat kesempatan 1 bulan ke Jerman lagi dan saya keliling Eropa Timur, ke Zagreb, Prague, Bratistlava, Wina, Austria, Hungaria..dll. Tahun 2003-2004 saya sudah mengunjungi 12 negara Eropa dan tahun 2011 5 negara Eropa Timur. Pokoknya Eropa is the best……..

  8. Fajar Maulana says:

    sy mau backpaker ke kassel, jerman kira2 sulit gk ya mba ?

    1. Ladies Traveler says:

      Nggak sulit kok. Tinggal naik kereta dari frankfurt

  9. Fajar Maulana says:

    kalo backpaker ke kassel sulit gk ya mba?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *